BI Berpotensi Naikkan Suku Bunga hingga 200 Basis Poin Tahun Ini, Pengamat Ungkap Alasannya

AKURAT.CO Bayangkan jika bunga pinjaman kembali naik beberapa kali hingga akhir tahun. Bagi pemilik usaha, pembeli rumah dengan KPR, hingga investor pasar keuangan, kondisi tersebut tentu bukan kabar yang bisa dianggap sepele.
Di tengah keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen, muncul proyeksi yang lebih besar. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan BI berpotensi menaikkan suku bunga hingga total 200 basis poin sepanjang tahun ini apabila tekanan global dan pelemahan rupiah terus berlanjut.
Ringkasan
Bank Indonesia menaikkan BI Rate 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, kenaikan suku bunga kemungkinan belum berakhir.
Jika kondisi global memburuk dan rupiah terus tertekan, BI berpotensi menaikkan suku bunga hingga total 200 basis poin sepanjang tahun.
Langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, dan menarik kembali aliran modal asing ke Indonesia.
Mengapa Ibrahim Assuaibi Memperkirakan BI Masih Akan Menaikkan Suku Bunga?
Keputusan terbaru Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,50 persen sebenarnya bukan kejutan besar bagi pelaku pasar. Namun, yang menarik adalah pandangan Ibrahim Assuaibi mengenai kemungkinan arah kebijakan BI ke depan.
Menurut Ibrahim, Bank Indonesia sejauh ini telah menunjukkan keseriusan dalam mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah. Bahkan, ia menilai langkah kenaikan suku bunga yang dilakukan saat ini sudah berada pada momentum yang tepat.
"Bank Indonesia sangat tepat sekali dalam membuat satu kebijakan dengan menaikkan suku bunga," kata Ibrahim melalui pesan suara kepada awak media, Selasa, 9 Juni 2026.
Ia menjelaskan bahwa sebelumnya dirinya memperkirakan total kenaikan suku bunga BI sepanjang tahun hanya sekitar 100 basis poin. Namun perkembangan ekonomi global membuat perhitungannya berubah.
"Kalau kondisi global masih memburuk, kemungkinan besar Bank Indonesia sampai akhir tahun akan menaikkan suku bunga 200 basis poin," ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan ekonomi global masih dianggap sebagai ancaman serius terhadap stabilitas rupiah dan pasar keuangan Indonesia.
Apa yang Membuat Rupiah Masih Rentan Tertekan?
Dalam keterangan resminya, Bank Indonesia menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi beberapa faktor sekaligus.
Selain gejolak global yang belum sepenuhnya mereda, tingginya kebutuhan valuta asing di dalam negeri serta keluarnya investasi portofolio asing turut memberikan tekanan terhadap mata uang Indonesia.
Ibrahim menilai pelemahan rupiah yang sempat mencapai kisaran Rp18.200 per dolar AS menjadi salah satu alasan utama perlunya kebijakan yang lebih agresif.
Meski tensi geopolitik sempat mereda setelah muncul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait konflik Israel dan Iran, pasar keuangan global masih berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian.
Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman. Akibatnya, negara berkembang seperti Indonesia berisiko mengalami arus keluar modal yang dapat menekan nilai tukar.
Seberapa Besar Kenaikan 200 Basis Poin bagi Perekonomian?
Bagi sebagian masyarakat, angka 200 basis poin mungkin terdengar kecil. Padahal dalam dunia moneter, kenaikan tersebut tergolong signifikan.
Sebagai ilustrasi, 200 basis poin setara dengan kenaikan 2 persen.
Artinya, apabila BI Rate saat ini berada di level 5,50 persen dan benar-benar naik total 200 basis poin, maka suku bunga acuan berpotensi mencapai kisaran 7,50 persen.
Level tersebut akan menjadi salah satu tingkat suku bunga tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Kenaikan sebesar itu biasanya hanya dilakukan ketika bank sentral menghadapi tekanan serius terhadap inflasi, stabilitas mata uang, atau risiko keluarnya modal asing dalam jumlah besar.
