Akurat Logo

FOMO dan Investasi Bodong Jadi Ancaman Baru bagi Generasi Muda

Idham Nur Indrajaya | 4 September 2026, 11:43 WIB
FOMO dan Investasi Bodong Jadi Ancaman Baru bagi Generasi Muda
FOMO dan investasi bodong mengancam generasi muda. Kenali risikonya dan pentingnya literasi keuangan sebelum berinvestasi. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Satu unggahan di media sosial bisa membuat seseorang merasa tertinggal. Ketika teman, influencer, atau figur yang diikuti membagikan cerita tentang keuntungan investasi, muncul dorongan untuk ikut sebelum kesempatan tersebut hilang.

Masalahnya, keputusan finansial yang lahir dari rasa takut ketinggalan atau fear of missing out (FOMO) dapat membuat seseorang melewati proses penting sebelum berinvestasi. Mulai dari memeriksa legalitas, memahami mekanisme produk, menghitung risiko, hingga memastikan informasi yang diterima benar.

Situasi tersebut menjadi tantangan baru bagi generasi muda. Kemudahan mendapatkan informasi investasi melalui ruang digital memang membuka akses terhadap pengetahuan finansial, tetapi pada saat yang sama membuat masyarakat berhadapan dengan informasi yang belum tentu akurat, tawaran investasi mencurigakan, hingga penipuan yang dikemas secara meyakinkan.

Karena itu, literasi keuangan generasi muda kini tidak cukup hanya mengajarkan cara menabung atau membuat anggaran. Anak muda juga perlu memiliki kemampuan mengenali risiko, memeriksa informasi investasi, melindungi data pribadi, dan menahan diri ketika keputusan mulai dipengaruhi FOMO.

Mengapa FOMO Bisa Mendorong Keputusan Investasi yang Terburu-buru?

FOMO pada dasarnya berkaitan dengan rasa takut tertinggal dari suatu tren atau kesempatan. Dalam investasi, perasaan tersebut dapat muncul ketika seseorang melihat orang lain mengaku memperoleh keuntungan dari aset atau produk tertentu.

Persoalannya bukan semata-mata pada keinginan untuk mendapatkan keuntungan.

FOMO dapat memperpendek proses pengambilan keputusan. Seseorang yang awalnya ingin mencari informasi lebih lanjut bisa berubah pikiran setelah melihat narasi bahwa kesempatan tersebut hanya tersedia dalam waktu terbatas.

Pola sederhananya dapat terlihat seperti ini:

melihat orang lain untung → merasa tertinggal → takut kehilangan kesempatan → ikut berinvestasi → risiko belum diperiksa.

Dalam kondisi seperti itu, potensi keuntungan bisa menjadi lebih menonjol dibandingkan potensi kerugian.

Padahal, keputusan investasi seharusnya tidak hanya mempertimbangkan berapa besar keuntungan yang mungkin diperoleh. Mekanisme produk, risiko, legalitas, biaya, serta kemampuan menanggung kerugian juga perlu dipahami.

Media Sosial Memudahkan Informasi Investasi, tetapi Tidak Selalu Aman

Media sosial mengubah cara generasi muda mendapatkan informasi finansial.

Dulu, seseorang mungkin perlu membaca buku, mengikuti seminar, atau berkonsultasi untuk mendapatkan informasi mengenai investasi. Sekarang, penjelasan mengenai investasi dapat muncul di linimasa dalam bentuk video pendek, unggahan, podcast, maupun diskusi komunitas.

Akses tersebut memiliki sisi positif karena membuat edukasi finansial lebih mudah dijangkau.

Namun, banyaknya informasi tidak otomatis membuat seseorang lebih melek finansial.

Tantangannya justru bergeser dari mencari informasi menjadi menilai informasi.

Konten yang viral tidak otomatis benar. Testimoni keuntungan juga bukan bukti bahwa suatu investasi sesuai untuk semua orang. Banyaknya komentar positif tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa suatu tawaran legal dan aman.

