Harga Bitcoin Mulai Lesu, 3 Altcoin Ini Jadi Sorotan Jelang Juni 2026

AKURAT.CO Bitcoin kembali mengalami tekanan tajam setelah harga aset kripto terbesar dunia itu turun di bawah level USD73.000 pada perdagangan 28 Mei 2026.
Koreksi tersebut langsung memicu gelombang aksi jual di pasar altcoin, terutama aset berbasis artificial intelligence (AI), decentralized finance (DeFi), hingga identitas digital.
Penurunan pasar kali ini terjadi di tengah meningkatnya arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot serta memanasnya ketegangan geopolitik global yang mendorong investor mengurangi aset berisiko.
Dampaknya, pasar kripto mengalami likuidasi leverage besar-besaran hanya dalam waktu singkat.
Baca Juga: Tak Lagi Ikut Tren, Investor Kripto RI Mulai Pahami Risiko Pasar
Sejumlah altcoin dengan kapitalisasi besar ikut terseret dalam tekanan pasar tersebut. Tiga token yang paling banyak menjadi perhatian menjelang Juni 2026 yakni NEAR Protocol (NEAR), Injective (INJ), dan Worldcoin (WLD).
NEAR Protocol tercatat menjadi salah satu altcoin yang masih menunjukkan ketahanan struktural meski terkoreksi dalam perdagangan harian. Berdasarkan data pasar per 28 Mei 2026, token ini diperdagangkan di kisaran USD2,35 atau turun sekitar 7% dalam 24 jam terakhir.
Meski demikian, penurunan tersebut terjadi setelah reli panjang dalam beberapa pekan terakhir. Secara mingguan, NEAR masih mencatat kenaikan 35,2%, sedangkan secara bulanan melonjak sekitar 74%.
Kapitalisasi pasar NEAR kini berada di kisaran US$3,05 miliar dan menempatkannya di posisi ke-34 aset kripto terbesar dunia. Sementara volume perdagangan hariannya mencapai sekitar USD811 juta, meski turun 20,6% dibanding sesi sebelumnya.
Analis kripto, Michaël van de Poppe menilai, koreksi tersebut masih tergolong sehat dan lebih menyerupai aksi ambil untung pasar dibanding perubahan tren besar.
Baca Juga: Apa Itu Polymarket? Mengapa Prediksi tentang Prabowo Viral di Platform Kripto Ini?
Ia menjelaskan bahwa skenario pertama akan muncul apabila harga turun di bawah USD2,30. Dalam kondisi itu, pasar berpotensi mengalami rebound jangka pendek sekitar 8% hingga 15%.
Namun jika tekanan jual berlanjut hingga di bawah USD2, bahkan menuju USD1,70, area tersebut dinilai menarik untuk akumulasi jangka panjang.
Sementara pada skenario kedua, apabila harga mampu kembali naik ke atas USD3, investor diperkirakan mulai melakukan rotasi keuntungan ke aset kripto lain yang belum mengalami reli signifikan.
Secara fundamental, NEAR juga dinilai memiliki risiko dilusi yang relatif rendah. Rasio market capitalization terhadap fully diluted valuation (FDV) tercatat berada di angka 1,0, yang berarti hampir seluruh suplai token telah beredar di pasar dan tidak ada ancaman unlock token besar dalam waktu dekat.
Selain NEAR, altcoin lain yang ikut menjadi perhatian pasar adalah Injective (INJ). Blockchain layer-1 yang fokus pada perdagangan derivatif decentralized dan tokenisasi aset dunia nyata atau real world assets (RWA) ini diperdagangkan di level USD5,34 setelah turun 8% secara harian.
Meski terkoreksi, performa bulanan INJ masih tergolong solid. Dalam 30 hari terakhir, token tersebut tercatat naik sekitar 48% dan menguat 7,8% secara mingguan.
Kapitalisasi pasar Injective kini berada di kisaran USD533 juta dan menempatkannya di posisi ke-98 aset kripto global. Volume perdagangan harian juga mengalami penurunan sekitar 16,9%, menandakan investor mulai menahan transaksi di tengah volatilitas tinggi.
Analis kripto, Nugraha melalui akun X menyebut Injective masih relatif lebih kuat dibanding Bitcoin dalam fase koreksi terbaru pasar.
Menurutnya, tekanan baru akan meningkat apabila harga turun menembus area USD5,28 hingga USD5,44. Namun selama bertahan di atas area tersebut, momentum bullish dinilai belum sepenuhnya hilang.
Sama seperti NEAR, Injective juga memiliki rasio market cap terhadap FDV di angka 1,0. Kondisi ini menandakan tidak ada tambahan suplai token besar yang berpotensi membanjiri pasar dalam waktu dekat.
Untuk proyeksi Juni 2026, level USD4,80 menjadi area support penting yang dipantau investor. Jika level tersebut bertahan, peluang pemulihan menuju USD6 masih terbuka. Sebaliknya, penurunan di bawah support berpotensi memperbesar tekanan jual.
Di sisi lain, tekanan paling dalam terjadi pada Worldcoin (WLD). Token proyek identitas digital berbasis blockchain tersebut anjlok hampir 20% dalam sehari dan diperdagangkan di sekitar USD0,2918.
Penurunan itu membuat WLD semakin dekat dengan level terendah sepanjang masanya. Sebelumnya, token ini sempat mencetak all time low di USD0,2303 pada 18 Mei 2026.
Jika dibandingkan dengan harga puncaknya di USD11,74, nilai Worldcoin kini telah terkoreksi sekitar 97,5%.
Volume perdagangan harian WLD juga anjlok hingga 48,1%, mencerminkan melemahnya minat beli investor di tengah tren bearish pasar.
Analis kripto DyorNetCrypto menyebut Worldcoin sebenarnya sempat menunjukkan sinyal teknikal positif setelah breakout dari garis tren dan indikator Supertrend memunculkan sinyal beli. Namun indikator Relative Strength Index (RSI) yang berada di level 77,6 menunjukkan kondisi overbought yang rawan memicu koreksi lanjutan.
Berbeda dengan NEAR dan INJ, Worldcoin juga menghadapi risiko dilusi suplai yang jauh lebih besar. Rasio suplai beredar terhadap total suplai token hanya berada di kisaran 0,34, yang berarti masih ada miliaran token terkunci yang berpotensi dilepas ke pasar di masa mendatang.
Kondisi itu dinilai dapat menciptakan tekanan jual tambahan, terutama ketika sentimen pasar sedang melemah.
Secara historis, pasar altcoin memang kerap mengalami tekanan lebih besar dibanding Bitcoin saat volatilitas meningkat. Fenomena serupa juga pernah terjadi pada siklus bearish 2022 ketika kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat dan keluarnya dana institusional memukul pasar kripto global.
Kini, pola serupa mulai terlihat kembali seiring investor global mengurangi eksposur terhadap aset berisiko akibat ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Menjelang Juni 2026, pasar diperkirakan masih bergerak volatil dengan fokus utama investor tertuju pada arus dana ETF Bitcoin, kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, serta perkembangan konflik geopolitik global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