Karena itu, prediksi Ibrahim sebenarnya bukan sekadar angka, melainkan cerminan besarnya tantangan ekonomi yang sedang dihadapi Indonesia.
Baca Juga: BI Minta Perbankan Tahan Bunga Kredit Meski Suku Bunga Naik
Baca Juga: Rupiah Tertekan, Ekonom Minta BI Tiru Strategi Brasil Keluar dari Krisis
Apa Dampaknya bagi Kredit, KPR, dan Dunia Usaha?
Jika BI benar-benar melanjutkan kenaikan suku bunga secara agresif, dampaknya akan terasa hingga ke tingkat rumah tangga.
Bagi masyarakat yang memiliki kredit berbunga mengambang, kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan beban cicilan.
Hal serupa juga dapat terjadi pada pelaku usaha yang mengandalkan pembiayaan perbankan untuk ekspansi bisnis.
Misalnya, seorang pemilik usaha makanan yang berencana membuka cabang baru dengan pinjaman bank kemungkinan akan menghadapi biaya pendanaan yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
Namun tidak semua pihak dirugikan.
Nasabah yang menyimpan dana dalam deposito atau instrumen pendapatan tetap berpotensi menikmati imbal hasil yang lebih menarik.
Inilah alasan mengapa kebijakan suku bunga selalu menciptakan dampak yang berbeda bagi setiap kelompok masyarakat.
Apakah Kenaikan Suku Bunga Bisa Menyelamatkan Rupiah?
Pertanyaan ini menjadi salah satu yang paling sering muncul ketika BI menaikkan suku bunga.
Secara teori, kenaikan suku bunga dapat membantu memperkuat rupiah karena membuat aset keuangan Indonesia lebih menarik bagi investor asing.
Namun dalam praktiknya, hasilnya tidak selalu sesederhana itu.
Menurut Ibrahim, penguatan rupiah yang muncul setelah kenaikan suku bunga berpotensi hanya bersifat sementara apabila faktor lain tidak ikut dibenahi.
"Penguatan mata uang rupiah ini hanya bersifat sementara karena belum ada satu kepastian tentang fiskal yang kita lihat masih defisit," katanya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa investor tidak hanya memperhatikan suku bunga.
Mereka juga melihat kesehatan fiskal negara, arah kebijakan ekonomi, serta kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar.
Dengan kata lain, suku bunga tinggi memang bisa membantu menarik modal masuk, tetapi tidak cukup untuk menciptakan stabilitas jangka panjang tanpa dukungan kebijakan ekonomi yang lebih luas.
Analisis: Apakah Indonesia Memasuki Era Suku Bunga Tinggi?
Ada paradoks yang menarik dalam situasi saat ini.
Bank Indonesia telah melakukan berbagai langkah untuk menjaga rupiah.
Mulai dari intervensi pasar, pengelolaan likuiditas, hingga menaikkan suku bunga secara bertahap.
Namun tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya hilang.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar global saat ini tidak hanya menilai apa yang dilakukan bank sentral hari ini, tetapi juga apa yang mungkin terjadi besok.
Investor melihat ekspektasi.
Mereka menilai risiko.
Mereka menghitung kemungkinan terjadinya perlambatan ekonomi, konflik geopolitik, dan perubahan arah kebijakan pemerintah.
Dalam konteks tersebut, prediksi kenaikan hingga 200 basis poin sebenarnya dapat dibaca sebagai sinyal bahwa risiko ekonomi global masih jauh dari selesai.
Semakin tinggi tekanan eksternal, semakin besar kemungkinan BI harus mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Simulasi: Dua Skenario yang Bisa Terjadi
Skenario Pertama: Tekanan Global Mereda
Jika konflik geopolitik mereda, aliran modal asing kembali masuk, dan rupiah mulai stabil, Bank Indonesia kemungkinan tidak perlu menaikkan suku bunga secara agresif.
