Rumah Tangga Indonesia Mulai Mengorbankan Masa Depan Demi Bertahan Hari Ini, Ini Temuan Mengejutkan Survei Sun Life 2026

AKURAT.CO Pernah merasa gaji masih sama, tetapi uang di rekening terasa lebih cepat habis dibanding beberapa tahun lalu? Atau mungkin dana tabungan yang dulu disisihkan untuk investasi, pendidikan anak, bahkan dana pensiun kini mulai digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?
Fenomena tersebut ternyata bukan hanya dirasakan oleh segelintir orang. Di tengah kenaikan biaya hidup yang terus menekan pengeluaran rumah tangga, banyak keluarga Indonesia mulai mengubah prioritas keuangan mereka. Masa depan yang sebelumnya direncanakan dengan matang perlahan tergeser oleh kebutuhan untuk bertahan hari ini.
Ringkasan
Survei Financial Resilience Index 2026 yang dilakukan Sun Life Indonesia bersama Genpop menunjukkan bahwa 80% masyarakat Indonesia merasakan tekanan akibat kenaikan biaya hidup. Dampaknya, sebagian masyarakat mulai menggunakan tabungan, mengurangi pengeluaran penting, hingga menunda dana pensiun untuk memenuhi kebutuhan saat ini. Kondisi ini berpotensi melemahkan ketahanan finansial jangka panjang jika tidak diimbangi dengan perencanaan dan literasi keuangan yang memadai.
Mengapa Kenaikan Biaya Hidup Membuat Rumah Tangga Mengubah Prioritas Keuangan?
Data terbaru dari survei Financial Resilience Index 2026 Sun Life Indonesia memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai kondisi keuangan masyarakat saat ini. Survei yang melibatkan 1.000 responden berusia 18 tahun ke atas dari berbagai wilayah Indonesia menemukan bahwa 80% masyarakat merasakan tekanan akibat meningkatnya biaya hidup.
Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat perubahan perilaku finansial yang cukup signifikan.
Ketika harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, pendidikan, kesehatan, hingga tagihan rutin terus meningkat, rumah tangga cenderung mengalihkan fokus dari tujuan jangka panjang menjadi kebutuhan yang lebih mendesak. Tidak mengherankan jika sebanyak 56% responden mengaku pengelolaan pengeluaran sehari-hari menjadi prioritas keuangan utama mereka dalam 12 bulan ke depan.
Yang menarik, hampir separuh responden atau 48% belum memiliki rencana keuangan jangka panjang atau hanya membuat perencanaan hingga satu tahun ke depan.
Data ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak hanya menggerus daya beli, tetapi juga mengubah cara masyarakat memandang masa depan.
Mengapa Banyak Orang Mulai Menggunakan Tabungan untuk Bertahan?
Salah satu temuan paling penting dari survei ini adalah semakin banyak masyarakat yang menggunakan bantalan keuangan mereka untuk menghadapi tekanan ekonomi.
Sebanyak 23% responden mengaku menggunakan tabungan yang dimiliki untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, 26% mengurangi atau menunda pengeluaran yang sebenarnya penting, sementara 5% memilih menunda kontribusi dana pensiun.
Sekilas, langkah tersebut terlihat logis.
Ketika pengeluaran meningkat dan pendapatan tidak bertambah secara signifikan, tabungan menjadi sumber dana tercepat yang bisa digunakan. Namun di sinilah muncul risiko yang sering kali tidak disadari.
Tabungan seharusnya berfungsi sebagai pelindung ketika terjadi kondisi darurat seperti kehilangan pekerjaan, sakit, atau kebutuhan mendesak lainnya. Ketika tabungan habis untuk membiayai kebutuhan rutin, rumah tangga kehilangan lapisan perlindungan finansial yang sangat penting.
Inilah salah satu insight yang sering luput dari pembahasan publik. Masalah utama bukan hanya berkurangnya saldo tabungan, tetapi hilangnya kemampuan rumah tangga untuk menyerap guncangan ekonomi di masa depan.
