Cadangan Devisa Turun, Rupiah Diperkirakan Sentuh Rp18.230 per USD

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Selasa (9/6/2026) setelah ditutup melemah signifikan pada awal pekan.
Kombinasi penguatan dolar Amerika Serikat (AS), meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, serta penurunan cadangan devisa Indonesia menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan mata uang Garuda.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun berpotensi kembali ditutup melemah pada kisaran Rp18.180-Rp18.230 per USD. Pada perdagangan Senin (8/6/2026), rupiah ditutup melemah 151 poin ke level Rp18.187 per USD dari posisi sebelumnya Rp18.036 per USD.
Baca Juga: Usai UU P2SK, Tokenisasi RWA dan Stablecoin Rupiah jadi Agenda Utama Industri Kripto
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.180 hingga Rp18.230 per USD," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (8/6/2026).
Dari sisi eksternal, sentimen pasar global kembali didominasi oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Serangan Israel terhadap sejumlah target di Iran, termasuk fasilitas petrokimia di wilayah barat daya negara tersebut, memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Laporan media lokal Iran menyebutkan ledakan terdengar di Teheran, Tabriz, dan Isfahan pada Senin pagi.
Kondisi tersebut mengurangi optimisme pasar terhadap kemungkinan berakhirnya konflik kawasan dan memunculkan kembali kekhawatiran mengenai kelancaran distribusi minyak mentah melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.
Ketegangan geopolitik tersebut terjadi di tengah upaya diplomatik yang masih berlangsung. Presiden AS Donald Trump menyatakan peluang tercapainya kesepakatan damai masih terbuka meskipun konflik terus meningkat.
Namun, pasar keuangan global cenderung merespons perkembangan terbaru dengan meningkatkan permintaan terhadap aset-aset safe haven, termasuk dolar AS.
Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga didorong oleh solidnya data ketenagakerjaan Negeri Paman Sam.
Data Non-Farm Payrolls (NFP) menunjukkan ekonomi AS menambah 172 ribu lapangan kerja sepanjang Mei 2026, jauh di atas ekspektasi pasar yang hanya sekitar 85 ribu pekerjaan.
Tidak hanya itu, data April juga direvisi naik menjadi 179 ribu dari sebelumnya 115 ribu pekerjaan. Tingkat pengangguran AS tercatat stabil di level 4,3%.
Data tersebut memperkuat keyakinan pelaku pasar bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), masih memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Fokus investor selanjutnya tertuju pada rilis data inflasi konsumen AS atau Consumer Price Index (CPI) yang dijadwalkan keluar pada Rabu pekan ini.
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada kondisi eksternal Indonesia yang mulai menunjukkan tekanan.
Kekhawatiran investor terhadap kebutuhan pembiayaan berbagai program prioritas pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih, muncul di tengah menyusutnya surplus perdagangan yang selama ini menjadi penopang neraca transaksi berjalan.
Baca Juga: Rupiah Kian Terpuruk! Pecah Rekor Terlemah, Kurs Dolar AS Hari Ini 8 Juni 2026 Tembus Rp18.107
Tekanan juga datang dari potensi kenaikan beban subsidi energi. Lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik Timur Tengah berpotensi meningkatkan kebutuhan anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM), sekaligus memperbesar kebutuhan devisa untuk impor energi.
Di saat yang sama, posisi cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan. Bank Indonesia mencatat cadangan devisa pada akhir Mei 2026 sebesar USD144,9 miliar, turun dibandingkan posisi April 2026 yang mencapai USD146,2 miliar.
Secara historis, posisi tersebut menjadi yang terendah sejak Juni 2024 ketika cadangan devisa berada di level USD140,2 miliar.
Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan level cadangan devisa saat ini masih tergolong aman karena setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Angka tersebut masih jauh di atas standar kecukupan internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor.
Bank Indonesia juga menilai cadangan devisa yang dimiliki saat ini masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga stabilitas makroekonomi nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









