HSBC: Rupiah ke Rp18.000 per Dolar AS Belum Tentu karena Ekonomi Indonesia Melemah

AKURAT.CO Ketika rupiah bergerak menuju level Rp18.000 per dolar AS, kekhawatiran paling mudah muncul adalah ekonomi Indonesia sedang melemah. Nilai tukar yang tertekan memang dapat menjadi sinyal penting, tetapi angka kurs tidak bisa dibaca sendirian.
HSBC melihat cerita rupiah saat ini lebih kompleks. Pelemahan rupiah tidak serta-merta menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia memburuk karena dolar AS juga sedang berada dalam posisi kuat terhadap banyak mata uang dunia.
Menurut HSBC, level sekitar Rp18.000 per dolar AS masih merupakan level yang masuk akal dalam konteks kekuatan dolar AS. Artinya, pelemahan rupiah tidak otomatis mencerminkan memburuknya ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang tetap berada di atas 5%, inflasi yang relatif terkendali, fiskal yang terjaga, serta mulai kembalinya arus modal menjadi faktor lain yang perlu diperhatikan.
Rupiah Rp18.000 Tak Otomatis Berarti Ekonomi Indonesia Melemah
Nilai tukar pada dasarnya merupakan harga relatif antara dua mata uang.
Ketika rupiah berada di level Rp18.000 per dolar AS, angka tersebut menunjukkan berapa banyak rupiah yang dibutuhkan untuk mendapatkan satu dolar. Perubahan angka tersebut bisa terjadi karena rupiah melemah, dolar AS menguat, atau kombinasi keduanya.
Perbedaan tersebut penting.
Jika rupiah melemah karena investor kehilangan kepercayaan terhadap ekonomi domestik, penyebabnya bisa berkaitan dengan inflasi, defisit fiskal, pertumbuhan yang melambat, atau keluarnya modal asing.
Baca Juga: Bukan Selalu Beban, HSBC Ungkap Sisi Lain Suku Bunga Tinggi bagi Ekonomi Indonesia
Baca Juga: HSBC: Rupiah Tak Lagi Jadi Masalah Utama, Fokus Indonesia Bergeser ke Reformasi Mikro
Namun, jika dolar AS menguat terhadap banyak mata uang secara bersamaan, tekanan terhadap rupiah bisa lebih banyak berasal dari faktor eksternal.
Kondisi inilah yang menjadi bagian penting dari pandangan Frederic Neumann, Chief Asia Economist HSBC.
Ia menilai rupiah telah relatif stabil setelah sebelumnya mendapatkan tekanan cukup besar. Bank Indonesia juga dinilai telah melakukan pengetatan moneter secara agresif untuk membantu menahan tekanan tersebut.
Dalam konteks kondisi global saat ini, Neumann menyebut level sekitar Rp18.000 per dolar AS sebagai angka yang masih masuk akal.
“Sekitar Rp18.000 merupakan target yang masuk akal,” ujar Neumann dalam media briefing HSBC Indonesia Summit 2026 di Jakarta, Selasa, 29 September 2026.
Pernyataan tersebut tidak berarti HSBC menjadikan Rp18.000 sebagai target resmi pemerintah atau Bank Indonesia. Angka tersebut merupakan pandangan Neumann mengenai level yang masuk akal dalam konteks kondisi dolar AS dan waktu menuju akhir 2026.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







