Kisah Imam Syafi'i: Kepulangan Yang Ditolak Sang Ibu

AKURAT.CO Imam asy-Syafi'i atau imam Syafi'i adalah seorang teolog muslim beretnis Arab. Memiliki nama asli Abu 'Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi'i, merupakan salah satu kontributor pertama dari prinsip-prinsip Usul al-fiqh.
Imam Syafi'i lahir di Kota Asqalan, Palestina, pada tahun 150 H atau 767 M. Imam Syafi’i merupakan klan Quraisy dari Bani Muthalib yang merupakan saudara dari klan Bani Hasyim, klan nabi Muhammad SAW dan leluhur para khalifah Abbasiyah.
Meski Imam Syafi’i memiliki garis keturunan dengan posisi sosial yang tinggi, namun ia lahir dan tumbuh dalam keluarga yang miskin. Bahkan terdapat sebuah riwayat yang menceritakan jika ibunya tidak mampu membeli kertas hingga Imam Syafi’i menulis di atas tulang.
Baca Juga: Biografi Imam Syafi'i Lengkap Dan Perannya Bagi Dunia Islam
"Ibuku tidak memiliki sesuatu yang bisa ia berikan padaku untuk membeli kertas. Jika kulihat bongkahan tulang yang lebar, kupungut lalu kujadikan tempat menulis. Apabila sudah penuh, kuletakkan di tempayan yang kami miliki."
Imam Syafi'i merupakan seorang yatim sedari kecil. Khawatir akan kehilangan garis keturunan Syafi;i- pada anaknya, ibu Imam Syafi’i pun memutuskan untuk pindah ke Makkah ketika Imam Syafi’i berusia sekitar dua tahun.
Imam Syafi’i semasa mudanya terkenal rajin belajar. Di usia tujuh tahun, Imam Syafi’i telah menghafal Al-Qur’an. Pada usia sepuluh tahun, ia telah menghafal di luar kepala, Muwatta’ –kitab hadis dan fiqih– karya Imam Malik bin Anas, yang membuat gurunya, az-Zanji kerap menunjuk Imam Syafi’i untuk mengajar saat dirinya berhalangan. Imam Syafi’i pun telah diberikan wewenang untuk mengeluarkan fatwa di usia lima belas tahun.
Baca Juga: Kisah Imam Syafi'i, Ulama Besar yang Menjadi Panutan Mayoritas Muslim Indonesia
Kehebatan Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu, ternyata tak lepas dari peran sang ibu. Terdapat salah satu kisah yang menceritakan bagaimana hebatnya ibu Imam Syafi’i. Melalui cerita ini, maka tak heran jika ibu Imam Syafi’i berhasil mendidik dan membesarkan anak yang kelak menjadi imam Sunni besar.
Kepulangannya yang ditolak
Meski kehidupan Imam Syafi’i dan ibunya diselimuti dengan kemiskinan, namun hal tersebut tak menutup jalan dan usaha untuk Imam Syafi’i menuntut ilmu.
Dikisahkan, guru Imam Syafi’i mengatakan jika tidak memiliki bekal lagi untuk mengajarkan Imam Syafi’i. Kemudian ia memerintahkan Imam Syafi’i untuk pergi ke Makkah.
"Syafi’i, sudah habis ilmuku, pergi kau ke Madinah," kata gurunya seperti disampaikan oleh Buya Yahya dalam Youtube Al Bahjah TV.
Kemudian Imam Syafi’i pun pamit kepada sang ibu untuk menuntut ilmu di Madinah. Ibu Imam Syafi’i melepas kepergian anaknya dengan ridha, demi anaknya menuntut ilmu sebanyak mungkin.
"Pergilah anakku, Allah bersamamu. Engkau akan menjadi bintang paling gemerlap di kemudian hari. Pergilah. ibu telah rida melepasmu. Ingatlah bahwa Allah adalah sebaik-baik penolong."
Ketika di Madinah, Imam Syafi’i berguru dengan Imam Malik bin Anas yang juga salah satu imam besar Islam. Imam Malik merupakan ulama besar di Madinah yang terkagum-kagum dengan kecerdasan Imam Syafi’i sehingga menjadikan Imam Syafi’i murid kesayangannya.
