Citi dan YCAB Bekali Remaja Disabilitas dengan Literasi Keuangan untuk Raih Kemandirian Finansial

AKURAT.CO Pernahkah kita membayangkan bagaimana seorang remaja penyandang disabilitas mempersiapkan masa depannya di tengah dunia kerja yang semakin kompetitif? Di saat banyak anak muda masih kesulitan memahami cara mengelola uang, tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas sering kali lebih kompleks karena keterbatasan akses terhadap pendidikan dan pelatihan yang relevan.
Di tengah kondisi tersebut, literasi keuangan inklusif menjadi keterampilan yang semakin penting. Bukan hanya untuk memahami cara menabung atau mengatur pengeluaran, tetapi juga untuk membangun kepercayaan diri, kemandirian, dan kesiapan menghadapi kehidupan ekonomi yang sesungguhnya.
Melihat kebutuhan tersebut, Citibank N.A., Indonesia (Citi Indonesia) bersama YCAB Foundation menghadirkan program #SmartMoneyTalksABLE sebagai bagian dari rangkaian Global Community Day (GCD) 2026.
Ringkasan
#SmartMoneyTalksABLE adalah program literasi keuangan inklusif yang diselenggarakan Citi Indonesia dan YCAB Foundation bagi siswa SMP dan SMA dari sejumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) di DKI Jakarta. Program ini bertujuan membekali remaja penyandang disabilitas dengan pengetahuan dan keterampilan finansial untuk mendukung kemandirian ekonomi mereka di masa depan.
Mengapa Literasi Keuangan Inklusif Menjadi Kebutuhan Mendesak?
Banyak orang masih memandang pendidikan keuangan sebagai pelengkap. Padahal bagi kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas, kemampuan mengelola keuangan dapat menjadi salah satu fondasi utama menuju kemandirian.
Selama ini, diskusi mengenai pendidikan inklusif sering berfokus pada akses masuk sekolah atau fasilitas pembelajaran. Namun ada satu aspek yang kerap luput dari perhatian, yaitu kesiapan menghadapi kehidupan ekonomi setelah masa pendidikan berakhir.
Ketika seorang remaja memahami cara menghasilkan uang, menabung, mengatur pengeluaran, hingga berbagi dengan sesama, ia tidak hanya memperoleh pengetahuan. Ia juga membangun rasa percaya diri untuk mengambil keputusan finansial secara mandiri.
Hal inilah yang menjadi salah satu semangat di balik penyelenggaraan #SmartMoneyTalksABLE yang melibatkan siswa dari WAFCAI (Yayasan Kursi Roda dan Pusat Persahabatan Asia Indonesia), SLBN 8 Jakarta Utara, dan SLBN 9 Jakarta.
Program yang berlangsung di Pacific Century Place, Jakarta, pada 18 Juni 2026 tersebut dirancang agar dapat diikuti oleh seluruh peserta, termasuk mereka yang memiliki hambatan mobilitas.
Citi dan YCAB Dorong Pendidikan Finansial untuk Remaja Disabilitas
Kepala Subkelompok Pengembangan Peserta Didik dan Karakter (PDPK), Bidang PAUD dan Pendidikan Masyarakat Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Fitrianti, menilai kolaborasi seperti ini penting untuk memastikan setiap peserta didik memperoleh kesempatan belajar yang setara.
“Literasi keuangan merupakan salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki generasi muda untuk mendukung kemandirian mereka di masa depan. Melalui inisiatif seperti #SmartMoneyTalksABLE, kami berharap semakin banyak peserta didik yang memperoleh akses terhadap kesempatan belajar yang setara, relevan, dan berkualitas,” ujarnya dalam acara #SmartMoneyTalksABLE di Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026.
Pernyataan tersebut menunjukkan perubahan cara pandang terhadap pendidikan inklusif. Inklusi tidak lagi hanya berbicara soal akses fisik, tetapi juga akses terhadap keterampilan yang akan menentukan kualitas hidup seseorang di masa depan.
Sementara itu, Chief Operating Officer YCAB Foundation, Linda Sukandar, menegaskan bahwa pendidikan harus dapat diakses oleh siapa saja.
