Akurat
Pemprov Sumsel

MR D.I.Y. dan Rekosistem Resmikan Waste Station MRT Blok M, Solusi Nyata Atasi Krisis Sampah Jakarta?

Idham Nur Indrajaya | 24 April 2026, 20:12 WIB
MR D.I.Y. dan Rekosistem Resmikan Waste Station MRT Blok M, Solusi Nyata Atasi Krisis Sampah Jakarta?
Waste Station MRT Blok M jadi solusi krisis sampah Jakarta. Ini cara MR.D.I.Y. ubah kebiasaan pilah sampah jadi lebih mudah dan menguntungkan. dok. MR D.I.Y.

AKURAT.CO Pernahkah Anda memperhatikan, berapa banyak orang yang benar-benar memilah sampah sebelum membuangnya?

Di kota besar seperti Jakarta, jawabannya sering kali mengecewakan. Banyak orang tahu pentingnya memilah sampah, tapi tidak melakukannya. Alasannya sederhana: tidak ada fasilitas yang mudah dijangkau, atau tidak ada insentif yang cukup menarik.

Di sinilah waste station MRT Blok M yang diinisiasi MR.D.I.Y. Indonesia dan Rekosistem menjadi menarik. Bukan sekadar tempat sampah, tetapi sebuah sistem yang mencoba mengubah kebiasaan masyarakat—dari acuh menjadi peduli.


Ringkasan

Waste Station MRT Blok M adalah fasilitas pengumpulan sampah anorganik yang dilengkapi sistem digital reward, hasil kolaborasi MR.D.I.Y. Indonesia dan Rekosistem.

Fungsi utamanya:

  • Menjadi tempat setor sampah terpilah (anorganik)

  • Memberikan poin reward melalui aplikasi

  • Mendorong kebiasaan pilah sampah dari sumber

Kapasitasnya:

  • Menampung 120–150 kg sampah per hari

  • Menargetkan pengguna MRT dan pengunjung Blok M (±120 ribu orang/hari)

👉 Intinya: ini bukan tempat sampah biasa, tapi alat perubahan perilaku.


Seberapa Parah Krisis Sampah di Indonesia dan Jakarta?

Masalah sampah di Indonesia bukan sekadar isu lingkungan—ini sudah masuk kategori krisis sistemik.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup:

  • Indonesia menghasilkan 109.092 ton sampah per hari yang belum terkelola (2025)

  • Jakarta sendiri menyumbang sekitar 7.100–8.000 ton per hari

Angka ini sering dikutip, tapi jarang diinterpretasikan.

👉 Artinya apa?

Jika tidak ada perubahan:

  • Sampah akan terus menumpuk lebih cepat daripada kapasitas pengelolaannya

  • Sistem TPA akan semakin terbebani

  • Dampak lingkungan (banjir, polusi, mikroplastik) akan meningkat

Masalahnya bukan hanya volume, tapi pola perilaku. Sebagian besar sampah masih tercampur sejak dari rumah, membuat proses daur ulang menjadi jauh lebih sulit.


Kenapa Masyarakat Masih Sulit Memilah Sampah?

Pertanyaan ini sering muncul, tapi jawabannya tidak sesederhana “kurang kesadaran”.

Ada tiga masalah utama:

1. Tidak ada sistem yang memudahkan

Banyak orang sebenarnya mau memilah sampah, tapi:

  • tidak tahu harus dibawa ke mana

  • tidak ada fasilitas dekat

2. Tidak ada insentif langsung

Memilah sampah sering dianggap:

  • merepotkan

  • tidak memberikan manfaat langsung

Padahal perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh reward.

3. Kebiasaan yang sudah terbentuk

Selama bertahun-tahun:

  • sampah dianggap “urusan petugas”

  • bukan tanggung jawab individu

👉 Inilah yang sering dilupakan: masalah sampah adalah masalah kebiasaan, bukan hanya infrastruktur.


Bagaimana Waste Station MRT Blok M Bekerja?

Di sinilah pendekatan MR.D.I.Y. Indonesia menjadi menarik karena tidak hanya menyediakan tempat, tetapi juga sistem.

Cara kerjanya:

  1. Pengguna membawa sampah anorganik yang sudah dipilah

  2. Menyetorkan ke Waste Station

  3. Mendapatkan poin melalui aplikasi Rekosistem

  4. Poin bisa ditukar menjadi saldo dompet digital

👉 Sederhana, tapi strategis.

Yang membuatnya berbeda:

  • Lokasi: berada di MRT Blok M (mobilitas tinggi)

  • Teknologi: terintegrasi dengan aplikasi

  • Insentif: ada reward nyata

Menurut kolaboratornya, pendekatan ini dirancang agar memilah sampah menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan beban.

