Bukan Sekadar Cari Cuan, DBS Ungkap Alasan Emas Tetap Penting di Portofolio

AKURAT.CO Bayangkan seorang investor sudah membagi uangnya ke saham dan obligasi dengan harapan keduanya saling menyeimbangkan. Masalahnya, ketika inflasi tinggi dan suku bunga membuat pasar obligasi tertekan, saham juga bisa ikut bergejolak. Di titik inilah pertanyaan tentang emas dalam portofolio menjadi lebih menarik: apakah emas harus selalu naik untuk tetap berguna?
Dalam outlook Chief Investment Office (CIO) DBS untuk kuartal IV 2026, emas justru ditempatkan sebagai salah satu aset yang dipertahankan dalam posisi tambah bobot. DBS melihat emas bukan semata-mata sebagai instrumen untuk mengejar kenaikan harga, melainkan sebagai sumber diversifikasi ketika ketidakpastian pasar meningkat.
Secara sederhana, alasan emas tetap penting dalam portofolio menurut DBS bertumpu pada empat hal: diversifikasi, likuiditas, perlindungan kekayaan, serta ketahanannya ketika kepercayaan terhadap mata uang atau kredit pemerintah melemah. Laporan khusus emas DBS juga menyebut alokasi strategis 5–10% sebagai titik awal untuk portofolio seimbang dalam kerangka analisis mereka.
Chief Investment Officer DBS Hou Wey Fook menyampaikan pesan yang lebih luas dalam laporan CIO 4Q26: “A diversified, multi-asset portfolio is the best defence against geopolitical uncertainty and growth headwinds.”
Baca Juga: CORE: Legalkan Tambang Emas Rakyat Agar Bermanfaat Buat Penerimaan Negara
Baca Juga: Peningkatan Kapasitas Produksi Jadi Tantangan Produsen Emas, Begini Kata HRTA
Mengapa Emas dalam Portofolio Bukan Sekadar Soal Harga Naik?
Cara paling sederhana memahami posisi emas adalah dengan membedakan return sebuah aset dan fungsi aset tersebut terhadap keseluruhan portofolio.
Investor tentu ingin asetnya naik. Namun, sebuah aset juga bisa memiliki nilai strategis apabila pergerakannya tidak sepenuhnya mengikuti aset lain. Ketika satu kelompok aset mengalami tekanan, keberadaan aset dengan karakter berbeda dapat membantu mengubah profil risiko keseluruhan portofolio.
Inilah konteks penting dari pandangan DBS. Dalam laporan Gold: Not in Need of a New Story, Chief Investment Office DBS menegaskan bahwa peran strategis emas tetap bertahan terlepas dari katalis harga berikutnya. Nilai emas dari perspektif konstruksi portofolio disebut berasal dari diversifikasi, likuiditas, dan perlindungan kekayaan.
Dengan kata lain, pertanyaannya bukan hanya “berapa persen emas bisa naik?”, tetapi juga “apa yang terjadi pada portofolio ketika kondisi pasar berubah?”
Kerangka berpikir tersebut menjadi semakin relevan ketika saham dan obligasi tidak selalu memberikan perlindungan satu sama lain. Dalam rezim inflasi, korelasi kedua aset dapat meningkat sehingga strategi tradisional yang hanya mengandalkan saham dan obligasi menghadapi tantangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







