Tren Dedolarisasi, India Dukung BRICS Kembangkan Sistem Pembayaran Terpadu

AKURAT.CO India resmi mendukung usulan BRICS untuk mengembangkan sistem pembayaran terpadu guna mengurangi ketergantungan pada dolar AS atau dikenal sebagai dedolarisasi. Inisiatif ini awalnya diusulkan oleh Iran awal bulan ini dengan tujuan mengintegrasikan mata uang nasional anggota BRICS sebagai alternatif untuk mengalahkan dolar AS.
Menurut Direktur Institut Ilmu Sosial India, Ash Narain Roy, sistem pembayaran independen BRICS merupakan bentuk kemerdekaan. Hal tersebut ia ungkapkan dalam sebuah wawancara dengan Kantor Berita TASS, Rusia.
Roy menyatakan bahwa India mendukung konsep tersebut, namun persetujuan dari semua pihak diperlukan. "Secara prinsip, India mendukung ide sistem pembayaran independen BRICS," kata Roy, seperti dikutip Sabtu (27/7/2024).
Baca Juga: Pesta Pernikahan Putra Mukesh Ambani dan Ketimpangan Ekonomi di India
Iran, salah satu negara BRICS yang terkena sanksi AS, merupakan pelopor dalam usulan sistem pembayaran terpadu ini. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanani, menyarankan agar negara-negara BRICS beralih ke mata uang nasional dalam transaksi antar negara. India, meskipun tidak terlalu vokal dalam upaya dedolarisasi, mendukung proposal yang dapat menantang kekuatan dolar.
Sebagai salah satu pendiri BRICS, India memiliki pengaruh signifikan dalam pengambilan keputusan. Roy menambahkan bahwa masalah ini perlu dibahas lebih mendalam oleh para pemangku kepentingan sebelum keputusan final diambil.
"Ada kekhawatiran bahwa keputusan besar seperti ini harus dipertimbangkan secara menyeluruh. Beberapa anggota BRICS percaya bahwa keputusan terburu-buru tidak akan efektif. Oleh karena itu, meski diskusi sedang berlangsung, keputusan final mungkin tidak akan segera ada," jelasnya.
Roy juga menekankan bahwa jika sistem pembayaran BRICS berhasil diterapkan, mata uang BRICS bisa memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dolar. Namun, mengingat dominasi dolar sebagai sistem pembayaran global, hal ini akan menjadi tantangan besar. Terutama dalam menghadapi sanksi-sanksi, sistem keuangan BRICS yang baru diharapkan dapat memberikan solusi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







