Akurat Logo

Catat Tanggalnya! 7 Emiten Bagikan Dividen Jumbo pada Akhir Juli 2026

Idham Nur Indrajaya | 15 Juli 2026, 14:30 WIB
Catat Tanggalnya! 7 Emiten Bagikan Dividen Jumbo pada Akhir Juli 2026
Catat jadwal dividen Juli 2026! Tujuh emiten, termasuk INDF, ICBP, MTEL, dan NCKL, membagikan dividen jumbo pada akhir Juli. Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Menjelang akhir Juli 2026, investor pasar modal Indonesia memasuki salah satu periode yang paling dinantikan setiap tahunnya, yakni musim pembagian dividen. Setelah rangkaian Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) rampung dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah emiten mulai merealisasikan pembagian laba kepada para pemegang saham dalam bentuk dividen tunai.

Sedikitnya tujuh emiten dari berbagai sektor dijadwalkan membagikan dividen pada pekan terakhir Juli 2026. Mulai dari perusahaan konsumer, telekomunikasi, pertambangan, properti, hingga teknologi, seluruhnya akan menyalurkan dividen dengan nilai yang bervariasi, mulai dari puluhan miliar hingga triliunan rupiah.

Bagi investor, momentum ini bukan hanya soal menerima tambahan pendapatan pasif. Jadwal pembayaran dividen juga menjadi indikator penting yang mencerminkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan komitmennya dalam memberikan nilai tambah kepada pemegang saham.

Dividen Juli 2026: Daftar Emiten dan Jadwal Pembayarannya

Sebanyak tujuh emiten telah menetapkan jadwal pembayaran dividen pada akhir Juli 2026. Berikut ringkasannya:

  • PT Ciputra Development Tbk (CTRA): dividen Rp36 per saham, dibayarkan pada 24 Juli 2026.

  • PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP): dividen Rp265 per saham, dibayarkan pada 28 Juli 2026.

  • PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF): dividen Rp290 per saham, dibayarkan pada 29 Juli 2026.

  • PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL): dividen Rp25,65 per saham, dibayarkan pada 31 Juli 2026.

  • PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI): dividen Rp2 per saham, dibayarkan pada 31 Juli 2026.

  • PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL): dividen Rp42,64 per saham dari laba tahun buku 2025.

  • PT Darma Henwa Tbk (DEWA): dividen Rp1,5 per saham sebagai dividen perdana sejak melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Momentum pembayaran yang berlangsung dalam rentang waktu kurang dari dua pekan tersebut membuat akhir Juli menjadi salah satu periode tersibuk dalam kalender pembagian dividen di pasar modal Indonesia.

Mengapa Akhir Juli Menjadi Musim Pembayaran Dividen?

Fenomena banyaknya pembayaran dividen pada akhir Juli bukanlah kebetulan. Mayoritas perusahaan tercatat menyelenggarakan RUPS pada kuartal II setiap tahun untuk meminta persetujuan pemegang saham terkait penggunaan laba bersih, termasuk besaran dividen yang akan dibagikan.

Setelah keputusan tersebut disahkan, emiten menetapkan jadwal cum date, ex date, recording date, hingga payment date. Karena sebagian besar RUPS berlangsung pada Mei hingga Juni, pembayaran dividen umumnya terkonsentrasi pada Juli atau Agustus.

Artinya, akhir Juli 2026 menjadi titik ketika berbagai perusahaan mulai merealisasikan hasil keputusan RUPS mereka kepada para investor.

Selain mencerminkan siklus administratif perusahaan terbuka, pola ini juga membantu investor yang mengandalkan pendapatan dividen untuk memperkirakan arus kas investasi setiap tahunnya.

Baca Juga: Laba Naik 90 Persen, PTPN IV PalmCo Setor Dividen Rp2,83 Triliun ke Negara

Baca Juga: Dividen Perdana Setelah Laba: Darma Henwa Tebar Sinyal Baru bagi Investor dan Pasar

Mengulik 7 Emiten yang Membagikan Dividen pada Akhir Juli 2026

Musim dividen tahun ini memperlihatkan karakter yang beragam. Ada emiten yang membagikan dividen jumbo dengan nilai triliunan rupiah, ada pula yang memilih membagikan hampir seluruh laba bersihnya kepada pemegang saham. Bahkan, terdapat emiten yang mencatat sejarah baru dengan membagikan dividen untuk pertama kalinya sejak melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

1. Indofood Sukses Makmur (INDF): Dividen Rp290 per Saham

PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menjadi salah satu emiten yang paling dinantikan investor. Perseroan akan membagikan dividen tunai sebesar Rp290 per saham atau dengan total nilai sekitar Rp2,54 triliun.