Kondisi tersebut membuat kemampuan berpikir kritis menjadi bagian penting dari literasi keuangan.

Generasi muda perlu membiasakan diri bertanya: siapa penyedia produk tersebut, bagaimana mekanismenya, dari mana keuntungan berasal, apa risikonya, dan apakah informasi tersebut dapat diverifikasi?

Mengapa Investasi Bodong Sulit Dikenali?

Istilah investasi bodong sering membuat orang membayangkan penawaran yang terlihat jelas mencurigakan.

Dalam praktiknya, sebuah tawaran finansial yang berisiko tidak selalu tampil dengan cara demikian.

Tawaran dapat dikemas menggunakan istilah finansial, desain aplikasi yang terlihat profesional, testimoni pengguna, komunitas, atau narasi mengenai peluang keuntungan. Tekanan untuk segera mengambil keputusan juga dapat digunakan untuk membuat calon konsumen tidak sempat melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Di sinilah FOMO dan investasi bodong dapat saling beririsan.

Ketika seseorang sudah merasa takut kehilangan kesempatan, ajakan untuk segera bertindak dapat terasa semakin meyakinkan. Proses verifikasi yang seharusnya dilakukan justru dianggap sebagai hambatan.

Risikonya menjadi lebih besar ketika seseorang mengambil keputusan hanya berdasarkan pengalaman orang lain.

Literasi keuangan karena itu tidak cukup mengajarkan “apa itu investasi”. Pemahaman juga perlu mencakup bagaimana menilai sebuah tawaran sebelum uang benar-benar dikeluarkan.

Baca Juga: 4 Anak Nasabah Allianz Tampil di Ajang Sepak Bola Internasional di Taiwan

Baca Juga: Allianz Perluas Makna Proteksi, Dorong Pengembangan Talenta Muda Lewat Kejuaraan Sepak bola di Taiwan

Tak Cukup Bisa Menabung, Generasi Muda Juga Harus Bisa Mengenali Risiko

Kemampuan menabung tetap penting. Namun, tantangan finansial di era digital membuat definisi literasi keuangan semakin luas.

Kemampuan dasar seperti mengatur pengeluaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyisihkan uang perlu dilengkapi dengan kemampuan menghadapi risiko.

Risiko tersebut antara lain:

  • FOMO investasi;

  • penipuan keuangan;

  • informasi investasi yang menyesatkan;

  • penyalahgunaan data pribadi;

  • tawaran dengan janji keuntungan yang tidak masuk akal;

  • tekanan untuk mengambil keputusan dalam waktu singkat.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa literasi keuangan tidak lagi hanya berkaitan dengan bagaimana menggunakan uang, tetapi juga bagaimana melindungi uang dan diri sendiri ketika berhadapan dengan informasi finansial.

Generasi muda perlu bergerak dari sekadar mengetahui menuju kemampuan mengambil keputusan.

Prosesnya dapat digambarkan sebagai:

tahu → paham → memeriksa → mempertimbangkan → memutuskan → mengevaluasi.

Semakin tinggi risikonya, semakin penting proses tersebut tidak dilewati.

Smart Money Habits Ajarkan Generasi Muda Mengenali Risiko Investasi

Persoalan tersebut menjadi salah satu konteks dalam program literasi keuangan Allianz Indonesia.

Melalui program Smart Money Habits, peserta diperkenalkan dengan sejumlah risiko finansial digital, termasuk penipuan, penyalahgunaan data pribadi, informasi investasi yang menyesatkan, dan FOMO.

Pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi. Peserta juga mendapatkan pengalaman melalui simulasi, studi kasus, diskusi kelompok, kuis, lembar kerja, dan aktivitas pembelajaran lainnya.

Pendekatan ini menarik karena peserta tidak hanya diminta mengingat definisi investasi atau penipuan.