“Kami percaya bahwa pendidikan harus bersifat inklusif, artinya dapat diakses oleh siapa saja, termasuk teman-teman penyandang disabilitas yang hadir bersama kita hari ini,” kata Linda.
Ia menambahkan bahwa inklusivitas bukan berarti penyandang disabilitas harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada.
“Kita sebagai bagian dari ekosistemlah yang perlu memastikan mereka memiliki akses yang sama terhadap berbagai kesempatan yang tersedia,” ujarnya.
Apa yang Membuat SmartMoneyTalksABLE Berbeda dari Pelatihan Biasa?
Banyak pelatihan keuangan masih mengandalkan metode ceramah satu arah. Namun pendekatan yang digunakan dalam #SmartMoneyTalksABLE justru dirancang lebih partisipatif.
Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diajak menyelesaikan studi kasus keuangan secara berkelompok. Mereka kemudian mempresentasikan solusi yang telah disusun di hadapan panel juri.
Selain itu, tersedia pula berbagai aktivitas interaktif melalui Happy Hour Booth yang menghadirkan permainan edukatif serta pengalaman Virtual Reality (VR).
Pendekatan ini menarik karena menggeser pembelajaran dari sekadar teori menjadi praktik pengambilan keputusan.
Dalam kehidupan nyata, seseorang tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang uang. Mereka perlu memahami bagaimana membuat pilihan ketika harus menentukan prioritas pengeluaran, menyisihkan tabungan, atau menghadapi risiko keuangan.
Melalui keterlibatan para Citi Volunteers, peserta juga memperoleh kesempatan belajar langsung dari para profesional yang berbagi pengalaman nyata terkait pengelolaan keuangan.
Baca Juga: Solusi Digital Dorong Ekspansi Layanan Citi Indonesia ke Seluruh Nusantara
Konsep Earn, Save, Spend, Donate dan Relevansinya bagi Generasi Muda
Salah satu bagian menarik dalam kegiatan tersebut adalah penjelasan Hario Widyananto, Country Head of Public Affairs Citi Indonesia, mengenai konsep sederhana yang ia sebut sebagai E-SSD.
“Saya ingin berbagi satu rumus sederhana yang saya pelajari dari seorang guru. Rumusnya adalah E-S-S-D,” kata Hario.
Menurutnya, huruf E berarti Earn atau menghasilkan uang.
“Setelah bisa menghasilkan uang, masuk ke huruf pertama S, yaitu Save, yang artinya menyimpan atau menabung. Kemudian S berikutnya adalah Spend, yaitu menggunakan uang untuk memenuhi kebutuhan kita. Yang terakhir adalah D, yaitu Donate atau berdonasi, berbagi dengan orang lain,” jelasnya.
Sekilas konsep tersebut tampak sederhana. Namun justru di situlah kekuatannya.
Banyak generasi muda saat ini diperkenalkan pada investasi, aset digital, atau instrumen keuangan yang kompleks sebelum memahami fondasi paling dasar dalam mengelola uang.
Padahal tanpa kemampuan menghasilkan pendapatan, membangun kebiasaan menabung, mengelola pengeluaran, dan berbagi secara bertanggung jawab, berbagai strategi keuangan modern akan sulit berjalan efektif.
Konsep E-SSD juga relevan dengan perilaku konsumsi generasi muda yang hidup di era transaksi digital instan. Kemudahan berbelanja sering kali membuat seseorang lebih cepat masuk ke tahap "spend" dibanding "save".
Tantangan Kemandirian Ekonomi Generasi Muda di Indonesia
Pentingnya literasi keuangan semakin terlihat jika melihat kondisi ketenagakerjaan saat ini.
Data International Labour Organization (ILO) memperkirakan sekitar 65 juta anak muda di seluruh dunia masih belum bekerja.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia mencapai sekitar 7,26 juta orang per Februari 2025. Menariknya, hampir setengah dari angka tersebut berasal dari kelompok anak muda dan perempuan.
Angka ini tidak hanya menggambarkan tantangan mencari pekerjaan. Lebih dari itu, angka tersebut menunjukkan bahwa masa transisi dari pendidikan menuju dunia kerja menjadi semakin panjang dan tidak pasti.