Pendekatan berbasis sistem juga ditekankan oleh pihak Rekosistem sebagai mitra kolaborasi.

“Dengan sistem yang terintegrasi dan insentif yang relevan, kami ingin membuktikan bahwa pilah sampah bisa menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan beban,” kata Joshua Valentino, COO dan Co-Founder Rekosistem dalam acara media briefing peluncuran Waste Station Blok M di Jakarta, Jumat, 24 April 2026.


Insight: Masalahnya Bukan Kurang Tempat Sampah

Banyak program pengelolaan sampah gagal bukan karena kurang fasilitas, tapi karena tidak mengubah perilaku.

Di sinilah letak keunikan Waste Station ini.

👉 Paradoks yang sering terjadi:

  • Tempat sampah banyak → tetap tidak dipakai dengan benar

  • Kampanye edukasi masif → perilaku tidak berubah

Kenapa?

Karena:

  • tidak ada integrasi sistem

  • tidak ada insentif

  • tidak ada kedekatan dengan aktivitas sehari-hari

Waste Station mencoba memecahkan tiga hal itu sekaligus:

  • hadir di titik mobilitas tinggi

  • memberi reward

  • menghubungkan dengan sistem digital

Ini bukan sekadar CSR, tapi eksperimen perubahan perilaku berbasis sistem.

Muchamad Ikhsan Destian, Co-Founder Pandawara Group, komunitas pemuda yang dikenal lewat aksi bersih lingkungan masif di berbagai wilayah Indonesia, mengungkapkan bahwa sampah adalah cermin dari kebiasaan masyarakat.

Maka dari itu, untuk mengubah masyarakat ke arah yang lebih baik, perubahannya harus dimulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan secara konsisten setiap hari.

"Ketika fasilitas yang tepat tersedia di tempat yang tepat, perubahan itu jadi jauh lebih mungkin terjadi," kata Ichsan dalam kesempatan yang sama.


Simulasi Nyata: Dari Botol Plastik ke Saldo Digital

Bayangkan skenario sederhana.

Seorang pengguna MRT membeli minuman dalam botol plastik. Biasanya, botol itu akan:

  • dibuang sembarangan, atau

  • masuk ke tempat sampah umum tanpa dipilah

Sekarang, dengan Waste Station:

  • ia melihat fasilitas di area MRT

  • tahu bisa mendapat poin

  • memutuskan menyetor botol

Dalam beberapa kali aktivitas:

  • poin terkumpul

  • bisa ditukar menjadi saldo e-wallet

👉 Apa yang berubah?

Bukan hanya satu botol plastik yang terselamatkan, tapi:

  • kebiasaan kecil mulai terbentuk

  • ada asosiasi positif antara sampah dan nilai ekonomi

Inilah inti dari perubahan perilaku.


Lebih dari Sekadar Fasilitas: Bagian dari Strategi Keberlanjutan

Peluncuran Waste Station ini bukan langkah tunggal.

MR.D.I.Y. Indonesia sebelumnya telah:

  • mengoperasikan Recycle Dropbox di 52 toko

  • mengumpulkan 2.445 kg sampah sepanjang 2025

  • mendaur ulang 84 ton limbah karton

  • memperkuat 10 bank sampah

  • menanam 300 pohon di Banten

👉 Ini penting dari sisi kredibilitas.

Artinya:

  • program ini bukan eksperimen sesaat

  • tapi bagian dari strategi keberlanjutan jangka panjang

Bahkan pemerintah daerah mengapresiasi kolaborasi ini sebagai contoh nyata gerakan memilah sampah dari sumber.

Rika Juniaty Tanzil, Chief Financial Officer MR.D.I.Y. Indonesia, menegaskan bahwa inisiatif ini bukan langkah sesaat.

“Keberlanjutan lingkungan adalah komitmen jangka panjang kami. Waste Station ini adalah langkah lanjutan setelah Recycle Dropbox yang kini hadir di berbagai toko,” ujarnya.


Implikasi: Kenapa Ini Penting untuk Kota Besar?

Jika model seperti ini berhasil, dampaknya bisa besar.

1. Bisa direplikasi

Waste Station bisa diperluas ke:

  • stasiun lain

  • pusat perbelanjaan

  • area publik

2. Mengubah perilaku generasi muda

Gen Z dan milenial:

  • lebih responsif terhadap sistem digital

  • lebih tertarik pada reward

3. Mengurangi beban sistem kota

Jika sampah sudah dipilah dari awal:

  • proses daur ulang lebih efisien

  • volume sampah ke TPA berkurang

👉 Ini bukan solusi instan, tapi fondasi perubahan jangka panjang.


Penutup: Sampah Adalah Cermin Kebiasaan Kita

Pada akhirnya, masalah sampah bukan hanya soal jumlah, tapi soal perilaku.

