Akurat Logo

Media Malaysia Soroti Pelemahan Rupiah, Mengapa Justru Dianggap Peluang bagi Pariwisata Indonesia?

Idham Nur Indrajaya | 2 Juni 2026, 20:37 WIB
Media Malaysia Soroti Pelemahan Rupiah, Mengapa Justru Dianggap Peluang bagi Pariwisata Indonesia?
Media Malaysia soroti pelemahan rupiah yang dinilai bisa meningkatkan kunjungan wisatawan asing ke Indonesia. Ini analisis lengkapnya. Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Pelemahan rupiah biasanya identik dengan sentimen negatif. Banyak orang langsung mengaitkannya dengan tekanan ekonomi, kenaikan harga barang impor, hingga melemahnya daya beli masyarakat. Namun menariknya, media Malaysia justru melihat sisi lain dari fenomena tersebut.

Media Malaysia, The Star, baru-baru ini menyoroti pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan bagaimana pemerintah Indonesia memandang kondisi tersebut sebagai peluang untuk meningkatkan kunjungan wisatawan asing. Alih-alih hanya membahas risiko ekonomi, media tersebut menyoroti potensi Indonesia menjadi destinasi wisata yang semakin terjangkau bagi wisatawan mancanegara.

Jawaban Cepat: Mengapa Media Malaysia Menyoroti Pelemahan Rupiah?

Media Malaysia menyoroti pelemahan rupiah karena kondisi tersebut membuat biaya berwisata di Indonesia menjadi lebih murah bagi wisatawan asing.

Beberapa alasan utamanya adalah:

  • Daya beli wisatawan asing meningkat saat berkunjung ke Indonesia.

  • Harga akomodasi, transportasi, dan kuliner menjadi relatif lebih terjangkau.

  • Pemerintah Indonesia melihat peluang untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara.

  • Indonesia menargetkan 16–17 juta wisatawan asing melalui strategi pariwisata berbasis pengalaman.

Dengan kata lain, pelemahan rupiah tidak hanya dipandang sebagai isu ekonomi, tetapi juga sebagai faktor yang dapat meningkatkan daya tarik sektor pariwisata nasional.

Mengapa The Star Memberitakan Pelemahan Rupiah?

Dalam artikelnya, The Star mengutip pernyataan Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa yang menyebut bahwa tren nilai tukar saat ini berpotensi mendorong lebih banyak wisatawan asing memilih Indonesia sebagai destinasi utama.

Media tersebut juga menyoroti langkah pemerintah yang memperkuat promosi wisata untuk memanfaatkan daya saing harga yang muncul akibat depresiasi rupiah.

Menariknya, framing yang digunakan The Star berbeda dengan pemberitaan ekonomi pada umumnya. Jika sebagian besar media cenderung fokus pada risiko pelemahan mata uang, The Star justru mengangkat bagaimana perubahan kurs dapat menciptakan peluang baru bagi industri pariwisata.

Sudut pandang ini menunjukkan bahwa nilai tukar mata uang tidak selalu dipersepsikan sama oleh setiap sektor. Apa yang dianggap tantangan bagi sebagian pelaku ekonomi, bisa menjadi peluang bagi sektor lain.

Apa yang Disampaikan Pemerintah Indonesia?

Dalam pemberitaan tersebut, Ni Luh Puspa menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dapat meningkatkan daya tarik Indonesia di mata wisatawan asing.

Ia menyatakan bahwa kondisi nilai tukar saat ini memungkinkan wisatawan mancanegara tidak hanya memilih Indonesia sebagai tujuan utama, tetapi juga memperpanjang masa tinggal mereka.

"Kementerian telah mengintensifkan kampanye promosi untuk memanfaatkan daya saing harga ini," demikian dikutip The Star dari pernyataan Ni Luh Puspa.

Selain itu, pemerintah menargetkan 16–17 juta kunjungan wisatawan asing. Target tersebut menunjukkan ambisi Indonesia untuk melampaui capaian sebelum pandemi Covid-19 yang sempat mengguncang industri pariwisata nasional.

Namun pemerintah tidak hanya berfokus pada jumlah wisatawan. Menurut Ni Luh Puspa, arah kebijakan pariwisata juga mengedepankan konsep experience-based tourism atau pariwisata berbasis pengalaman.

Artinya, wisatawan tidak sekadar datang dan berfoto di destinasi populer, tetapi juga mendapatkan pengalaman budaya, kuliner, hingga interaksi lokal yang lebih mendalam.