Baca Juga: Peran Asuransi dan Dana Pensiun dalam Ekonomi Indonesia 2026: OJK Ungkap Target Ambisius
Baca Juga: Bancassurance Tetap Jadi Kanal Utama Penjualan Asuransi Jiwa di Kuartal I-2026
Ketika Dana Pensiun dan Investasi Mulai Dikorbankan
Temuan bahwa sebagian masyarakat mulai menunda kontribusi dana pensiun mungkin terlihat kecil karena hanya mencapai 5%. Namun secara ekonomi, fenomena ini layak mendapat perhatian serius.
Dana pensiun adalah instrumen yang bekerja berdasarkan waktu. Semakin lama seseorang berinvestasi atau menyisihkan dana pensiun, semakin besar manfaat yang bisa diperoleh melalui efek pertumbuhan jangka panjang.
Ketika kontribusi tersebut ditunda, dampaknya mungkin tidak terasa hari ini. Namun efeknya dapat muncul 10 hingga 20 tahun mendatang.
Fenomena ini menunjukkan bahwa banyak keluarga Indonesia saat ini sedang melakukan trade-off atau pertukaran yang sulit. Mereka memilih menyelesaikan masalah jangka pendek dengan mengorbankan sebagian kesiapan finansial masa depan.
Dalam jangka pendek keputusan tersebut mungkin membantu menjaga stabilitas rumah tangga. Namun dalam jangka panjang, hal itu dapat meningkatkan kerentanan finansial ketika memasuki usia pensiun atau menghadapi kebutuhan besar lainnya.
Hanya Sedikit yang Benar-Benar Merasa Aman Secara Finansial
Survei ini juga menemukan fakta menarik lainnya.
Hanya 14% responden yang merasa sangat aman secara finansial. Sementara itu, hanya 45% yang menyatakan mampu bertahan lebih dari enam bulan tanpa penghasilan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tangga Indonesia masih memiliki bantalan keuangan yang relatif terbatas.
Meski kelompok yang tergolong sangat tangguh secara finansial meningkat dari 30% menjadi 34%, peningkatan tersebut belum terjadi secara merata. Bahkan proporsi kelompok dengan ketahanan finansial rendah justru mengalami peningkatan.
Artinya, pemulihan kondisi keuangan masyarakat masih berlangsung secara tidak seimbang.
Apa yang Membedakan Mereka yang Tetap Tangguh Secara Finansial?
Di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan hampir semua kelompok pendapatan, survei ini menemukan satu faktor pembeda yang sangat penting: literasi keuangan.
Masyarakat yang memiliki pemahaman lebih baik mengenai pengelolaan keuangan terbukti memiliki tingkat kepercayaan diri finansial yang jauh lebih tinggi.
Mereka mencatat skor 53 poin lebih tinggi dalam indeks kepercayaan finansial dan tiga kali lebih mungkin merasa siap menghadapi kenaikan biaya hidup dibandingkan mereka yang memiliki literasi keuangan rendah.
Selain itu, kelompok ini juga memiliki optimisme terhadap kondisi finansial masa depan yang 47 poin lebih tinggi.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa ketahanan finansial tidak selalu ditentukan oleh besar kecilnya pendapatan.
Dalam banyak kasus, kemampuan mengelola uang, mengatur prioritas, membangun dana darurat, dan membuat perencanaan jangka panjang justru menjadi faktor yang lebih menentukan.
Simulasi Nyata: Ketika Keluarga Muda Harus Mengubah Rencana Masa Depan
Bayangkan pasangan muda dengan total pendapatan Rp12 juta per bulan.
Dua tahun lalu mereka masih mampu menyisihkan Rp2 juta setiap bulan untuk tabungan dan investasi. Namun setelah harga kebutuhan pokok naik, biaya transportasi meningkat, biaya sekolah anak bertambah, serta tagihan rumah tangga membengkak, sisa uang yang dapat ditabung turun drastis menjadi hanya Rp500 ribu per bulan.
Ketika terjadi kebutuhan mendadak seperti perbaikan kendaraan atau biaya kesehatan, mereka mulai mengambil dana dari tabungan.
Pada titik tertentu, fokus mereka bergeser.
Bukan lagi memikirkan investasi lima tahun ke depan atau dana pendidikan anak, tetapi memastikan kebutuhan bulan depan dapat terpenuhi.