Dalam situasi ini, biaya pinjaman dapat lebih terkendali, dunia usaha memiliki ruang ekspansi yang lebih besar, dan pertumbuhan ekonomi berpotensi tetap terjaga.
Skenario Kedua: Tekanan Global Berlanjut
Sebaliknya, apabila ketidakpastian global meningkat dan rupiah kembali melemah, BI mungkin harus melanjutkan kenaikan suku bunga.
Dalam kondisi ini, cicilan kredit berpotensi meningkat, biaya pendanaan usaha menjadi lebih mahal, dan aktivitas ekonomi dapat melambat.
Namun langkah tersebut mungkin tetap diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi.
Tantangan Terbesar Ada pada Kepercayaan Pasar
Di balik seluruh perdebatan mengenai suku bunga, ada satu faktor yang sering luput dari perhatian publik, yakni kepercayaan pasar.
Ibrahim menilai Bank Indonesia sudah melakukan berbagai langkah untuk mempertahankan stabilitas rupiah.
"Bank Indonesia sudah all out dalam melakukan intervensi di pasar," ujarnya.
Karena itu, menurutnya, dukungan kebijakan pemerintah menjadi sangat penting agar pasar melihat adanya keselarasan antara kebijakan moneter dan fiskal.
Tanpa kepercayaan tersebut, kenaikan suku bunga yang agresif sekalipun belum tentu mampu memberikan efek yang bertahan lama.
Penutup
Prediksi Ibrahim Assuaibi bahwa BI berpotensi menaikkan suku bunga hingga total 200 basis poin sepanjang tahun ini memberikan gambaran bahwa tantangan ekonomi Indonesia masih cukup besar. Meski Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate menjadi 5,50 persen untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, tekanan global serta ketidakpastian pasar masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
Pada akhirnya, arah suku bunga tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekonomi dalam negeri, tetapi juga perkembangan geopolitik global, arus investasi asing, dan tingkat kepercayaan pasar terhadap kebijakan pemerintah. Pantau terus perkembangan kebijakan Bank Indonesia, pergerakan rupiah, dan dinamika ekonomi global untuk memahami arah perekonomian Indonesia dalam beberapa bulan mendatang.
Baca Juga: Mengapa Nilai Tukar Rupiah Naik dan Turun? Ini Penjelasan Sederhananya
Baca Juga: Rupiah Terpuruk ke Rekor Terendah, Seberapa Kuat Ketahanan Perbankan Indonesia?
FAQ
Apakah Bank Indonesia benar-benar bisa menaikkan suku bunga hingga 200 basis poin pada 2026?
Kemungkinan tersebut terbuka jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut dan kondisi ekonomi global semakin memburuk. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai kenaikan suku bunga BI hingga total 200 basis poin dapat terjadi apabila gejolak geopolitik, arus keluar modal asing, dan pelemahan nilai tukar rupiah masih menjadi ancaman bagi stabilitas ekonomi Indonesia. Namun keputusan akhir tetap akan bergantung pada perkembangan inflasi, kondisi pasar keuangan, dan hasil evaluasi Bank Indonesia dalam setiap Rapat Dewan Gubernur.
Mengapa pelemahan rupiah bisa mendorong BI menaikkan suku bunga?
Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, biaya impor barang dan bahan baku menjadi lebih mahal sehingga berisiko meningkatkan inflasi. Dalam situasi seperti itu, Bank Indonesia biasanya menggunakan instrumen suku bunga acuan untuk menarik aliran modal asing dan meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik. Dengan masuknya dana investasi ke Indonesia, permintaan terhadap rupiah dapat meningkat sehingga membantu menstabilkan nilai tukar.
Apa dampak kenaikan suku bunga BI bagi cicilan KPR dan kredit kendaraan?