Pembayaran dividen dijadwalkan pada 29 Juli 2026, sehingga para pemegang saham yang telah memenuhi ketentuan pencatatan berhak menerima pembagian laba tersebut.

Besarnya dividen yang dibagikan memperlihatkan kemampuan Indofood mempertahankan profitabilitas di tengah tantangan industri makanan dan minuman. Sebagai salah satu emiten berkapitalisasi besar di sektor konsumer, kebijakan dividen INDF juga kerap menjadi acuan bagi investor yang mengincar pendapatan pasif secara konsisten.

2. Indofood CBP (ICBP): Tebar Dividen Rp3 Triliun

Tidak hanya INDF, anak usahanya, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), juga membagikan dividen dalam jumlah besar.

ICBP menetapkan dividen tunai sebesar Rp265 per saham dengan total nilai mencapai Rp3 triliun. Dividen tersebut akan dibayarkan pada 28 Juli 2026.

Jika digabungkan, dua emiten Grup Salim ini akan menggelontorkan lebih dari Rp5,5 triliun kepada para pemegang saham. Angka tersebut menunjukkan bahwa sektor konsumer masih mampu menghasilkan arus kas yang kuat sehingga tetap dapat memberikan imbal hasil kepada investor melalui dividen.

3. Mitratel (MTEL): Hampir Seluruh Laba Dibagikan

Salah satu kebijakan dividen yang paling menarik datang dari PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel.

Perseroan akan membagikan dividen tunai sebesar Rp2,08 triliun, setara Rp25,65 per saham. Nilai tersebut mencerminkan dividend payout ratio (DPR) sekitar 98% dari laba bersih tahun buku 2025 yang mencapai Rp2,12 triliun.

Dengan pembayaran yang dijadwalkan pada 31 Juli 2026, Mitratel menjadi salah satu emiten dengan rasio pembagian laba tertinggi di antara perusahaan yang membagikan dividen pada periode ini.

DPR yang mendekati 100% menunjukkan sebagian besar keuntungan perusahaan dikembalikan kepada pemegang saham. Di sisi lain, investor juga perlu memperhatikan bagaimana perusahaan menjaga ruang pendanaan untuk ekspansi pada tahun-tahun berikutnya.

4. Harita Nickel (NCKL): Dividen Rp2,7 Triliun

Dari sektor pertambangan, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel memutuskan membagikan dividen tunai sebesar Rp2,7 triliun dari laba bersih tahun buku 2025.

Nilai tersebut setara dengan Rp42,64 per saham atau sekitar 30% dari laba bersih perseroan.

Meski dividend payout ratio Harita Nickel lebih rendah dibanding Mitratel, kebijakan ini menunjukkan perusahaan masih memilih menjaga keseimbangan antara memberikan keuntungan kepada investor dan mempertahankan dana untuk mendukung pengembangan bisnis di sektor hilirisasi nikel yang masih membutuhkan investasi besar.

5. Solusi Sinergi Digital (WIFI): Dividen Perdana di Sektor Digital

Emiten milik Hashim Djojohadikusumo, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), juga masuk dalam daftar perusahaan yang membagikan dividen pada akhir Juli.

Perseroan menetapkan dividen tunai sebesar Rp10,6 miliar atau Rp2 per saham, dengan jadwal pembayaran pada 31 Juli 2026.

Secara nominal, nilai dividen WIFI memang jauh lebih kecil dibanding emiten berkapitalisasi besar lainnya. Namun, langkah tersebut tetap memberikan sinyal positif bahwa perusahaan mulai berbagi hasil kinerja kepada para pemegang saham.

6. Darma Henwa (DEWA): Catat Sejarah dengan Dividen Perdana

Salah satu kabar yang paling menarik datang dari PT Darma Henwa Tbk (DEWA).

Emiten yang tergabung dalam Grup Bakrie tersebut akan membagikan dividen perdana sejak sahamnya tercatat di BEI.

Nilai dividen yang dibagikan mencapai Rp58,6 miliar atau setara Rp1,5 per saham, yang berasal dari laba tahun buku 2025.

Meski nominal per sahamnya relatif kecil, keputusan ini memiliki makna penting. Dividen perdana umumnya dipandang sebagai sinyal bahwa perusahaan mulai memasuki fase profitabilitas yang lebih stabil sehingga mampu mengembalikan sebagian laba kepada para pemegang saham.

7. Ciputra Development (CTRA): Pembayaran Dividen Paling Awal

Dari sektor properti, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) menjadi emiten yang lebih dulu merealisasikan pembayaran dividen.

Perseroan membagikan dividen tunai sebesar Rp667 miliar, setara Rp36 per saham, yang berasal dari laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp2,66 triliun.