Inilah gambaran nyata yang kemungkinan sedang dialami banyak keluarga Indonesia saat ini.
Paradoks Finansial Kelas Menengah Indonesia
Salah satu temuan yang menarik untuk dicermati adalah bahwa tantangan finansial saat ini tidak hanya dialami kelompok berpenghasilan rendah.
Banyak keluarga kelas menengah sebenarnya masih memiliki pekerjaan dan pendapatan yang relatif stabil. Namun mereka tetap merasakan tekanan karena biaya hidup meningkat lebih cepat dibanding kemampuan untuk menambah pendapatan.
Paradoksnya, seseorang bisa memiliki penghasilan yang cukup besar tetapi tetap rentan secara finansial jika tidak memiliki dana darurat, perlindungan kesehatan, atau perencanaan keuangan yang matang.
Karena itu, ukuran kesejahteraan tidak lagi cukup dilihat dari besarnya gaji.
Ketahanan finansial lebih banyak ditentukan oleh kemampuan bertahan ketika terjadi gangguan terhadap arus pendapatan atau lonjakan pengeluaran.
AI Semakin Populer, Tetapi Keputusan Finansial Tetap Membutuhkan Pertimbangan Matang
Menariknya, survei ini juga menemukan bahwa 68% responden telah menggunakan teknologi generative AI untuk mencari informasi dan panduan keuangan. Bahkan 67% memperkirakan penggunaan teknologi tersebut akan terus meningkat dalam 12 bulan ke depan.
Meski demikian, teknologi tidak otomatis menggantikan peran manusia dalam pengambilan keputusan finansial.
President Director Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, menegaskan bahwa kesiapan finansial menjadi faktor penting dalam membangun ketahanan menghadapi perubahan ekonomi.
"Temuan ini mencerminkan bagaimana banyak masyarakat Indonesia menyeimbangkan kebutuhan finansial jangka pendek dengan tujuan jangka panjang. Di tengah perubahan kondisi ekonomi, kesiapan finansial menjadi kunci utama untuk membangun ketahanan finansial," ujar Albertus melalui hasil riset yang diterima AKURAT.CO, dikutip Kamis, 11 Juni 2026.
Ia juga menekankan bahwa teknologi dan AI tetap membutuhkan fondasi literasi keuangan yang kuat.
"Teknologi telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi dan literasi keuangan, namun tidak menggantikan kebutuhan akan panduan ahli atau penasihat keuangan yang bertanggung jawab. Penguatan fondasi ini tetap penting agar individu dapat mengevaluasi informasi secara kritis, mengambil keputusan yang tepat, serta menavigasi lanskap keuangan yang semakin kompleks menuju ketahanan finansial yang lebih baik," kata Albertus.
Ancaman Terbesar Bukan Sekadar Harga Naik
Jika dicermati lebih dalam, temuan survei ini mengungkap persoalan yang lebih besar daripada sekadar kenaikan biaya hidup.
Ancaman sesungguhnya muncul ketika kebutuhan hari ini mulai menggerus kemampuan masyarakat mempersiapkan masa depan. Saat tabungan digunakan untuk bertahan hidup, investasi ditunda, dan dana pensiun dikorbankan, maka ketahanan finansial jangka panjang perlahan ikut terkikis.
Karena itu, literasi keuangan bukan lagi sekadar pengetahuan tambahan, melainkan kebutuhan dasar untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi yang semakin kompleks. Mereka yang mampu merencanakan, beradaptasi, dan menjaga keseimbangan antara kebutuhan hari ini dan tujuan masa depan akan memiliki peluang lebih besar untuk tetap tangguh menghadapi berbagai perubahan.
Pantau terus perkembangan ekonomi dan tren keuangan masyarakat Indonesia untuk memahami bagaimana perubahan kondisi saat ini dapat memengaruhi ketahanan finansial jangka panjang.
Baca Juga: Bank Inggris Peringatkan Risiko AI pada Sistem Finansial
FAQ
Mengapa kenaikan biaya hidup membuat masyarakat sulit menabung?