Kenaikan BI Rate berpotensi memengaruhi bunga pinjaman perbankan, terutama kredit dengan skema bunga mengambang. Jika suku bunga acuan terus naik, cicilan KPR, kredit kendaraan, maupun pinjaman usaha dapat ikut meningkat dalam beberapa waktu ke depan. Karena itu, masyarakat yang memiliki kewajiban kredit perlu memperhatikan arah kebijakan moneter Bank Indonesia karena dapat berdampak langsung pada pengeluaran bulanan mereka.
Apakah kenaikan suku bunga selalu membuat rupiah menguat?
Tidak selalu. Kenaikan suku bunga memang dapat membantu memperkuat rupiah karena meningkatkan imbal hasil investasi di Indonesia. Namun pasar keuangan tidak hanya melihat tingkat suku bunga. Investor juga mempertimbangkan kondisi fiskal pemerintah, prospek pertumbuhan ekonomi, stabilitas politik, dan risiko global. Jika faktor-faktor tersebut dianggap kurang mendukung, penguatan rupiah setelah kenaikan suku bunga bisa bersifat sementara.
Bagaimana dampak suku bunga tinggi terhadap dunia usaha?
Suku bunga yang lebih tinggi umumnya membuat biaya pinjaman menjadi lebih mahal sehingga dapat menekan ekspansi bisnis. Perusahaan yang bergantung pada kredit untuk menambah modal kerja atau membuka cabang baru mungkin akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Di sisi lain, kebijakan ini juga memiliki manfaat karena dapat menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi, yang pada akhirnya membantu menciptakan kepastian ekonomi bagi pelaku usaha dalam jangka panjang.
Mengapa investor asing memperhatikan kebijakan suku bunga Bank Indonesia?
Investor asing selalu memantau suku bunga acuan karena tingkat bunga memengaruhi potensi keuntungan investasi di suatu negara. Ketika BI Rate naik, obligasi dan instrumen keuangan Indonesia biasanya menawarkan imbal hasil yang lebih menarik dibanding sebelumnya. Namun selain suku bunga, investor juga memperhatikan stabilitas ekonomi, kondisi fiskal, cadangan devisa, serta kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar agar investasi yang mereka tanamkan tetap aman.
Apa yang terjadi jika BI tidak menaikkan suku bunga saat rupiah terus melemah?
Jika tekanan terhadap rupiah terus meningkat sementara suku bunga tidak disesuaikan, risiko keluarnya modal asing dapat semakin besar. Kondisi tersebut berpotensi mempercepat pelemahan rupiah dan meningkatkan harga barang impor yang pada akhirnya mendorong inflasi. Karena itu, kenaikan suku bunga sering digunakan sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, mengendalikan ekspektasi inflasi, dan mempertahankan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cara Nonton Piala Dunia 2026 Gratis di HP dan Laptop Lewat Link Resmi
- 2Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan: Analisis Lengkap, Head to Head, dan Susunan Pemain
- 3Di Balik Penolakan Keras Singapura ke Ekspor Satu Pintu DSI: Risiko Kehilangan Ratusan Miliar Dolar Arus Ekspor dan Devisa
- 4Menkeu Purbaya Tidak Diganti, Rupiah dan IHSG Kompak Meroket
- 5Prediksi Skor Senegal vs Arab Saudi 10 Juni 2026, lengkap dengan Statistik Head to Head dan Susunan Pemain
- 6Prediksi Skor Korea Selatan vs Ceko di Piala Dunia 2026, Lengkap dengan Riwayat Head to Head dan Susunan Pemain
- 7Prediksi Skor Belgia vs Mesir Lengkap dengan Statistik Head to Head dan Susunan Pemain
- 8Prediksi Skor Portugal vs Nigeria: Skor, Head to Head, Susunan Pemain, dan Analisis Peluang Menang Jelang Piala Dunia 2026
- 9Kelelahan Usai Pergi Haji, Bos Maktour Minta Pemeriksaan KPK Dijadwal Ulang
- 10Prabowo: Kunjungan Presiden Jerman Jadi Momentum Penting di Tengah Dinamika Global







