Orang Kaya China Mulai Rem Belanja Merek Mewah, Ada Apa?

AKURAT.CO Orang-orang terkaya di China dikabarkan saat ini sedang menghindari memamerkan kekayaan dan beralih untuk memilih fesyen yang lebih sederhana. Menurut data laporan oleh konsultan Bain memperkirakan pasar barang mewah global tumbuh dalam level terlemah sejak puncak pandemi.
Diketahui, penjualan global barang-barang pribadi kelas atas mencakup pakaian, aksesoris, dan produk kecantikan pada tahun ini akan berada pada kisaran rata-rata hingga 4% dari tahun ke tahun, dengan tingkat yang konstan.
Tentunya hal tersebut akan menjadi pertumbuhan penjualan terlemah sejak 2020 ketika penjualan anjlok akibat pandemi covid-19. Perlambatan ini paling parah terjadi di China karena ketidakpastian ekonomi membebani konsumen kelas menengah dan membuat mereka yang masih mampu membeli barang mewah berhati-hati.
"Untuk pertama kalinya dalam sejarah, di China alami apa yang disebut sebagai penuruna kemewahan," kata Mitra Bain, Federica Levato, dilansir Business Times, Rabu, 19 Juni 2024.
Baca Juga: China Luncurkan Rute Kereta Cepat Malam Hong Kong-Beijing-Shanghai
Di tengah pengangguran, krisis sosial dan ekonomi, orang-orang China yang lebih kaya, yang kembali melakukan perjalanan, telah mengalihkan pengeluaran mereka ke luar China Daratan. "Setelah pertumbuhan selama dua setengah tahun, terjadi kelelahan pada barang-barang mewah pribadi," tegas dia.
Beiersdorf dari Jerman mengatakan mereka harus menghadapi penurunan tajam pasar perawatan kulit mewah di China tahun ini, meskipun krim La Prairie, yang harganya beberapa ratus dolar AS per botol, telah memperoleh pangsa pasar.
Laporan Bain akan memperkuat kekhawatiran di kalangan investor, permintaan barang mewah di China tidak kembali pulih, kekhawatiran yang telah menjatuhkan saham LVMH dan pemilik Gucci, Kering, selama setahun terakhir.
Hal ini juga akan memacu ekspektasi bahwa merek-merek mewah di pasar kelas atas, seperti pembuat tas Birkin, Hermes, yang menjual tas dengan harga lebih dari USD10 ribu, akan memiliki harga yang lebih baik di pasar saat ini. Alih-alih berbondong-bondong ke mal, pembeli malah membuat janji pribadi dan memilih pakaian yang lebih sederhana dan tidak mencolok.
Sementara itu, tanda-tanda pemulihan ekonomi telah muncul di Amerika Serikat (AS), dengan pertumbuhan dipimpin oleh konsumen yang lebih kaya, sementara konsumen yang lebih muda dan kurang kaya terus menunda pembelian. Di Eropa dan Jepang, kembalinya pengunjung asing telah meningkatkan penjualan barang mewah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








