Timpang Literasi dan Inkluasi Dana Pensiun

AKURAT.CO Pengetahuan masyarakat Indonesia soal dana pensiun mulai meningkat, tetapi belum sepenuhnya diikuti dengan kepesertaan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tingkat literasi dana pensiun pada 2026 mencapai 22,21%, sementara tingkat inklusinya baru 5,10%.
Kesenjangan tersebut menjadi salah satu tantangan dalam memperluas perlindungan finansial masyarakat saat memasuki masa pensiun.
OJK menilai perluasan kepesertaan menjadi penting, terutama karena pekerja informal dan pekerja mandiri memiliki karakteristik pendapatan yang berbeda dibandingkan pekerja formal.
Baca Juga: OJK Dorong Dana Pensiun Jadi Investor Jangka Panjang
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi mengatakan, perluasan peserta menjadi bagian penting dalam membangun industri dana pensiun yang lebih kuat. Menurut dia, semakin luas kepesertaan, semakin besar pula potensi dana jangka panjang yang dapat dihimpun.
"Jadi dengan lebih banyak peserta, dengan lebih besar kontribusi dan akses yang lebih luas, kita berharap dana pensiun memberikan sebuah pool uang jangka panjang yang lebih besar dan stabil," ujar Friderica dalam keterangan tertulis, Sabtu (26/9/2026).
Berdasarkan data OJK, total aset industri dana pensiun per Juli 2026 mencapai Rp1.699,99 triliun. Nilai tersebut tumbuh 6,70% secara tahunan atau year on year (yoy). Pertumbuhan terutama didorong oleh peningkatan aset investasi pada surat berharga negara.
Dari total tersebut, aset program pensiun sukarela mencapai Rp409,19 triliun atau tumbuh 4,24% yoy. Sementara itu, aset program pensiun wajib mencapai Rp1.290,80 triliun atau tumbuh 7,51% yoy.
Di sisi lain, rendahnya tingkat inklusi menunjukkan bahwa pertumbuhan aset industri belum otomatis berarti semakin banyak masyarakat yang memiliki akses atau menjadi peserta program dana pensiun.
Friderica menyebut terdapat empat tantangan utama dalam memperluas kepesertaan dana pensiun. Keempatnya adalah tingkat literasi, kemampuan masyarakat menyisihkan pendapatan atau affordability, akses atau accessibility, serta tingkat kepercayaan atau trust.
"Kalau kita bicara tentang pengembangan dan pendalaman industri dana pensiun, ada beberapa tantangan, yaitu literasi, affordability, accessibility, dan trust," kata Friderica.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