Pembayaran dividen kepada pemegang saham dijadwalkan pada 24 Juli 2026, menjadikannya sebagai salah satu pembayaran paling awal dibanding emiten lain dalam daftar ini.

Kebijakan tersebut menunjukkan sektor properti masih mampu menghasilkan laba yang cukup kuat untuk memberikan imbal hasil kepada investor, meskipun industri ini masih menghadapi tantangan berupa tingginya suku bunga dan perlambatan daya beli di sejumlah segmen.


Siapa Emiten Paling Royal? Ini yang Perlu Dicermati Investor

Jika dilihat dari total nilai dividen, ICBP menjadi emiten dengan pembagian dividen terbesar dalam daftar ini, yakni mencapai Rp3 triliun. Posisi berikutnya ditempati Harita Nickel (NCKL) dengan Rp2,7 triliun, disusul Indofood (INDF) sebesar Rp2,54 triliun, serta Mitratel (MTEL) senilai Rp2,08 triliun.

Namun, besarnya total dividen bukan satu-satunya indikator yang patut diperhatikan. Dari sisi dividend payout ratio (DPR), Mitratel justru menjadi emiten yang paling agresif karena membagikan sekitar 98% laba bersih tahun buku 2025 kepada pemegang saham. Sebaliknya, Harita Nickel memilih DPR sebesar 30%, yang menunjukkan perusahaan masih menyisihkan sebagian besar laba untuk mendukung ekspansi bisnis.

Sementara itu, jika mengacu pada dividen per saham, INDF menempati posisi teratas dengan Rp290 per saham, sedikit di atas ICBP yang membagikan Rp265 per saham. Bagi investor individu, angka dividen per saham sering kali menjadi acuan utama untuk memperkirakan besarnya pendapatan yang akan diterima berdasarkan jumlah saham yang dimiliki.

Perbedaan strategi tersebut menunjukkan bahwa setiap perusahaan memiliki kebijakan alokasi laba yang berbeda sesuai kebutuhan bisnisnya. Ada emiten yang memilih memaksimalkan imbal hasil kepada investor melalui dividen besar, sementara yang lain lebih berhati-hati agar tetap memiliki ruang pendanaan untuk ekspansi. Karena itu, investor tidak sebaiknya hanya terpaku pada nominal dividen, tetapi juga mempertimbangkan fundamental perusahaan, prospek pertumbuhan, serta konsistensi pembagian dividen dalam jangka panjang.

Baca Juga: MDKA Bagikan Dividen Rp300 Miliar, Kinerja Emas dan Nikel Menguat

Baca Juga: VERN Tak Bagi Dividen, Laba Rp5 Miliar Dialokasikan untuk Pengembangan Usaha

FAQ

Apa yang dimaksud dengan musim dividen di pasar saham?

Musim dividen adalah periode ketika banyak emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) membayarkan dividen kepada pemegang saham setelah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPS). Pada 2026, akhir Juli menjadi salah satu periode dengan jadwal pembayaran dividen yang padat dari berbagai sektor.

Emiten apa saja yang membagikan dividen pada akhir Juli 2026?

Tujuh emiten yang dijadwalkan membagikan dividen pada akhir Juli 2026 adalah PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA).

Emiten mana yang membagikan dividen terbesar pada akhir Juli 2026?

Berdasarkan total nilai dividen, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menjadi emiten dengan pembagian dividen terbesar, yakni mencapai Rp3 triliun. Sementara itu, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) membagikan Rp2,7 triliun, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Rp2,54 triliun, dan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) Rp2,08 triliun.

Mengapa Mitratel (MTEL) menjadi salah satu emiten yang menarik perhatian investor?

Mitratel menarik perhatian karena menetapkan dividend payout ratio (DPR) sekitar 98% dari laba bersih tahun buku 2025. Artinya, hampir seluruh laba bersih perseroan dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen tunai sebesar Rp25,65 per saham.

Apa yang membuat dividen Darma Henwa (DEWA) menjadi istimewa?

Dividen PT Darma Henwa Tbk (DEWA) menjadi sorotan karena merupakan dividen perdana sejak perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia. Perseroan membagikan dividen sebesar Rp58,6 miliar atau setara Rp1,5 per saham dari laba tahun buku 2025.

Apakah dividen yang besar selalu menjadi tanda bahwa sebuah saham layak dibeli?

Tidak selalu. Dividen yang besar memang menunjukkan perusahaan memiliki laba yang dapat dibagikan kepada pemegang saham, tetapi keputusan investasi sebaiknya juga mempertimbangkan faktor lain seperti pertumbuhan bisnis, kondisi keuangan, prospek industri, serta konsistensi perusahaan dalam menghasilkan laba dan membagikan dividen di masa mendatang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.