Akurat Logo

IHSG Sesi I Memerah 31,25 Poin ke 6.378,4

Esha Tri Wahyuni | 10 Agustus 2026, 15:20 WIB
IHSG Sesi I Memerah 31,25 Poin ke 6.378,4
Ilustrasi IHSG merah

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Senin (10/8/2026) di zona merah di perdagangan sesi I. IHSG ditutup di level 6.378,40, turun 31,25 poin atau 0,49% dibandingkan penutupan sebelumnya di 6.409,65.

Padahal, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.462,74 pada perdagangan pagi, sebelum tekanan jual membawa indeks turun hingga menyentuh level terendah 6.372,92.

Sebelumnya di awal perdagangan pukul 09.01 WIB, IHSG tercatat naik 30,94 poin atau 0,48% ke level 6.440. Pergerakan tersebut sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia yang juga dibuka menguat pada awal perdagangan.

Baca Juga: Membaca Peluang Rebound IHSG Jelang Pengumuman MSCI August Index Review

Di pasar Asia, sejumlah indeks bergerak di zona hijau, antara lain KOSDAQ, Nikkei 225, TW Weighted Index, KOSPI, Topix, Hang Seng, Shanghai Composite, CSI 300, dan Shenzhen Composite. Sementara itu, Ho Chi Minh Stock Index, PSEi Filipina, dan KLCI Malaysia berada di zona merah.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) lima menit setelah perdagangan dibuka menunjukkan aktivitas transaksi yang cukup tinggi. Volume perdagangan mencapai 2,39 miliar saham dengan nilai transaksi Rp996 miliar dan frekuensi 152.052 kali. Sebanyak 346 saham menguat, sedangkan 125 saham melemah dan 229 saham lainnya belum bergerak.

Salah satu perhatian utama investor pada perdagangan hari ini berasal dari perkembangan pasar tenaga kerja AS. Data Non-Farm Payrolls (NFP) Juli 2026 menunjukkan perekonomian AS justru kehilangan 23.000 lapangan kerja.

Angka tersebut berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan adanya penambahan lapangan kerja. Data Juni juga direvisi turun sehingga memberikan gambaran bahwa kondisi pasar tenaga kerja AS lebih lemah dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Perubahan tersebut menjadi penting bagi pasar saham karena kondisi ketenagakerjaan merupakan salah satu indikator yang diperhatikan investor dalam membaca arah kebijakan moneter The Fed.

Semakin lemah pasar tenaga kerja, semakin besar ruang bagi bank sentral AS untuk mempertahankan kebijakan suku bunga atau menunda kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi dinilai masih terkendali.

Phintraco Sekuritas mencatat probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan September meningkat menjadi 60,4% dari sebelumnya 43,2%.

"Probabilitas bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap pada pertemuan September mendatang menjadi 60,4% dari 43,2%," tulis Phintraco Sekuritas dalam riset hariannya, Senin (10/8/2026).

Perubahan ekspektasi tersebut menjadi katalis bagi pasar saham karena prospek suku bunga yang lebih rendah atau tetap dapat mendorong investor mengalihkan sebagian dana ke aset berisiko, termasuk saham.

Dari sisi teknikal, Phintraco Sekuritas melihat IHSG mulai mendekati level moving average (MA) 20 mingguan di sekitar 6.488. Apabila indeks mampu menembus level tersebut, IHSG berpeluang menguji level psikologis 6.500 dalam perdagangan pekan ini.

"Jika IHSG dapat menembus level MA20 tersebut, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 6.500 pada minggu-minggu ini," tulis Phintraco Sekuritas.

Katalis positif lainnya datang dari penguatan harga emas, koreksi harga minyak, serta meningkatnya peluang pasar bahwa The Fed tidak menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Namun, penguatan IHSG tetap akan berhadapan dengan sejumlah level teknikal yang menjadi perhatian investor. BRI Danareksa Sekuritas menempatkan area 6.400-6.350 sebagai support IHSG. Sementara itu, area 6.425-6.450 menjadi resistance terdekat.

