Investor Global Simak Strategi Investasi Dari DBS Di Kuartal IV-2023

AKURAT.CO Di tengak ketidakpastian global pada kuartal IV-2023, DBS Group Research merekomendasikan investasi pada saham-saham berkualitas.
Chief Investment Officer DBS, Hou Wey Fook mengatakan untuk pasar ekuitas, sebaiknya investor tetap bermain dengan saham-saham berkualitas di tengah ketidakpastian pertumbuhan makro. Investor juga sebaiknya lebih selektif dalam memilih ekuitas yang menawarkan dividen di tengah kenaikan imbal hasil obligasi.
Menurutnya, investor global khususnya saat ini tengah mengarungi masa sulit akibat pergeseran kondisi makro dan geopolitik saat memasuki triwulan terakhir tahun ini. Resesi AS misalnya yang telah diantisipasi secara luas masih belum terlihat, sementara kondisi goldilocks (pertumbuhan sedang dan inflasi rendah) menunjukkan kemungkinan besar perekonomian AS akan mengalami soft landing atau penurunan walau tidak tajam.
Baca Juga: Studi DBS Ungkap 5 Prioritas Nasabah Kelas Menengah Atas
"Saat para gubernur bank sentral menghadapi situasi sulit karena dihadapkan pada dua pilihan, yaitu kenaikan suku bunga lebih lanjut untuk mengendalikan inflasi atau mempertahankan suku bunga sembari menunggu efek dari kenaikan suku bunga sebelumnya. Hal ini menandai berakhirnya era suku bunga nol persen. Ini membuat obligasi menjadi sorotan sebagai The Next Yield Play (ekuitas yang menawarkan dividen dengan imbal hasil relatif tinggi)," kata Hou dikutip Kamis (5/10/2023).
Ditambahkan, kondisi tersebut tepat bagi investor untuk memanfaatkan kelebihan uang tunai. Di sisi penghasil pendapatan, DBS Group Research menganjurkan Strategi Liquid+ yang memprioritaskan gabungan obligasi korporasi berkualitas tinggi dan obligasi pemerintah berisiko rendah untuk mendapatkan imbal hasil stabil di tengah kondisi tidak menentu. Selain itu, pendapatan kupon tahunan obligasi peringkat investasi sebesar 5% hingga 6% menjadikannya sumber imbal hasil menarik dibandingkan dengan ekuitas yang menawarkan dividen atau deposito.
Di sisi pertumbuhan, DBS Group Research mengutamakan perusahaan-perusahaan I.D.E.A. (Innovator, Disruptor, Enabler, dan Adaptor), dan menganjurkan investor untuk tetap berinvestasi di bisnis-bisnis berkualitas yang memiliki kemampuan untuk mempertahankan keunggulan kompetitif dan pendapatan berkelanjutan.
"Untuk melengkapi portofolio investasi tradisional yang terdiversifikasi, investor juga harus secara konsisten membangun paparan jangka panjang pada aset-aset swasta yang memberikan imbal hasil alfa (imbal hasil di atas rata-rata) aktif yang tidak tergantung pada arah pasar, sembari mengatur waktu paparan portofolio pada komoditas-komoditas yang menikmati kenaikan harga dalam jangka panjang," imbuh Hou.
Menurutnya, imbal hasil obligasi AS khususnya kemungkinan akan tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang, didorong oleh antara lain meningkatnya penerbitan surat utang akan mendorong imbal hasil surat utang lebih tinggi.
Kenaikan imbal hasil obligasi diperkirakan akan membebani ekuitas pertumbuhan (modal ekuitas swasta untuk mendorong pertumbuhan) dari sisi valuasi. Perusahaan-perusahaan dengan profitabilitas dan arus kas lemah akan terkena dampak paling parah. Di sisi lain, ekuitas berkualitas akan lebih menguntungkan. Seiring dengan meningkatnya biaya modal, perusahaan-perusahaan dengan fundamental kuat dan dapat bertahan di tengah lingkungan penuh tantangan akan lebih disukai oleh para pengelola portofolio.
Kalibrasi Ulang
Imbal hasil obligasi global merosot setelah Krisis Keuangan Global. Meskipun sempat mengalami penangguhan pada 2017-2018, imbal hasil obligasi kembali turun ketika pandemi Covid-19 melanda. Untuk menyelamatkan perekonomian yang terpukul oleh krisis, bank sentral sekali lagi memangkas suku bunga kebijakan. Selama tahun-tahun ini, investor mengalihkan alokasi mereka dari obligasi pemerintah ke ekuitas berbasis pendapatan dividen untuk meningkatkan imbal hasil portofolio.
Namun, kalibrasi ulang strategi portofolio yang mencari imbal hasil saat ini diperlukan karena imbal hasil obligasi saat ini diperkirakan akan tetap lebih tinggi untuk waktu lebih lama karena pengetatan moneter yang cenderung hawkish sebagai respons terhadap lonjakan inflasi pascapandemi.
Sejak Agustus 2022, imbal hasil obligasi telah melampaui imbal hasil untuk ekuitas berbasis pendapatan dividen. Ini menunjukkan bahwa penambahan ekuitas berbasis pendapatan divided tidak lagi meningkatkan imbal hasil portofolio secara keseluruhan. Oleh karena itu, pada bagian siklus pasar ini, DBS Group Research lebih memilih obligasi ketimbang ekuitas berbasis pendapatan dividen dari sisi imbal hasil.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