Baca Juga: Pelemahan Rupiah Jadi Sorotan di Ruang Digital, Momen Membangun Literasi dan Pemahaman Masyarakat akan Nilai Tukar

Benarkah Rupiah Melemah Bisa Menguntungkan Pariwisata?

Secara teori ekonomi, jawabannya adalah ya.

Ketika mata uang suatu negara melemah, wisatawan yang membawa mata uang asing akan memperoleh daya beli yang lebih besar.

Mari gunakan ilustrasi sederhana.

Bayangkan seorang wisatawan asal Malaysia membawa RM1.000 untuk berlibur ke Indonesia.

Dengan kurs yang lebih menguntungkan, jumlah uang yang diterima setelah ditukar menjadi rupiah menjadi lebih besar dibandingkan ketika rupiah berada pada posisi yang lebih kuat.

Akibatnya:

  • Hotel terasa lebih murah.

  • Biaya makan menjadi lebih terjangkau.

  • Transportasi lokal lebih ekonomis.

  • Aktivitas wisata menjadi lebih banyak yang bisa dilakukan.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Negara-negara seperti Jepang, Turki, hingga Thailand juga pernah mengalami lonjakan kunjungan wisatawan ketika mata uang mereka melemah terhadap dolar AS atau mata uang regional tertentu.

Di lapangan, yang biasanya terjadi adalah wisatawan memperpanjang masa tinggal atau meningkatkan pengeluaran selama berlibur karena merasa biaya yang dikeluarkan relatif lebih murah.

Inilah alasan mengapa sektor pariwisata sering menjadi salah satu industri yang mendapatkan manfaat dari depresiasi mata uang.

Mengapa Media Asing Melihat Ini Sebagai Peluang?

Ada alasan mengapa media asing tertarik membahas isu ini.

Bagi pembaca di Malaysia maupun negara lain di ASEAN, perubahan nilai tukar secara langsung memengaruhi keputusan perjalanan mereka.

Ketika biaya perjalanan ke suatu negara menjadi lebih murah, minat berwisata cenderung meningkat.

Dari sudut pandang media regional, informasi semacam ini memiliki nilai praktis yang tinggi karena berkaitan dengan:

  • Perencanaan liburan.

  • Biaya perjalanan.

  • Pengeluaran wisata.

  • Pilihan destinasi di Asia Tenggara.

Selain itu, Indonesia merupakan salah satu destinasi wisata terbesar di kawasan ASEAN. Setiap perubahan yang memengaruhi daya tarik wisata Indonesia secara otomatis menjadi perhatian negara-negara tetangga.

Karena itulah, pemberitaan The Star tidak hanya berbicara tentang rupiah, tetapi juga tentang perubahan daya saing pariwisata Indonesia di tingkat regional.

Apa Risiko yang Tetap Harus Diwaspadai?

Meski membawa peluang bagi sektor pariwisata, pelemahan rupiah tetap memiliki risiko yang tidak bisa diabaikan.

Beberapa dampak yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Kenaikan Biaya Impor

Barang-barang yang bergantung pada bahan baku impor berpotensi mengalami kenaikan biaya produksi.

Hal ini dapat berdampak pada berbagai sektor industri di Indonesia.

2. Tekanan Inflasi

Jika biaya impor meningkat, harga sejumlah produk di pasar domestik juga dapat terdorong naik.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi daya beli masyarakat.

3. Beban Perusahaan Berutang Valuta Asing

Perusahaan yang memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar AS akan menghadapi biaya yang lebih tinggi ketika rupiah melemah.

Risiko ini sering menjadi perhatian investor dan pelaku pasar keuangan.

Karena itu, melihat pelemahan rupiah hanya dari sisi positif atau negatif saja merupakan pendekatan yang terlalu sederhana.

Baca Juga: Kemenpar: Rupiah Lemah Bisa Jadi Magnet Baru Wisatawan Asing

Pelemahan Rupiah Tidak Selalu Memiliki Dampak yang Sama bagi Semua Sektor

Inilah bagian yang sering luput dalam pemberitaan singkat.

Pelemahan rupiah bukan peristiwa yang menghasilkan dampak seragam bagi seluruh sektor ekonomi.

Pariwisata berpotensi memperoleh manfaat.

Namun sektor yang bergantung pada impor bisa menghadapi tekanan biaya yang lebih besar.

Di sisi lain, eksportir tertentu justru bisa mendapatkan keuntungan karena pendapatan dalam dolar AS menjadi lebih besar ketika dikonversi ke rupiah.