Mereka juga diajak memahami bagaimana sebuah keputusan dibuat dan apa saja yang perlu diperhatikan sebelum keputusan tersebut diambil.

Bagi generasi muda, pembelajaran semacam itu dapat membantu menghubungkan teori dengan situasi yang mungkin ditemui sehari-hari, terutama ketika informasi finansial muncul melalui media sosial.

Ni Made Daryanti, Ketua Yayasan Allianz Peduli, mengatakan perlindungan konsumen seharusnya dimulai sebelum keputusan finansial dibuat.

“Perlindungan konsumen perlu dimulai sebelum seseorang mengambil keputusan finansial. Melalui edukasi yang relevan dan aplikatif, kami ingin membantu generasi muda memahami pilihan yang tersedia, mengenali risiko yang mungkin timbul, serta langkah yang perlu dilakukan untuk melindungi diri. Dengan kemampuan tersebut, mereka diharapkan dapat menjadi konsumen yang lebih kritis, mandiri, dan bertanggung jawab,” ujar Ni Made Daryanti melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Kamis, 3 September 2026.

Pernyataan tersebut memperlihatkan perubahan orientasi dalam edukasi finansial, dari sekadar meningkatkan pengetahuan menjadi membangun kemampuan mengambil keputusan.

98% Peserta Memahami Praktik Investasi yang Aman

Program Smart Money Habits 2026 melibatkan 828 siswa dari 10 sekolah di Jakarta, Sukabumi, Bandung, Yogyakarta, dan Kutoarjo.

Kegiatan tersebut berlangsung dalam 20 aktivitas dengan total 90 jam pembelajaran serta melibatkan 94 relawan Allianz.

Hasil evaluasi program menunjukkan 98% peserta memahami praktik investasi yang aman dan mampu mengidentifikasi indikasi investasi yang patut dipertanyakan.

Sebanyak 94% peserta memahami perbedaan antara menabung dan investasi. Sebanyak 92% menyatakan tertarik mulai berinvestasi dengan nominal yang terjangkau, sedangkan 90% merasa mampu membagikan pengetahuan literasi keuangan kepada orang lain.

Data tersebut memberikan gambaran mengenai hasil pembelajaran dalam program.

Namun, angka 98% tersebut tidak boleh dibaca sebagai representasi seluruh generasi muda Indonesia. Angka tersebut merupakan hasil evaluasi terhadap peserta Smart Money Habits 2026.

Konteks tersebut penting agar data tidak digunakan secara berlebihan. Meski demikian, hasil evaluasi menunjukkan bahwa pengenalan terhadap praktik investasi aman dan kemampuan mengenali indikasi mencurigakan menjadi bagian penting dalam materi literasi keuangan yang diberikan kepada peserta.

Simulasi: Ketika FOMO Bertemu Tawaran Investasi

Bayangkan seorang mahasiswa melihat unggahan temannya di media sosial.

Dalam unggahan tersebut, temannya mengaku mendapatkan keuntungan dari sebuah investasi. Tidak lama kemudian muncul sebuah tawaran yang mengatakan bahwa kesempatan tersebut hanya tersedia dalam waktu terbatas.

Pada tahap ini, FOMO mulai bekerja.

Pertanyaan yang muncul bukan lagi “apakah saya memahami produk ini?”, melainkan “bagaimana kalau semua orang sudah untung sementara saya tidak ikut?”

Perbedaan kedua pertanyaan tersebut sangat penting.

Keputusan yang didorong pertanyaan pertama membuka ruang untuk pemeriksaan. Keputusan yang didorong pertanyaan kedua berpotensi membuat seseorang mengejar kesempatan sebelum memahami risikonya.

Dalam situasi seperti ini, langkah yang lebih hati-hati adalah berhenti sejenak.

Calon investor dapat memeriksa identitas dan legalitas penyedia, memahami mekanisme produk, mencari tahu bagaimana keuntungan dihasilkan, membaca risiko, serta memastikan informasi yang diberikan dapat diverifikasi.

Tekanan untuk segera mentransfer uang atau memberikan data pribadi juga patut menjadi perhatian.

Intinya bukan berarti setiap investasi yang sedang viral merupakan investasi bodong. Persoalannya adalah popularitas sebuah tawaran tidak boleh menggantikan proses pemeriksaan.

Apa yang Harus Dilakukan Sebelum Mengikuti Tren Investasi?

Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat membantu mengurangi keputusan finansial akibat FOMO.

Jangan Menjadikan Keuntungan Orang Lain sebagai Alasan Membeli

Keuntungan yang diperoleh orang lain tidak otomatis berarti produk tersebut sesuai dengan kondisi finansial seseorang.

Setiap keputusan perlu mempertimbangkan tujuan, kemampuan, dan risiko masing-masing.

Periksa Identitas dan Legalitas Penyedia

Sebelum mempercayakan dana, identitas penyedia produk dan status legalitasnya perlu diperiksa melalui sumber resmi.

Pahami Bagaimana Keuntungan Dihasilkan

Jika seseorang tidak dapat memahami dari mana keuntungan berasal, keputusan untuk menempatkan uang sebaiknya tidak dilakukan secara terburu-buru.

Waspadai Tekanan untuk Segera Membayar

Kalimat seperti “kesempatan terakhir”, “hanya hari ini”, atau “jangan sampai ketinggalan” dapat mendorong keputusan emosional.

Tekanan semacam itu seharusnya menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, bukan alasan untuk semakin cepat mentransfer dana.

Lindungi Data Pribadi

Nomor identitas, informasi rekening, kode OTP, kata sandi, dan data finansial lainnya perlu dijaga.

Kerugian akibat penipuan tidak selalu dimulai dari keputusan investasi. Penyalahgunaan data juga dapat menjadi pintu masuk masalah finansial.

Perlindungan Konsumen Harus Dimulai Sebelum Kerugian Terjadi

Pendekatan preventif menjadi semakin penting ketika keputusan finansial dapat dilakukan dengan cepat melalui perangkat digital.

Jika seseorang baru belajar mengenai risiko setelah kehilangan uang, proses pemulihannya tentu berbeda dengan kondisi ketika orang tersebut sudah mengetahui risiko sebelum membuat keputusan.

Karena itu, edukasi perlindungan konsumen idealnya dilakukan sebelum transaksi.

Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari perkembangan program literasi Allianz Indonesia selama 2024–2026. Program yang dijalankan mencakup Allianz Smart Plan Board Game, Smart Financing: Financial Race, hingga Smart Money Habits.

Secara keseluruhan, program literasi tersebut disebut telah menjangkau 34.167 penerima manfaat sepanjang 2024–2026.

Perkembangannya memperlihatkan pergeseran materi dari pengelolaan uang menuju kemampuan menghadapi risiko finansial yang semakin kompleks.

Mengapa Edukasi Finansial Harus Mengajarkan Kemampuan Mengatakan “Tidak”?

Literasi keuangan sering dikaitkan dengan kemampuan mengatakan “ya”: ya untuk menabung, ya untuk membuat anggaran, atau ya untuk mulai berinvestasi.

Padahal, dalam ekosistem finansial digital, kemampuan mengatakan “tidak dulu” juga penting.

Seseorang perlu mampu menunda keputusan ketika belum memahami produk. Keputusan juga sebaiknya tidak dipaksakan ketika informasi yang tersedia belum cukup atau tawaran justru menggunakan tekanan waktu.

Menunda bukan berarti kehilangan semua peluang.

Dalam konteks pengelolaan risiko, menunda keputusan dapat menjadi kesempatan untuk memeriksa informasi dan memastikan seseorang tidak mengambil keputusan hanya karena takut tertinggal.

Hal tersebut menjadi semakin penting bagi generasi muda yang berhadapan dengan arus informasi finansial setiap hari.

Dari Tahu Investasi hingga Mampu Menghindari Investasi Bodong

Ancaman FOMO dan investasi bodong menunjukkan bahwa literasi keuangan perlu bergerak melampaui kemampuan menghitung uang.

Generasi muda tetap perlu memahami tabungan, anggaran, investasi, dan tujuan finansial. Namun, pengetahuan tersebut perlu dilengkapi kemampuan menyaring informasi dan mengenali risiko.

Dalam konteks tersebut, edukasi melalui simulasi, studi kasus, permainan, dan diskusi dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan konsekuensi keputusan finansial secara lebih konkret.

Ni Made Daryanti mengatakan pengembangan edukasi perlu diarahkan pada kemampuan menerapkan pengetahuan.

“Penghargaan ini mendorong kami untuk terus mengembangkan edukasi yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membangun kemampuan peserta untuk menerapkannya. Ke depan, kami akan terus memperkuat metode pembelajaran dan evaluasi agar pemahaman yang diperoleh dapat mendukung perilaku keuangan yang lebih bertanggung jawab dalam jangka panjang,”

Pada akhirnya, tantangan finansial generasi muda bukan hanya soal menemukan investasi yang menarik.

Tantangan yang tidak kalah penting adalah mengetahui kapan harus berhenti dan memeriksa kembali sebuah tawaran.

Di tengah arus informasi yang bergerak cepat, kemampuan untuk tidak terbawa FOMO, mengenali indikasi investasi bodong, memeriksa legalitas, memahami risiko, serta melindungi data pribadi menjadi bagian dari literasi keuangan yang semakin relevan.

Baca Juga: Program Sosial Allianz Indonesia Jangkau 2,1 Juta Orang Sepanjang 2025

Baca Juga: Nilai Brand Allianz Naik 22 Persen Jadi US$60,7 Miliar, Terkuat di Industri Asuransi

FAQ

Apa itu FOMO investasi?

FOMO investasi adalah rasa takut tertinggal dari peluang atau tren investasi yang dapat mendorong seseorang mengambil keputusan karena melihat orang lain memperoleh keuntungan.

Mengapa FOMO berbahaya dalam investasi?

FOMO dapat membuat seseorang mengambil keputusan secara terburu-buru sebelum memahami produk, risiko, legalitas, dan mekanisme investasi.

Apa hubungan media sosial dengan FOMO investasi?

Media sosial membuat informasi mengenai keuntungan investasi dapat menyebar dengan cepat. Paparan berulang terhadap cerita keberhasilan dapat menimbulkan perasaan tertinggal dan mendorong seseorang ikut berinvestasi.

Apa saja tanda tawaran investasi yang perlu dicurigai?

Tawaran yang menekan calon investor untuk segera membayar, memberikan informasi yang sulit diverifikasi, atau menonjolkan keuntungan tanpa menjelaskan risiko perlu diperiksa secara hati-hati.

Apakah investasi yang viral di media sosial pasti aman?

Tidak. Popularitas di media sosial bukan indikator legalitas atau keamanan suatu produk investasi. Legalitas dan informasi mengenai produk perlu diperiksa melalui sumber resmi.

Mengapa literasi keuangan penting untuk mencegah investasi bodong?

Literasi keuangan membantu seseorang tidak hanya memahami investasi, tetapi juga memeriksa informasi, mengenali risiko, melindungi data pribadi, dan menghindari keputusan yang dibuat karena tekanan atau FOMO.

Bagaimana cara menghindari keputusan investasi karena FOMO?

Berhenti sejenak sebelum mengambil keputusan, periksa legalitas penyedia, pahami mekanisme dan risiko produk, serta jangan menjadikan keuntungan orang lain sebagai satu-satunya alasan untuk berinvestasi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.