Tanpa Proteksionisme, OECD Ramal Pertumbuhan Ekonomi Global Tembus 3,3 Persen di 2025
Demi Ermansyah | 5 Desember 2024, 11:00 WIB

AKURAT.CO Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (Organisation for Economic Cooperation and Development/OECD) kembali memproyeksikan ekonomi global akan terus tumbuh meski menghadapi berbagai tantangan.
Di mana pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan mencapai 3,2% pada 2024, serta stabil di angka 3,3% pada 2025 dan 2026.
Mengacu kepada laporan terbaru OECD, organisasi tersebut menyatakan bahwa pertumbuhan yang stabil ini bergantung pada minimnya gangguan dari proteksionisme yang berpotensi merusak perdagangan global.
"Jika kebijakan proteksionisme semakin mengganggu rantai pasok dan memicu kenaikan harga, dampaknya bisa menekan pertumbuhan," jelas laporan OECD terbaru melalui lansiran Reuters, Kamis (5/12/2024).
Baca Juga: PNM Sigap Salurkan Bantuan Air Minum untuk Warga Gili Ketapang Terdampak Krisis Kekeringan
Prediksi ini didasarkan pada sejumlah faktor positif, termasuk laju inflasi yang cenderung melambat, peningkatan lapangan kerja, dan kebijakan moneter yang lebih longgar melalui pemotongan suku bunga.
Prediksi ini didasarkan pada sejumlah faktor positif, termasuk laju inflasi yang cenderung melambat, peningkatan lapangan kerja, dan kebijakan moneter yang lebih longgar melalui pemotongan suku bunga.
Kombinasi ini, menurut OECD, diharapkan dapat meredam dampak negatif dari langkah pengetatan fiskal yang diberlakukan di beberapa negara.
Namun demikian, organisasi internasional tersebut menyoroti risiko besar yang mengintai ekonomi global, terutama akibat ketegangan perdagangan yang dipicu oleh kebijakan proteksionisme. Isu ini menjadi perhatian serius, khususnya setelah Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump.
Namun demikian, organisasi internasional tersebut menyoroti risiko besar yang mengintai ekonomi global, terutama akibat ketegangan perdagangan yang dipicu oleh kebijakan proteksionisme. Isu ini menjadi perhatian serius, khususnya setelah Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump.
Di mana beberapa waktu lalu dirinya sedang bersiap-siap untuk menerapkan tarif baru pada negara-negara yang mengekspor produk ke Amerika Serikat. Kebijakan semacam ini, menurut OECD, berpotensi memperburuk prospek perdagangan global yang kini sudah berada di bawah bayang-bayang ketidakpastian.
"Prospek perdagangan internasional semakin suram, dan rantai pasok global bisa terputus jika tarif dan kebijakan proteksionisme diterapkan secara agresif," ungkap laporan tersebut.
Dengan dinamika yang ada, OECD mendesak negara-negara untuk tetap berkomitmen pada kerja sama ekonomi global demi menjaga stabilitas dan pertumbuhan jangka panjang.
"Prospek perdagangan internasional semakin suram, dan rantai pasok global bisa terputus jika tarif dan kebijakan proteksionisme diterapkan secara agresif," ungkap laporan tersebut.
Dengan dinamika yang ada, OECD mendesak negara-negara untuk tetap berkomitmen pada kerja sama ekonomi global demi menjaga stabilitas dan pertumbuhan jangka panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









