Akurat Logo

Derivatif Crypto Makin Ramai, Trader Pemula Perlu Waspada

Andi Syafriadi | 21 Agustus 2026, 01:00 WIB
Derivatif Crypto Makin Ramai, Trader Pemula Perlu Waspada
Presiden Direktur PINTU Andy Putra - Dok. PINTU

AKURAT.CO Perkembangan pasar aset crypto tidak lagi hanya ditandai oleh meningkatnya aktivitas jual beli aset secara spot.

Instrumen derivatif mulai mendapat tempat, terutama karena menawarkan peluang mengambil posisi baik ketika harga aset diperkirakan naik maupun turun.

Namun, peluang tersebut datang bersama risiko yang jauh lebih besar. Penggunaan leverage memungkinkan trader membuka posisi dengan nilai transaksi yang lebih besar dibandingkan modal yang disiapkan. Di sisi lain, mekanisme yang sama juga dapat memperbesar potensi kerugian.

Kondisi tersebut membuat kemudahan akses seharusnya berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap risiko.

Baca Juga: Platform Kripto Tak Cukup Andalkan Transaksi Aman, Loyalitas Member Jadi Kunci

Bagi investor atau trader yang baru mengenal derivatif crypto, antarmuka yang sederhana memang dapat membantu, tetapi pemahaman mengenai cara kerja instrumen tetap menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.

Di tengah perkembangan tersebut, PT Pintu Kemana Saja (PINTU), perusahaan penyedia platform investasi aset crypto yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menghadirkan Pintu Futures Lite.

Fitur ini dirancang sebagai mode trading derivatif crypto dengan tampilan yang lebih sederhana dan alur transaksi yang lebih ringkas dibandingkan pengalaman trading yang lebih advanced. PINTU menyebut fitur tersebut ditujukan bagi trader pemula maupun menengah yang ingin mulai mengenal perdagangan derivatif dengan leverage.

Presiden Direktur PINTU, Andy Putra mengatakan Pintu Futures Lite diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi pengguna yang baru ingin mencoba trading derivatif.

“PINTU menghadirkan fitur Pintu Futures Lite sebagai pintu masuk bagi trader pemula maupun menengah yang ingin memulai trading derivatif crypto menggunakan leverage,” kata Andy melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta.

Menurut dia, pengguna dapat membuka posisi Long atau Short melalui tiga langkah. Pengguna terlebih dahulu menentukan arah posisi, kemudian memasukkan jumlah margin dan memilih besaran leverage. Setelah posisi terbuka, pengguna dapat memantau pergerakan secara real-time sekaligus mengatur Take Profit (TP) dan Stop Loss (SL).

Leverage yang tersedia mencapai maksimal 25 kali dari modal awal. Besaran tersebut dapat disesuaikan dengan tingkat toleransi risiko masing-masing pengguna.

Dari sisi pengalaman pengguna, pendekatan ini memang menawarkan proses yang relatif sederhana. Trader cukup menentukan apakah akan mengambil posisi Long ketika memperkirakan harga naik atau Short ketika memperkirakan harga turun.

Setelah itu, pengguna menentukan margin dan leverage melalui slider yang tersedia. Posisi yang sudah terbuka kemudian dapat dipantau melalui halaman detail posisi.

PINTU juga menyediakan mekanisme Isolated Margin serta fitur Take Profit dan Stop Loss sebagai bagian dari pengelolaan risiko.

Andy mengatakan kombinasi antara leverage yang dapat disesuaikan, fitur manajemen risiko, serta tampilan yang dibuat sederhana menjadi salah satu pembeda Pintu Futures Lite.

“Kombinasi leverage yang dapat disesuaikan, manajemen risiko otomatis, dan tampilan single-screen yang sederhana menjadi keunikan tersendiri dari fitur Pintu Futures Lite di tengah lanskap trading derivatif crypto di Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga: Pluang Hadirkan Agentic Trading, Transaksi Saham dan Kripto Pakai AI

Meningkatnya perhatian terhadap perdagangan derivatif bukan hanya terjadi di Indonesia. Secara global, aktivitas perdagangan instrumen ini juga menunjukkan skala yang jauh lebih besar dibandingkan perdagangan spot.

Berdasarkan laporan 2026 Q2 Crypto Industry Report dari CoinGecko, volume perdagangan derivatif crypto global pada kuartal II 2026 mencapai USD12,7 triliun. Pada periode yang sama, perdagangan spot tercatat sebesar USD1,95 triliun.

Di Indonesia, data dari bursa crypto CFX menunjukkan nilai perdagangan pasar derivatif mencapai Rp4,4 triliun per April 2026.

Angka tersebut menunjukkan bahwa derivatif bukan lagi sekadar instrumen yang berada di pinggir ekosistem crypto. Aktivitasnya semakin besar dan berpotensi menjadi bagian penting dari perkembangan industri aset digital.

Namun, besarnya volume transaksi juga perlu dibaca secara hati-hati. Tingginya aktivitas perdagangan tidak otomatis berarti instrumen tersebut semakin aman bagi investor ritel.

Justru sebaliknya, semakin mudah sebuah instrumen diakses, semakin besar pula kebutuhan terhadap edukasi.

Hal ini menjadi penting karena karakter perdagangan derivatif berbeda dengan transaksi spot.

Pada perdagangan spot, investor membeli atau menjual aset secara langsung. Sementara pada derivatif dengan leverage, perubahan harga yang relatif kecil dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar terhadap posisi yang dibuka.

Karena itu, kemudahan penggunaan aplikasi sebaiknya tidak dipahami sebagai kemudahan untuk mengambil risiko.

PINTU sendiri menyadari bahwa penggunaan leverage memiliki risiko tinggi. Andy mengingatkan bahwa trader tetap perlu melakukan riset mandiri dan menerapkan pengelolaan risiko sebelum melakukan transaksi.

“Kami optimis kehadiran Pintu Futures Lite dapat mendorong lebih banyak masyarakat Indonesia memahami instrumen derivatif crypto secara bertahap dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Menurut Andy, PINTU juga akan mengembangkan fitur edukasi terintegrasi serta memperluas pilihan aset yang dapat diperdagangkan melalui Pintu Futures Lite.

"Peringatan tersebut menjadi penting karena leverage pada dasarnya bekerja dua arah. Ketika prediksi trader tepat, potensi keuntungan dapat meningkat. Namun ketika prediksi meleset, kerugian juga dapat membesar. Bahkan, pengguna berpotensi kehilangan seluruh modal yang digunakan dalam transaksi. Di sinilah tantangan terbesar adopsi derivatif crypto sebenarnya berada. Bukan sekadar bagaimana membuat teknologi lebih mudah digunakan, tetapi bagaimana memastikan pengguna memahami apa yang mereka lakukan sebelum membuka posisi," paparnya.

Oleh karena itu, Andy menjelaskan tampilan antarmuka yang sederhana memang dapat mengurangi hambatan teknis. Namun, kesederhanaan tampilan tidak boleh membuat kompleksitas risikonya ikut terlihat sederhana.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.