Dalam situasi seperti ini, kemampuan mengelola uang menjadi keterampilan bertahan hidup yang penting.
Seseorang yang memahami cara mengatur keuangan sejak usia sekolah cenderung lebih siap menghadapi masa tunggu kerja, pekerjaan tidak tetap, maupun perubahan kondisi ekonomi.
Pendidikan Inklusif Tidak Cukup Hanya Membuka Akses
Ada satu pelajaran penting dari program #SmartMoneyTalksABLE yang sering terlewat dalam diskusi publik.
Selama ini keberhasilan pendidikan inklusif sering diukur dari jumlah peserta yang berhasil masuk ke dalam sistem pendidikan.
Padahal ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah apakah mereka memperoleh keterampilan yang benar-benar berguna setelah keluar dari sistem tersebut.
Bayangkan seorang siswa SLB berusia 17 tahun yang mulai memperoleh penghasilan dari desain grafis freelance atau berjualan secara online.
Dengan prinsip E-SSD, ia dapat:
Earn: memperoleh penghasilan dari hasil karyanya.
Save: menyisihkan sebagian pendapatan sebagai tabungan.
Spend: menggunakan uang untuk kebutuhan pendidikan atau pengembangan keterampilan.
Donate: berbagi kepada komunitas atau orang yang membutuhkan.
Dalam skenario tersebut, literasi keuangan bukan sekadar teori. Ia menjadi alat yang membantu seseorang mengambil keputusan yang memengaruhi masa depannya.
Kolaborasi Jadi Kunci Mewujudkan Masa Depan yang Lebih Inklusif
Hario Widyananto menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen Citi untuk mendorong kemajuan ekonomi yang inklusif.
“Sebagai bank global, perayaan tahunan Global Community Day merupakan komitmen berkelanjutan Citi untuk berkontribusi secara positif kepada komunitas di mana kami berada sekaligus mendorong kemajuan ekonomi yang inklusif di Indonesia,” ujarnya.
Menurut Hario, Citi bangga dapat membantu generasi muda, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas, mengembangkan literasi keuangan sehingga mampu berpartisipasi lebih luas dalam membangun masa depan yang berkelanjutan.
Pandangan serupa juga disampaikan Linda Sukandar yang menekankan bahwa mewujudkan pendidikan inklusif tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.
Kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, sekolah, organisasi sosial, dan masyarakat menjadi faktor penting untuk memperluas akses sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran.
Pada akhirnya, literasi keuangan bukan hanya tentang uang. Ia adalah tentang pilihan, kesempatan, dan kemampuan seseorang untuk mengendalikan masa depannya sendiri.
Bagi banyak remaja penyandang disabilitas, kesempatan memperoleh keterampilan tersebut dapat menjadi langkah awal menuju kehidupan yang lebih mandiri. Dan di tengah dunia yang terus berubah, kemampuan mengelola keuangan mungkin menjadi salah satu bekal paling berharga yang bisa dimiliki generasi muda.
Pantau terus perkembangan isu pendidikan inklusif, literasi keuangan, dan pemberdayaan generasi muda untuk memahami bagaimana berbagai inisiatif dapat membuka lebih banyak peluang bagi masa depan yang lebih setara.
Baca Juga: Adopsi AI Citi Indonesia: Awal Babak Baru Persaingan Perbankan Global di Indonesia
FAQ
Apa yang dimaksud dengan literasi keuangan inklusif?
Literasi keuangan inklusif adalah upaya memberikan akses pendidikan dan pemahaman keuangan kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali, termasuk penyandang disabilitas. Tujuannya bukan hanya meningkatkan pengetahuan tentang uang, tetapi juga memastikan setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk mengambil keputusan finansial yang tepat, mengelola pendapatan, menabung, serta merencanakan masa depan secara mandiri.
Mengapa literasi keuangan penting bagi remaja penyandang disabilitas?
Literasi keuangan penting bagi remaja penyandang disabilitas karena membantu mereka membangun kemandirian sejak dini. Kemampuan mengelola uang, memahami kebutuhan dan keinginan, serta merencanakan pengeluaran dapat menjadi bekal berharga ketika memasuki dunia kerja atau menjalankan usaha sendiri. Keterampilan ini juga dapat meningkatkan rasa percaya diri dalam mengambil keputusan ekonomi sehari-hari.