Waste Station MRT Blok M menunjukkan satu hal penting:
perubahan tidak selalu dimulai dari hal besar, tapi dari sistem kecil yang tepat sasaran.

Pertanyaannya sekarang:
apakah fasilitas seperti ini cukup untuk mengubah kebiasaan jutaan orang?

Atau justru ini baru langkah awal dari perubahan yang lebih besar?

Pantau terus perkembangan inisiatif seperti ini—karena masa depan kota kita, sangat bergantung pada kebiasaan kecil yang kita lakukan setiap hari.


Baca Juga: Pemerintah Bikin Terobosan untuk Percepat Pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Listrik

Baca Juga: Proyek Sampah Jadi Listrik Dipangkas 7 Minggu, Ini Targetnya

FAQ

1. Apa itu Waste Station MRT Blok M dan bagaimana fungsinya?

Waste Station MRT Blok M adalah fasilitas pengumpulan sampah anorganik terpilah yang dilengkapi sistem digital reward hasil kolaborasi MR.D.I.Y. Indonesia dan Rekosistem. Fungsinya bukan hanya sebagai tempat membuang sampah, tetapi juga mendorong masyarakat untuk memilah sampah dari sumber dengan memberikan insentif berupa poin yang bisa ditukar menjadi saldo dompet digital. Dengan kapasitas hingga 150 kg per hari, fasilitas ini dirancang untuk menjangkau ribuan pengguna MRT setiap hari.


2. Kenapa pilah sampah dari rumah itu penting?

Memilah sampah dari rumah sangat penting karena menentukan apakah sampah bisa didaur ulang atau tidak. Jika sampah sudah tercampur sejak awal, proses pengolahan menjadi jauh lebih sulit dan mahal. Dalam konteks krisis sampah Indonesia yang mencapai lebih dari 100 ribu ton per hari, kebiasaan sederhana seperti memisahkan sampah organik dan anorganik bisa mengurangi beban TPA secara signifikan sekaligus meningkatkan efisiensi sistem daur ulang.


3. Bagaimana cara menggunakan Waste Station dan mendapatkan reward?

Cara menggunakan Waste Station cukup sederhana. Pengguna hanya perlu membawa sampah anorganik yang sudah dipilah, seperti botol plastik atau kemasan, lalu menyetorkannya ke unit Waste Station. Setelah itu, pengguna akan mendapatkan poin melalui aplikasi Rekosistem yang terintegrasi. Poin tersebut dapat dikumpulkan dan ditukar menjadi saldo e-wallet, sehingga aktivitas memilah sampah tidak hanya berdampak positif bagi lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi.


4. Apakah benar sampah bisa menghasilkan uang?

Ya, sampah—terutama sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan logam—memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan benar. Melalui sistem seperti yang digunakan di Waste Station MRT Blok M, sampah yang biasanya dianggap tidak bernilai bisa dikonversi menjadi poin reward yang dapat ditukar menjadi uang digital. Ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah modern tidak hanya berfokus pada lingkungan, tetapi juga pada penciptaan insentif ekonomi bagi masyarakat.


5. Kenapa masyarakat masih malas memilah sampah meski sudah ada fasilitas?

Salah satu alasan utama adalah kurangnya integrasi antara fasilitas, edukasi, dan insentif. Banyak program pengelolaan sampah gagal karena hanya menyediakan tempat tanpa mengubah perilaku pengguna. Selain itu, kebiasaan lama yang menganggap sampah sebagai tanggung jawab petugas juga masih kuat. Tanpa adanya sistem yang mudah diakses dan memberikan manfaat langsung, seperti reward atau kemudahan akses di lokasi strategis, masyarakat cenderung kembali ke kebiasaan lama.


6. Apa keunggulan Waste Station dibanding tempat sampah biasa?

Perbedaan utama Waste Station dengan tempat sampah biasa terletak pada sistemnya. Waste Station tidak hanya menampung sampah, tetapi juga mengintegrasikan teknologi digital dan insentif ekonomi. Selain itu, lokasinya ditempatkan di area dengan mobilitas tinggi seperti MRT Blok M, sehingga lebih mudah dijangkau. Pendekatan ini membuat Waste Station berfungsi sebagai alat perubahan perilaku, bukan sekadar fasilitas pembuangan.


7. Apakah Waste Station bisa menjadi solusi jangka panjang masalah sampah di kota besar?

Waste Station berpotensi menjadi bagian dari solusi jangka panjang, terutama jika dikombinasikan dengan edukasi dan kebijakan pemerintah. Dengan menempatkan fasilitas di titik strategis dan memberikan insentif nyata, program ini bisa mengubah kebiasaan masyarakat secara bertahap. Namun, untuk benar-benar efektif dalam skala kota besar seperti Jakarta, konsep ini perlu diperluas, direplikasi, dan didukung oleh sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.