Akurat Logo

Siapa Sultan Iskandar Muda dalam Sejarah Aceh? Kisah Raja yang Membawa Kesultanan Aceh ke Puncak Kejayaan

Redaksi Akurat | 27 Juni 2026, 19:56 WIB
Siapa Sultan Iskandar Muda dalam Sejarah Aceh? Kisah Raja yang Membawa Kesultanan Aceh ke Puncak Kejayaan
Sultan Iskandar Muda

AKURAT.CO Ketika membahas siapa Sultan Iskandar Muda dalam sejarah Aceh, nama beliau selalu dikaitkan dengan masa kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam pada awal abad ke-17.

Di bawah kepemimpinannya, Aceh berkembang menjadi salah satu kerajaan Islam paling kuat di Asia Tenggara, baik dalam bidang politik, perdagangan, militer, maupun penyebaran ilmu pengetahuan Islam.

Kepemimpinannya yang tegas berhasil memperluas wilayah kekuasaan hingga Semenanjung Malaya sekaligus menjadikan Aceh sebagai pusat perdagangan internasional yang disegani bangsa-bangsa Eropa.

Sultan Iskandar Muda bukan hanya dikenal sebagai panglima perang yang tangguh, tetapi juga sebagai pemimpin yang memberikan perhatian besar terhadap pendidikan agama, pembangunan infrastruktur, serta penguatan sistem pemerintahan.

Hingga kini, namanya masih dikenang sebagai salah satu tokoh terbesar dalam sejarah Indonesia dan telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Baca Juga: Bandara Sultan Iskandar Muda Tak Operasi Selama Salat Idul Adha dari Jam 07.25 sampai 11.00 WIB

Latar Belakang dan Kehidupan Sultan Iskandar Muda

Sultan Iskandar Muda lahir dengan nama Perkasa Alam. Ia merupakan putra Sultan Mansyur Syah dan Putri Raja Indra Bangsa. Sejak kecil, Perkasa Alam tumbuh di lingkungan istana Kesultanan Aceh sehingga sudah terbiasa melihat kehidupan pemerintahan, strategi politik, hingga urusan pertahanan kerajaan.

Pendidikan menjadi bagian penting dalam pembentukan karakternya. Selain mempelajari ilmu pemerintahan dan kemiliteran, dia juga memperdalam ilmu agama Islam kepada sejumlah ulama terkemuka. Salah satu guru yang terkenal adalah Teungku di Bitai, seorang ulama asal Baitul Maqdis yang ahli dalam ilmu falak dan ilmu firasat.

Tidak hanya belajar kepada ulama lokal, Perkasa Alam juga berguru kepada ulama dari Makkah dan Gujarat. Hal ini menunjukkan bahwa sejak muda ia telah mendapatkan pendidikan keislaman yang luas serta memiliki wawasan internasional, sesuatu yang kemudian memengaruhi kebijakannya ketika menjadi sultan.

Pernikahan dengan Putroe Phang dan Kisah Gunongan

Dalam kehidupan pribadinya, Sultan Iskandar Muda menikahi Putroe Phang, seorang putri dari Kesultanan Pahang yang kini berada di wilayah Malaysia.

Salah satu kisah yang paling terkenal dari pasangan ini adalah pembangunan Gunongan, sebuah bangunan bersejarah di Banda Aceh. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, bangunan tersebut didirikan sebagai hadiah untuk mengobati kerinduan Putroe Phang terhadap kampung halamannya yang dikelilingi perbukitan.

Dari pernikahan tersebut lahirlah dua anak, yaitu Sultanah Safiatuddin dan Meurah Pupok. Sultanah Safiatuddin kemudian dikenal sebagai salah satu pemimpin perempuan yang melanjutkan pemerintahan Aceh setelah masa kerajaan berikutnya.

Perjalanan Perkasa Alam Menjadi Sultan Aceh

Perjalanan Perkasa Alam menuju takhta tidak berlangsung mudah. Pada masa pemerintahan Sultan Ali Riayat Syah, Kesultanan Aceh mengalami berbagai persoalan, mulai dari konflik internal hingga ancaman serius dari Portugis yang ingin menguasai Selat Malaka.