"Kami masih melihat IHSG berpeluang melanjutkan penguatan dengan support 6.400-6.350 dan resistance 6.425-6.450," tulis BRI Danareksa Sekuritas.

Menurut BRI Danareksa, kemampuan IHSG bertahan di atas level 6.400 menjadi sinyal positif. Level tersebut berpotensi berubah fungsi menjadi area support apabila indeks mampu mempertahankannya.

Selain sentimen global, penguatan IHSG juga ditopang sejumlah indikator ekonomi domestik. BRI Danareksa Sekuritas menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 sebesar 5,29% secara tahunan, kinerja emiten semester I-2026 yang relatif solid, serta inflasi Juli yang disebut berada di level 2,88%.

Kondisi tersebut memberikan gambaran bahwa penguatan IHSG tidak hanya bergantung pada sentimen eksternal.

Sebelumnya, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh 5,61% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut ditopang antara lain oleh konsumsi masyarakat.

Dengan demikian, investor kini menghadapi kombinasi sentimen global dan domestik. Dari luar negeri, pelemahan pasar tenaga kerja AS meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar. Sementara dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi dan kinerja korporasi menjadi faktor pendukung valuasi saham.

BRI Danareksa juga melihat peluang berlanjutnya capital inflow ke pasar saham Indonesia. Net foreign buy menjadi salah satu faktor yang dapat memperkuat pergerakan IHSG apabila investor asing terus meningkatkan eksposur terhadap aset domestik.

"Keberhasilan bertahan di atas 6.400 menjadi sinyal positif karena level tersebut berpotensi berubah fungsi menjadi support. Peluang penguatan juga didukung net foreign buy, sehingga ruang bagi capital inflow dan kelanjutan penguatan IHSG masih terbuka," tulis BRI Danareksa Sekuritas.

Sentimen serupa juga menjadi perhatian CGS International Sekuritas Indonesia. Menurut riset tersebut, penguatan Wall Street, kenaikan harga emas, dan aksi beli investor asing berpotensi menjadi katalis positif bagi IHSG.

"IHSG diprediksi akan melanjutkan penguatannya dengan kisaran support 6.340-6.270 dan resistance 6.480-6.550," tulis CGS International Sekuritas Indonesia.

Dengan rentang tersebut, level 6.500 menjadi area penting yang perlu diperhatikan investor. Penembusan resistance dapat membuka ruang penguatan berikutnya, sementara kegagalan mempertahankan support berpotensi memicu aksi ambil untung.

Sejumlah sekuritas juga telah memberikan rekomendasi saham yang menjadi perhatian pada perdagangan Senin.

BRI Danareksa Sekuritas memilih PSAB, ARCI, dan BRMS. Phintraco Sekuritas merekomendasikan TLKM, EXCL, ANTM, BBRI, dan TPIA.

Sementara itu, CGS International Sekuritas Indonesia memilih ARCI, MDKA, BRMS, BBRI, BREN, dan DSNG. Panin Sekuritas memasukkan ELSA, ITMG, dan AADI dalam daftar saham pilihannya.

Panin Sekuritas menilai stabilnya rupiah, harga minyak yang relatif stabil, membaiknya tensi geopolitik, serta mulai kembalinya dana asing menjadi faktor yang mendukung IHSG. "Untuk hari ini kami memperkirakan IHSG menguat," tulis Panin Sekuritas dalam riset hariannya.

Pergerakan IHSG selanjutnya akan sangat bergantung pada kemampuan indeks mempertahankan level 6.400 sekaligus menembus area resistance di sekitar 6.480-6.500. 

Di sisi eksternal, investor masih akan mencermati data ekonomi AS dan komunikasi The Fed karena perubahan ekspektasi suku bunga dapat kembali memengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Hingga perdagangan sesi II pukul 15.07 WIB, IHSG terpantau masih merah 27,3 poin (0,43%) ke 6.382,36.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.