Paradoks inilah yang menarik dari pemberitaan The Star.

Media tersebut tidak menempatkan pelemahan rupiah semata-mata sebagai simbol masalah ekonomi. Sebaliknya, mereka melihat adanya peluang yang muncul di tengah tekanan nilai tukar.

Pendekatan seperti ini memberikan perspektif yang lebih seimbang bagi pembaca. Dalam ekonomi modern, satu data yang sama sering kali menghasilkan konsekuensi berbeda tergantung sektor yang dianalisis.

Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukan hanya "apakah rupiah melemah?", tetapi juga "siapa yang paling terdampak dan siapa yang paling diuntungkan?".

Kesimpulan

Di mata media Malaysia, pelemahan rupiah bukan sekadar cerita tentang tekanan terhadap mata uang Indonesia. Pemberitaan The Star menunjukkan bahwa kondisi tersebut juga dapat meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai destinasi wisata yang lebih terjangkau bagi wisatawan asing.

Pemerintah Indonesia sendiri melihat peluang tersebut melalui peningkatan promosi dan pengembangan pariwisata berbasis pengalaman guna mengejar target 16–17 juta wisatawan mancanegara.

Meski demikian, pelemahan rupiah tetap membawa risiko bagi sektor tertentu, terutama yang bergantung pada impor dan pembiayaan dalam valuta asing. Karena itu, memahami dampak nilai tukar memerlukan perspektif yang lebih luas daripada sekadar melihat apakah rupiah menguat atau melemah.

Pantau terus perkembangan rupiah, ekonomi, dan sektor pariwisata Indonesia untuk memahami bagaimana perubahan nilai tukar dapat memengaruhi dunia usaha, perjalanan wisata, dan kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Pelemahan Rupiah Memicu Naiknya BIaya Kesehatan, Apakah Premi Asuransi Berpotensi Naik?

Baca Juga: Rupiah Masih Tertekan Konflik Timur Tengah, Risiko Impor Makin Besar

FAQ

Mengapa media Malaysia menyoroti pelemahan rupiah?

Media Malaysia menyoroti pelemahan rupiah karena kondisi tersebut membuat Indonesia menjadi destinasi yang lebih murah bagi wisatawan asing. Dalam perspektif pariwisata regional, nilai tukar yang melemah dapat meningkatkan daya beli wisatawan dan memperkuat daya saing Indonesia dibanding negara tujuan wisata lainnya di Asia Tenggara.

Apakah rupiah melemah selalu berdampak buruk bagi Indonesia?

Tidak selalu. Pelemahan rupiah memang dapat meningkatkan biaya impor dan menekan sektor tertentu, tetapi pada saat yang sama bisa memberikan keuntungan bagi industri pariwisata dan eksportir yang memperoleh pendapatan dalam mata uang asing.

Bagaimana pelemahan rupiah memengaruhi wisatawan asing?

Wisatawan asing memperoleh daya beli yang lebih besar ketika menukar mata uang mereka ke rupiah. Akibatnya, biaya hotel, makanan, transportasi, dan aktivitas wisata di Indonesia menjadi relatif lebih murah dibandingkan sebelumnya.

Berapa target wisatawan asing Indonesia saat ini?

Pemerintah Indonesia menargetkan sekitar 16–17 juta kunjungan wisatawan mancanegara. Target tersebut merupakan bagian dari upaya mempercepat pemulihan sektor pariwisata sekaligus melampaui capaian sebelum pandemi Covid-19.

Apa yang dimaksud dengan pariwisata berbasis pengalaman?

Pariwisata berbasis pengalaman adalah konsep yang menekankan kualitas pengalaman wisatawan selama berkunjung. Fokusnya tidak hanya pada jumlah kunjungan, tetapi juga pada interaksi budaya, kuliner, tradisi lokal, dan pengalaman autentik yang diperoleh wisatawan.

Mengapa kurs rupiah penting bagi sektor pariwisata?

Kurs rupiah memengaruhi biaya perjalanan wisatawan asing. Semakin murah nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara asal wisatawan, semakin besar peluang mereka menghabiskan uang dan memperpanjang masa tinggal selama berada di Indonesia.

Apa risiko ekonomi dari pelemahan rupiah?

Risiko utamanya meliputi kenaikan harga barang impor, tekanan inflasi, dan bertambahnya beban pembayaran utang dalam mata uang asing. Dampak tersebut biasanya dirasakan oleh industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor atau pembiayaan dolar AS.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.