Apa itu program SmartMoneyTalksABLE yang diselenggarakan Citi dan YCAB?
SmartMoneyTalksABLE adalah program pendidikan keuangan yang diinisiasi Citi Indonesia bersama YCAB Foundation untuk membekali siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) dengan keterampilan finansial praktis. Program ini menggunakan metode pembelajaran interaktif seperti studi kasus, diskusi kelompok, presentasi solusi keuangan, hingga pengalaman Virtual Reality (VR) agar peserta lebih mudah memahami konsep pengelolaan keuangan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagaimana konsep Earn, Save, Spend, Donate dapat diterapkan oleh generasi muda?
Konsep Earn, Save, Spend, Donate atau E-SSD mengajarkan empat langkah dasar dalam pengelolaan keuangan. Earn berarti menghasilkan uang melalui pekerjaan atau usaha, Save berarti menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung, Spend berarti menggunakan uang secara bijak sesuai kebutuhan, sedangkan Donate berarti berbagi kepada sesama. Konsep ini membantu generasi muda membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak usia dini.
Apa hubungan literasi keuangan dengan peluang kerja generasi muda?
Literasi keuangan memiliki hubungan erat dengan kesiapan menghadapi dunia kerja. Seseorang yang memahami cara mengatur keuangan biasanya lebih siap menghadapi masa transisi kerja, penghasilan tidak tetap, maupun kondisi ekonomi yang tidak pasti. Selain itu, pemahaman finansial juga mendukung kemampuan berwirausaha, mengelola pendapatan freelance, dan merencanakan tujuan keuangan jangka panjang.
Mengapa pendidikan inklusif tidak cukup hanya memberikan akses belajar?
Pendidikan inklusif tidak hanya tentang memastikan penyandang disabilitas dapat mengikuti proses belajar di sekolah yang sama. Yang lebih penting adalah memastikan mereka memperoleh keterampilan yang relevan untuk kehidupan nyata, termasuk literasi finansial, keterampilan digital, dan kemampuan kerja. Dengan demikian, pendidikan dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas hidup dan membuka peluang ekonomi yang lebih luas.
Bagaimana kolaborasi Citi Indonesia dan YCAB Foundation mendukung pemberdayaan generasi muda?
Kolaborasi Citi Indonesia dan YCAB Foundation menunjukkan bahwa pemberdayaan generasi muda membutuhkan dukungan berbagai pihak. Melalui program literasi keuangan inklusif, kedua organisasi berupaya memperluas akses pembelajaran bagi remaja, termasuk penyandang disabilitas. Pendekatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan finansial, tetapi juga membantu membangun kepercayaan diri, kemandirian, dan kesiapan menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Link Nonton Piala Dunia 2026 Resmi dan Legal, Kualitas HD Bukan di Score808
- 2Di Balik Penolakan Keras Singapura ke Ekspor Satu Pintu DSI: Risiko Kehilangan Ratusan Miliar Dolar Arus Ekspor dan Devisa
- 3Prediksi Skor Uzbekistan vs Kolombia di Piala Dunia 2026: Debutan Asia Hadapi Ujian Berat dari Los Cafeteros
- 4Prediksi Skor Ghana vs Panama di Piala Dunia 2026: Duel Seimbang, Akankah Black Stars Bangkit?
- 5Prediksi Skor Belgia vs Mesir Lengkap dengan Statistik Head to Head dan Susunan Pemain
- 6Prediksi Skor Swiss vs Bosnia dan Herzegovina: Nati Diunggulkan, Tapi Jangan Remehkan Ancaman Tim Balkan
- 7Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Das Team Diunggulkan, Mampukah Debutan Asia Membuat Kejutan?
- 8Cara Nonton Piala Dunia 2026 Gratis di TVRI dan HP via Aplikasi Streaming
- 9Sempat Absen karena Sakit, Bos Maktour Penuhi Panggilan KPK
- 10Diperiksa sebagai Tersangka Korupsi MBG, Sony Sonjaya Datang Bawa Buku dan Pulpen