Kenaikan biaya hidup membuat porsi pengeluaran untuk kebutuhan pokok, transportasi, pendidikan, dan kesehatan semakin besar. Ketika pendapatan tidak meningkat secepat pengeluaran, ruang untuk menabung menjadi semakin sempit. Akibatnya, banyak rumah tangga Indonesia terpaksa menggunakan dana yang sebelumnya dialokasikan untuk tabungan atau investasi guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab utama menurunnya kemampuan masyarakat membangun ketahanan finansial jangka panjang.
Apa dampak menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?
Menggunakan tabungan untuk kebutuhan sehari-hari memang dapat menjadi solusi sementara saat kondisi keuangan sedang tertekan. Namun jika berlangsung terus-menerus, dana darurat yang seharusnya menjadi perlindungan saat terjadi krisis akan semakin berkurang. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko finansial karena rumah tangga menjadi lebih rentan ketika menghadapi kehilangan pekerjaan, biaya kesehatan mendadak, atau kebutuhan besar lainnya yang tidak terduga.
Mengapa dana pensiun tidak sebaiknya dikorbankan saat kondisi ekonomi sulit?
Dana pensiun merupakan bagian penting dari perencanaan keuangan jangka panjang karena memberikan perlindungan finansial ketika seseorang sudah tidak lagi produktif bekerja. Menunda atau menghentikan kontribusi dana pensiun memang dapat mengurangi beban pengeluaran saat ini, tetapi dapat mengurangi akumulasi dana yang seharusnya berkembang selama bertahun-tahun. Semakin lama penundaan dilakukan, semakin besar pula potensi kekurangan dana saat memasuki masa pensiun.
Bagaimana literasi keuangan membantu menghadapi kenaikan biaya hidup?
Literasi keuangan membantu seseorang memahami cara mengelola pendapatan, mengatur prioritas pengeluaran, membangun dana darurat, dan merencanakan tujuan finansial jangka panjang. Orang yang memiliki pemahaman keuangan yang baik cenderung lebih siap menghadapi tekanan ekonomi karena mampu mengambil keputusan berdasarkan perhitungan yang matang. Selain itu, mereka biasanya lebih disiplin dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan persiapan masa depan.
Apa ciri rumah tangga yang memiliki ketahanan finansial kuat?
Rumah tangga yang memiliki ketahanan finansial kuat umumnya memiliki dana darurat yang memadai, tingkat utang yang terkendali, perlindungan asuransi yang sesuai kebutuhan, serta perencanaan keuangan jangka panjang yang jelas. Mereka juga mampu mempertahankan stabilitas keuangan meskipun terjadi gangguan pendapatan atau kenaikan biaya hidup. Ketahanan finansial tidak selalu ditentukan oleh besarnya penghasilan, tetapi juga oleh kemampuan mengelola dan mengalokasikan uang secara efektif.
Mengapa banyak keluarga kelas menengah merasa tertekan meski masih memiliki penghasilan tetap?
Banyak keluarga kelas menengah tetap merasakan tekanan ekonomi karena kenaikan harga berbagai kebutuhan berlangsung lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan mereka. Selain harus memenuhi kebutuhan harian, kelompok ini juga biasanya memiliki tanggung jawab tambahan seperti cicilan rumah, biaya pendidikan anak, kendaraan, dan tabungan masa depan. Akibatnya, meskipun masih memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap, ruang keuangan yang tersedia menjadi semakin terbatas.
Apakah AI dapat membantu mengelola keuangan pribadi?
Teknologi berbasis kecerdasan artifisial atau AI dapat membantu masyarakat mencari informasi keuangan, membuat perencanaan anggaran sederhana, membandingkan produk keuangan, hingga memahami konsep investasi dan asuransi. Namun AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan. Untuk keputusan finansial yang besar dan berdampak jangka panjang, literasi keuangan yang baik serta konsultasi dengan penasihat keuangan profesional tetap menjadi faktor penting agar keputusan yang diambil lebih tepat dan sesuai kebutuhan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Drone Buatan Inggris Dipakai Ukraina, Rusia Mengancam: Semakin Terlibat, Semakin Tinggi Harga yang Harus Dibayar!
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Prabowo dan Jokowi Kompak di Peringatan HUT RI, Gerindra: Hal yang Wajar
- 10Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk






