Manufaktur RI Mau Didorong Lagi, Ini 3 Target yang Bakal Dibidik

AKURAT.CO Pemerintah kembali menempatkan sektor manufaktur sebagai salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menilai manufaktur tidak hanya penting untuk meningkatkan aktivitas produksi, tetapi juga memiliki peran dalam memperluas ekspor, mempercepat pembelajaran teknologi, menciptakan pekerjaan formal, dan meningkatkan nilai tambah domestik.
Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi Kemenkeu, Noor Faisal Achmad mengatakan Indonesia membutuhkan penguatan sektor manufaktur untuk membangun mesin pertumbuhan yang lebih produktif.
“Manufaktur perlu kembali memperoleh momentum sebagai mesin produktivitas, ekspor, pembelajaran teknologi dan penciptaan lapangan kerja formal,” ujar Noor dalam diskusi Kementerian PPN/Bappenas dan Asian Development Bank Institute (ADBI) di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Baca Juga: Modal Asing Masuk, Kemenkeu Soroti Ujian Besar Ekonomi RI
Dorongan tersebut muncul ketika Indonesia menghadapi tantangan untuk meningkatkan produktivitas dan menghindari jebakan pendapatan menengah.
Dalam kajian terbaru ADBI, Indonesia memiliki skor probabilitas 0,44 untuk keluar dari middle-income trap. Angka itu masih berada di bawah ambang 0,6 yang digunakan dalam kajian tersebut.
ADBI menilai Indonesia perlu memperkuat kemampuan domestik untuk meningkatkan nilai tambah. Salah satu caranya melalui pendalaman manufaktur, pengembangan pemasok domestik, penarikan investasi asing langsung yang berorientasi teknologi, peningkatan keterampilan dan inovasi, serta keterlibatan dalam rantai nilai regional.
Kebutuhan untuk memperkuat manufaktur juga berkaitan dengan struktur ekonomi Indonesia yang masih menghadapi persoalan ketergantungan pada sumber daya alam dan pekerjaan informal.
Kajian ADB mengenai Indonesia menyebut diversifikasi ekonomi, penguatan sumber daya manusia, serta pengurangan ketergantungan pada industri primer dan ekstraktif menjadi bagian penting agar Indonesia dapat mencapai status berpendapatan tinggi.
Baca Juga: PMI Manufaktur Indonesia Turun ke 49,8 pada Agustus 2026
Karena itu, pemerintah tidak ingin pengembangan manufaktur hanya berhenti pada peningkatan aktivitas pengolahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