Perkasa Alam sempat melakukan perlawanan terhadap Sultan Ali Riayat Syah. Namun usahanya gagal sehingga ia dipenjara. Meski berada di balik tahanan, Perkasa Alam justru menawarkan solusi kepada sang sultan.

Dia meminta diberi sejumlah kecil pasukan dan persenjataan untuk menghadapi Portugis. Sultan Ali Riayat Syah akhirnya menerima usulan tersebut.

Kepercayaan itu tidak disia-siakan. Pada tahun 1606, Perkasa Alam berhasil memukul mundur pasukan Portugis dari wilayah Aceh. Keberhasilan ini membuat namanya semakin dihormati, bahkan mulai diperhitungkan oleh bangsa Belanda maupun Inggris yang saat itu mulai aktif berdagang di Nusantara.

Setelah Sultan Ali Riayat Syah wafat pada tahun 1607, Perkasa Alam kemudian dinobatkan sebagai Sultan Aceh dengan gelar Sultan Iskandar Muda.

Baca Juga: Perkuat Aceh Sebagai Sentra Pangan, Pemerintah Fokus Program Cetak Sawah dan Irigasi

Strategi Memperkuat Kesultanan Aceh

Setelah resmi menjadi sultan, Iskandar Muda segera melakukan pembenahan di berbagai bidang. Salah satu langkah utamanya adalah memperkuat kontrol terhadap daerah-daerah yang berada di sekitar Selat Malaka.

Pelabuhan-pelabuhan penting berhasil berada di bawah pengawasan Aceh sehingga jalur perdagangan internasional dapat dikendalikan. Kebijakan ini tidak hanya meningkatkan pendapatan kerajaan, tetapi juga mempersempit ruang gerak bangsa asing yang ingin menguasai perdagangan rempah-rempah.

Selain itu, Sultan Iskandar Muda membangun pemerintahan yang lebih terpusat dengan memperkuat hubungan antara kerajaan pusat dan wilayah-wilayah taklukan.

Para penguasa daerah diwajibkan tetap setia kepada Kesultanan Aceh agar stabilitas politik tetap terjaga.

Kebijakan Ekonomi yang Membawa Kemakmuran

Kemajuan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda tidak lepas dari kebijakan ekonominya yang teratur.

Pemerintah mengawasi harga komoditas perdagangan, terutama lada yang menjadi hasil bumi utama Aceh. Aktivitas para pedagang asing juga dikontrol secara ketat agar tidak merugikan kepentingan kerajaan.

Bandar Aceh berkembang menjadi salah satu pelabuhan terbesar di Asia Tenggara. Kapal-kapal dari Arab, India, Persia, Turki, hingga Eropa berdatangan untuk melakukan perdagangan. Kondisi tersebut menjadikan Aceh sebagai pusat ekonomi sekaligus pusat penyebaran Islam di kawasan barat Nusantara.

Wilayah Kekuasaan Aceh Semakin Luas

Di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, wilayah Kesultanan Aceh berkembang sangat pesat.

Pengaruh Aceh meluas ke hampir seluruh pesisir Sumatera bagian utara dan timur. Tidak hanya itu, ekspansi juga mencapai Semenanjung Malaya dengan menguasai wilayah seperti Pahang, Johor, Perak, Kedah, hingga Patani.

Penguasaan wilayah-wilayah tersebut memiliki tujuan strategis, yakni mengamankan jalur perdagangan Selat Malaka sekaligus memperkuat posisi Aceh sebagai kekuatan maritim terbesar di kawasan.

Kekuatan Militer yang Disegani

Salah satu faktor keberhasilan Sultan Iskandar Muda adalah kemampuan membangun kekuatan militer yang sangat besar.

