Modal Asing Masuk, Kemenkeu Soroti Ujian Besar Ekonomi RI

AKURAT.CO Indonesia menghadapi tantangan baru dalam menjaga pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Persoalannya bukan lagi semata-mata bagaimana menarik investasi sebanyak mungkin, melainkan memastikan modal yang masuk mampu meningkatkan produktivitas dan menghasilkan nilai tambah di dalam negeri.
Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Noor Faisal Achmad mengatakan investasi tetap menjadi salah satu faktor penting untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Namun, peningkatan volume investasi tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan yang tinggi dan berkelanjutan.
“Indonesia perlu lebih berfokus pada peningkatan produktivitas dan efisiensi investasi agar modal yang masuk dapat menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian,” kata Noor dalam diskusi yang diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas bersama Asian Development Bank Institute (ADBI) di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Baca Juga: Bos ADBI Beberkan PR Gubernur BI Baru: Jaga Rupiah hingga Dorong Pertumbuhan
Pernyataan tersebut menjadi relevan di tengah tantangan Indonesia untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi dan keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap).
Dalam kajian terbaru ADBI, Indonesia masih dinilai belum berada pada posisi aman untuk keluar dari middle-income trap. CEO ADBI Bambang Brodjonegoro menyebut Indonesia memiliki skor probabilitas 0,44, sementara ambang yang digunakan dalam kajian tersebut berada di level 0,6.
Sebagai pembanding, Jepang memiliki skor probabilitas 0,97, Singapura 0,95, dan Korea Selatan 0,91 sebelum negara-negara tersebut beralih menjadi negara berpendapatan tinggi.
Artinya, tantangan Indonesia bukan sekadar menjaga pertumbuhan ekonomi tetap positif. Pemerintah perlu memastikan pertumbuhan tersebut menghasilkan peningkatan produktivitas, pendapatan, kualitas pekerjaan, serta nilai tambah yang lebih tinggi.
Noor mengidentifikasi sejumlah persoalan struktural yang masih menghambat peningkatan produktivitas. Di antaranya kesenjangan keterampilan tenaga kerja, tingginya tingkat informalitas, intermediasi keuangan yang relatif terbatas dan mahal, serta regulasi kemudahan berusaha dan pasar tenaga kerja yang perlu lebih dapat diprediksi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







