Akurat Logo

Kepastian Menkeu Picu Optimisme Investor, IHSG dan Rupiah Kompak Menguat

Moehamad Dheny Permana | 13 Juni 2026, 12:55 WIB
Kepastian Menkeu Picu Optimisme Investor, IHSG dan Rupiah Kompak Menguat
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa.

AKURAT.CO Pasar keuangan domestik kembali menunjukkan tren positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak menguat pada penutupan perdagangan Jumat (12/6/2026), didorong meningkatnya optimisme investor terhadap stabilitas kebijakan ekonomi pemerintah.

IHSG ditutup menguat 2,07 persen ke level 6.007,65 dengan nilai transaksi mencapai Rp21,60 triliun. Sebanyak 615 saham menguat, 108 saham melemah, dan 93 saham bergerak stagnan.

Sementara itu, rupiah juga mencatat penguatan signifikan. Mata uang Garuda ditutup pada level Rp17.860 per dolar AS atau menguat 128 poin (0,71 persen) dibandingkan posisi pembukaan perdagangan.

Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip), Esther Sri Astuti, menilai, penguatan pasar salah satunya dipicu oleh kepastian pemerintah mempertahankan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan.

Menurut Esther, stabilitas di jajaran kementerian menjadi sinyal positif bagi pelaku pasar karena mampu menekan ketidakpastian kebijakan ekonomi dalam jangka pendek.

"Stabilitas di level kementerian memberi sinyal positif bagi investor karena mengurangi ketidakpastian kebijakan jangka pendek," kata Esther, Sabtu (13/6/2026).

Ia menjelaskan, kepastian posisi Menteri Keuangan (Menkeu) memberikan keyakinan terhadap keberlanjutan kebijakan fiskal pemerintah.

Kondisi tersebut membuat investor lebih percaya diri untuk menempatkan modalnya di Indonesia.

Baca Juga: CBDK Cetak Laba Rp542 Miliar pada Kuartal I 2026, NICE dan Hilton Jakarta PIK2 Perkuat Ekosistem Bisnis

Meski demikian, Esther mengingatkan penguatan rupiah dan IHSG tidak cukup hanya ditopang oleh sentimen jangka pendek.

Menurutnya, Indonesia harus memenuhi sejumlah faktor fundamental agar tetap menjadi tujuan investasi global.

Faktor pertama adalah kepastian hukum bagi dunia usaha.

Selain itu, Indonesia juga perlu memiliki prospek ekonomi yang kuat, ketersediaan bahan baku yang memadai, serta ekosistem industri yang mendukung.

Ia juga menyoroti pentingnya integrasi dengan rantai pasok global, tersedianya infrastruktur energi, listrik dan air yang memadai, serta harmonisasi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah.

"Keempat, ekosistem yang mendukung. Kelima, integrasi rantai pasok global. Keenam, ketersediaan infrastruktur energi, listrik, air dan lainnya yang baik. Ketujuh, harmonisasi peraturan antarinstansi baik pusat maupun daerah," ujarnya.

Esther menilai pemenuhan faktor-faktor tersebut akan memperbesar peluang masuknya modal asing ke Indonesia sehingga mampu menopang penguatan rupiah dan kinerja pasar modal secara berkelanjutan.

"Jika ketujuh faktor itu bisa dipenuhi, aliran modal asing akan lebih mudah masuk dan memperkuat nilai tukar rupiah serta pasar modal dalam negeri," tutupnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.