Kesultanan Aceh memiliki armada laut yang terdiri atas ratusan kapal perang lengkap dengan meriam. Armada tersebut menjadi kekuatan utama dalam menjaga wilayah perairan sekaligus menghadapi kapal-kapal Portugis.

Di daratan, Aceh memiliki puluhan ribu prajurit yang didukung pasukan berkuda dan pasukan gajah perang.

Kombinasi kekuatan laut dan darat membuat Aceh menjadi salah satu kerajaan yang paling disegani pada masanya.

Hubungan Diplomatik dengan Berbagai Negara

Selain dikenal sebagai pemimpin perang, Sultan Iskandar Muda juga piawai membangun hubungan diplomatik.

Kerajaan Inggris menjalin hubungan dagang yang baik dengan Aceh. Raja James I bahkan mengirimkan hadiah berupa sebuah meriam yang kemudian dikenal sebagai Meriam Raja James.

Hubungan baik juga terjalin dengan Prancis yang mengirimkan utusan kerajaan beserta berbagai hadiah diplomatik sebagai simbol persahabatan.

Yang tidak kalah penting adalah hubungan erat dengan Kesultanan Utsmaniyah. Kerajaan Islam terbesar saat itu memberikan dukungan kepada Aceh dalam bentuk bantuan persenjataan, teknologi militer, hingga pengiriman tenaga ahli untuk melatih pasukan Aceh.

Kerja sama tersebut semakin memperkuat posisi Aceh sebagai kerajaan Islam yang memiliki jaringan internasional.

Perlawanan Melawan Portugis

Ancaman terbesar Kesultanan Aceh datang dari Portugis yang menguasai Malaka.

Pada tahun 1615, Sultan Iskandar Muda melancarkan serangan pertama untuk merebut Malaka. Namun usaha tersebut belum berhasil.

Tidak menyerah, pada tahun 1629 Aceh kembali mengirim ekspedisi militer dalam skala jauh lebih besar. Armada perang Aceh sempat mengepung pertahanan Portugis dan hampir berhasil merebut Malaka.

Sayangnya, bantuan yang diterima Portugis dari India serta beberapa kerajaan Melayu membuat serangan tersebut akhirnya gagal.

Meskipun tidak berhasil merebut Malaka, keberanian Sultan Iskandar Muda menunjukkan bahwa Aceh merupakan satu-satunya kekuatan besar di Nusantara yang mampu memberikan tekanan serius kepada Portugis.

Warisan Sultan Iskandar Muda untuk Aceh

Warisan Sultan Iskandar Muda tidak hanya berupa perluasan wilayah. Pada masa pemerintahannya berkembang berbagai bangunan penting, termasuk Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi simbol kejayaan Islam di Aceh. Selain itu, peninggalan seperti Gunongan dan sejumlah benteng pertahanan masih dapat ditemukan hingga sekarang.

Di bidang hukum, Sultan Iskandar Muda memperkuat penerapan syariat Islam dalam pemerintahan. Dia juga memberikan perhatian terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dengan mendukung aktivitas para ulama dan lembaga pendidikan.

Warisan tersebut menjadikan Aceh dikenal sebagai salah satu pusat keilmuan Islam terbesar di Nusantara pada abad ke-17.

Wafatnya Sultan Iskandar Muda

Menjelang akhir masa pemerintahannya, kondisi kesehatan Sultan Iskandar Muda mulai menurun, terutama setelah menghadapi berbagai peperangan besar. Beliau wafat pada 27 Desember 1636 dalam usia sekitar 43 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Kompleks Makam Sultan Aceh Kandang XII, Banda Aceh.

Setelah wafat, pemerintahan diteruskan oleh Sultan Iskandar Thani. Namun banyak sejarawan menilai kejayaan Aceh tidak lagi mampu menyamai masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Atas jasa-jasanya, Pemerintah Indonesia menetapkan Sultan Iskandar Muda sebagai Pahlawan Nasional. Namanya juga diabadikan menjadi nama Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda di Aceh serta berbagai jalan utama di sejumlah daerah di Indonesia.

Mutiara MY (Magang)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R