Setelah menuntut ilmu di Madinah, Imam Syafi’i melanjutkan perjalanannya ke Irak bersama murid-murid Imam Abu Hanifah. Di Irak, Imam Syafi’i menjadi pembelajar yang unggul hingga namanya terdengar ke seluruh penjuru negeri. Hingga akhirnya ia diberi kepercayaan untuk mengajar dan menjadi ulama besar di penjuru Hijaz dan Irak, dalam waktu yang singkat.
Hingga satu ketika ibu Imam Syafi’i mendengarkan pengajian di Masjidil Haram yang dipimpin oleh seorang ulama dari Irak. Ulama tersebut terus menyebut-nyebut nama Muhammad bin Idris asy-Syafi’i. Hal ini membuat ibu Imam Syafi’i keheranan hingga bertanya pada ulama tersebut, siapa yang dimaksud dengan Muhammad bin Idris asy-Syafi’i.
Ulama itu menjawab jika nama yang dimaksudnya adalah gurunya, seorang ulama besar di Irak yang berasal dari Kota Makkah. Ibu imam Syafi'i pun terkejut dan berkata, "Sesungguhnya Muhammad bin Idris Asy Syafii adalah anakku."
Mendengar perkataan itu, sang ulama pun langsung tunduk hormat kepada ibu Imam Syafi’i. Ibu Imam Syafi’i pun berpesan pada ulama itu, "Katakan pada anakku, jika ia ingin pulang ke Mekkah, maka pulanglah."
Sesampainya di Irak, ulama itu langsung bertemu Imam Syafi’i dan menyampaikan pesan ibunya. Sebelum pulang, Imam Syafi’i memperoleh banyak makanan, harta dan unta. Bahkan kepulangannya dikawal oleh muridnya.
Sesampainya di perbatasan Makkah, Imam Syafi’i memerintahkan muridnya memberi kabar pada ibunya jika ia akan segera sampai. Namun ketika murid Imam Syafi’i mendatangi ibunya, wanita itu bertanya, "Apa saja yang ia bawa?"
Muridnya pun menjawab, "Imam asy-Syafi'i datang dengan membawa ratusan unta dan harta yang berlimpah."
Setelah mendengar pernyataan itu, ibu Imam Syafi’i justru berkata, "Aku menyuruhnya berkelana bukan untuk mencari dunia, katakan padanya bahwa dia tidak boleh pulang ke rumah."
Setelah mengetahui respons sang ibu, Imam Syafi'i lantas membagikan seluruh harta yang ia bawa kepada penduduk Makkah dan hanya pulang membawa kitab-kitab miliknya. (Adinda Shafa Afriasti)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Trump Perintahkan Serangan Balasan, AS Kembali Gempur Iran
- 2Bagan 32 Besar Piala Dunia 2026 Rilis! Ini Jadwal Laga Big Match yang Wajib Tonton
- 3KPK Dikabarkan Gelar OTT di Kuansing, Sejumlah Pejabat Pemkab Diamankan
- 4Afrika Selatan vs Kanada: Gol Menit Akhir Stephen Eustaquio Bawa Tuan Rumah ke 32 Besar
- 5Israel Resmi Akui Genosida Armenia, Turki Murka Sebut Upaya Tutupi Kejahatan di Gaza
- 6Prediksi Skor Prancis vs Swedia Piala Dunia 2026 Lengkap dengan Riwayat Head to Head, Perkiraan Susunan Pemain, dan Statistik
- 7Update Terbaru Bagan 16 Besar Piala Dunia 2026: Jerman dan Belanda Gugur
- 8Jadwal 32 Besar Piala Dunia 2026: Brasil, Argentina hingga Portugal Siap Berburu Tiket 16 Besar
- 9Puan Desak Kasus Dokter Icha Diusut Tuntas, Minta Semua Partai Proses Kader yang Terlibat
- 10Update Terbaru Bagan 16 Besar Piala Dunia 2026: Jerman dan Belanda Gugur








