Akurat Logo

Ditekan Sentimen Global hingga Domestik, IHSG Turun 0,6 Persen ke 6.091,39

Esha Tri Wahyuni | 29 Juli 2026, 16:32 WIB
Ditekan Sentimen Global hingga Domestik, IHSG Turun 0,6 Persen ke 6.091,39
IHSG rontok di tengah tekanan domestik dan global

AKURAT.CO Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan pada perdagangan Rabu (29/7/2026). Pada perdagangan sesi II pukul 16.00 WIB, IHSG melemah 39,2 poin (0,64%) ke 6.091,39.

Bukan hanya dipengaruhi sentimen global, investor juga mulai mempertimbangkan berbagai ketidakpastian dari dalam negeri, mulai dari arah kebijakan moneter AS hingga transisi kepemimpinan di BI. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar memilih bersikap lebih hati-hati atau wait and see sebelum mengambil keputusan investasi yang lebih agresif.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata mengatakan, pelaku pasar masih menunggu berbagai kepastian yang berpotensi memengaruhi arah pasar dalam jangka pendek.

Baca Juga: IHSG Ditaksir Uji Level 6.050, Simak Menu Saham Hari Ini

"Kiwoom Research menyarankan investor untuk wait and see sambil mencermati pergerakan IHSG di area support 6.130. Investor yang telah memperoleh keuntungan disarankan menerapkan trailing stop atau melakukan profit taking secara bertahap apabila IHSG menembus level tersebut," ujar Liza dalam risetnya, Rabu (29/7/2026).

Menurutnya, perhatian utama investor global saat ini tertuju pada hasil rapat Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu waktu Amerika Serikat.

Mayoritas pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, pasar tetap menunggu sinyal kebijakan berikutnya mengingat risiko inflasi masih menjadi perhatian.

"Selain itu, investor akan mencermati konferensi pers Ketua The Fed, Kevin Warsh, untuk memperoleh petunjuk mengenai prospek kebijakan moneter ke depan, terutama setelah ia menegaskan komitmen bank sentral menjaga stabilitas harga serta melakukan evaluasi terhadap kerangka kebijakan moneter," kata Liza.

Selain kebijakan moneter AS, investor juga menaruh perhatian terhadap kinerja perusahaan-perusahaan teknologi raksasa seperti Microsoft dan Meta. Pasar ingin melihat apakah belanja modal (capital expenditure/capex) untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) masih akan terus meningkat di tengah munculnya kekhawatiran mengenai tingkat pengembalian investasi.

Meski demikian, musim laporan keuangan emiten di Amerika Serikat masih menunjukkan hasil yang relatif positif. Hampir 90% perusahaan yang telah menyampaikan laporan keuangan berhasil melampaui ekspektasi pasar. Konsensus analis juga memperkirakan laba emiten anggota indeks S&P 500 pada kuartal II-2026 tumbuh sekitar 34% secara tahunan (year on year).

Di dalam negeri, sentimen pasar juga belum sepenuhnya kondusif setelah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Kondisi tersebut membuat investor memilih menunggu arah kebijakan bank sentral berikutnya, termasuk proses pergantian kepemimpinan. Ketidakpastian tersebut turut tercermin dari sikap pelaku usaha.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkapkan mayoritas perusahaan masih memilih menerapkan strategi wait and see sepanjang semester II-2026. Dunia usaha cenderung menunda ekspansi baru sambil melihat perkembangan permintaan domestik maupun kondisi ekonomi global.

Di sisi lain, terdapat sentimen positif dari sektor kelapa sawit. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memperkirakan kebutuhan crude palm oil (CPO) untuk mendukung implementasi mandatori biodiesel B50 akan meningkat menjadi sekitar 16-17 juta ton pada 2027 seiring penerapan kebijakan tersebut secara penuh.

Sementara itu, perkembangan pasar global menunjukkan pergerakan yang beragam. Bursa saham Eropa ditutup menguat pada perdagangan Selasa (28/7), dengan indeks FTSE 100 Inggris naik 0,83%, DAX Jerman menguat 0,41%, CAC 40 Prancis bertambah 0,63%, dan Euro Stoxx 50 naik 0,24%.

Di Wall Street, indeks Dow Jones Industrial Average memimpin penguatan dengan kenaikan 1,00%, sedangkan S&P 500 naik 0,20%. Sebaliknya, Nasdaq Composite masih terkoreksi 0,20% menjelang publikasi laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi besar.

Pada perdagangan Asia Rabu pagi, mayoritas bursa bergerak bervariasi. Indeks Nikkei Jepang melemah 1,30%, Shanghai Composite turun 0,33%, Kospi terkoreksi 5,08%, dan Strait Times Singapura melemah 0,33%. Sementara itu, Hang Seng Hong Kong berhasil menguat 1,43%.

Kombinasi sentimen global dan domestik tersebut diperkirakan masih akan menjadi faktor utama yang menentukan arah IHSG dalam beberapa waktu ke depan. 

Selama kepastian mengenai arah suku bunga The Fed dan transisi kepemimpinan Bank Indonesia belum diperoleh, pelaku pasar diperkirakan tetap mengedepankan strategi defensif sembari menunggu katalis baru yang mampu menggerakkan pasar saham domestik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.