Mudik Lebaran dalam Islam: Hukum, Adab, dan Hikmah Silaturahmi Idulfitri

AKURAT.CO Mudik sudah menjadi tradisi tahunan masyarakat Indonesia setiap menjelang Idulfitri.
Banyak orang yang rela menempuh perjalanan jauh demi pulang ke kampung halaman. Namun dalam Islam, mudik bukan sekadar budaya, tetapi berkaitan erat dengan silaturahmi, bakti kepada orang tua, serta etika perjalanan.
Mudik merupakan perjalanan pulang ke kampung halaman untuk bertemu keluarga.
Dalam Islam, aktivitas ini tidak disebut secara khusus dengan istilah “mudik”, tetapi masuk ke dalam konsep silaturahmi.
Baca Juga: Menhub Optimistis FWA Efektif Urai Kepadatan Arus Mudik Lebaran 2026
Silaturahmi memiliki kedudukan sangat tinggi. Banyak hadis menjelaskan bahwa menjaga hubungan keluarga dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki.
Oleh karena itu, mudik saat Idulfitri bukan sekadar tradisi sosial, tetapi bernilai ibadah jika diniatkan dengan benar.
Hukum Mudik Lebaran
Sunnah tetapi berpahala, jika bertujuan:
- Menyambung silaturahmi
- Membahagiakan orang tua
- Meminta maaf saat Idulfitri
- Wajib, jika:
- Orang tua membutuhkan bantuan
- Hubungan keluarga terputus dan harus diperbaiki
- Ada kewajiban nafkah atau tanggung jawab keluarga
Haram, jika:
- Perjalanan membahayakan diri
- Meninggalkan kewajiban utama, misalnya keluarga inti terlantar
- Dilakukan dengan maksiat
Adab Mudik
Meluruskan niat
- Bukan sekadar liburan
- Bukan hanya pamer kesuksesan
- Tetapi silaturahmi dan memohon maaf
Menjaga Keselamatan
- Kendaraan harus layak
- Tidak memaksakan diri saat lelah
- Mematuhi aturan lalu lintas
Menghormati Orang Tua dan Keluarga
- Tidak menyakiti hati keluarga
- Menghindari perdebatan
- Mendahulukan meminta maaf
- Tidak Berlebih-lebihan
- Sederhana
- Tidak boros
- Tidak riya
Baca Juga: KAI: Tiket Mudik Lebaran 2026 Mulai Diburu, 16 Ribu Tiket Sudah Terjual
Hikmah Mudik Lebaran
- Menghapus dosa melalui saling memaafkan
- Memperkuat tali persaudaraan
- Menghidupkan tradisi keluarga
- Menghilangkan permusuhan
Mudik Idulfitri bukan hanya tradisi budaya Indonesia, tetapi aktivitas yang sejalan dengan nilai Islam.
Hukumnya bisa sunah bahkan wajib tergantung niat dan kondisi.
Selama dilakukan dengan adab yang benar, niat ibadah, menjaga keselamatan, dan mempererat silaturahmi, mudik dapat menjadi amal yang bernilai pahala besar.
Jadi, perjalanan mudik bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan hati untuk kembali bersih dan saling memaafkan.
Marina Yeremin Sindika Sari (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







