Akurat
Pemprov Sumsel

Prospek Ekonomi Indonesia 2026: Dari Belanja Negara hingga Investasi, Apa yang Akan Berubah?

Naufal Lanten | 22 Desember 2025, 19:01 WIB
Prospek Ekonomi Indonesia 2026: Dari Belanja Negara hingga Investasi, Apa yang Akan Berubah?

AKURAT.CO Ekonomi Indonesia memasuki fase baru. Setelah melewati masa transisi pemerintahan dan penyesuaian kebijakan pada 2024–2025, perhatian kini tertuju pada arah ekonomi Indonesia pada 2026. Sejumlah sinyal menunjukkan bahwa tahun depan bukan sekadar kelanjutan tren lama, melainkan awal pergeseran strategi besar: dari pendekatan fiskal yang konservatif menuju model pertumbuhan yang lebih ekspansif, berimbang, dan berorientasi pada industrialisasi.

Riset terbaru dari Radhika Rao, Senior Economist and Executive Director DBS Bank, memotret bagaimana Indonesia berupaya mengubah perencanaan kebijakan menjadi implementasi nyata. Fokusnya bukan hanya menjaga stabilitas, tetapi juga mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi, adil, dan berkelanjutan di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.

Arah Baru Ekonomi Indonesia: Dari Perencanaan ke Eksekusi Nyata

Tantangan utama ekonomi Indonesia ke depan bukan lagi merumuskan strategi, melainkan memastikan bahwa reformasi benar-benar terasa di lapangan. Koordinasi lintas kementerian, sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter, serta eksekusi yang konsisten menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi tidak berhenti di angka stagnan.

Dalam konteks ini, DBS melihat bahwa pasar keuangan relatif memberikan kepercayaan. Nilai tukar rupiah dan pasar obligasi cukup stabil, meski investor tetap sensitif terhadap perkembangan politik dan kebijakan ekonomi. Artinya, ruang untuk mendorong pertumbuhan masih terbuka, asalkan pemerintah mampu menjaga kredibilitas kebijakan.

“Sumitronomics” dan Kembalinya Peran Negara dalam Industrialisasi

Perubahan arah kebijakan ekonomi Indonesia ke depan banyak dibaca melalui kerangka kerja yang disebut sebagai “Sumitronomics”. Kerangka ini terinspirasi dari pemikiran Sumitro Djojohadikusumo, ekonom senior Indonesia yang menekankan pentingnya industrialisasi, manufaktur, dan peran aktif negara dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pendekatan ini menempatkan kebijakan fiskal sebagai instrumen utama untuk:

  • Mendorong investasi sektor riil

  • Memperkuat basis manufaktur

  • Mengurangi ketergantungan pada komoditas mentah

Dengan memasuki tahun kedua pemerintahan Prabowo–Gibran, DBS memperkirakan orientasi kebijakan akan semakin jelas: pertumbuhan menjadi prioritas, dengan kombinasi belanja negara yang lebih agresif dan kebijakan moneter yang mendukung.

Gambaran Besar Ekonomi Indonesia Menuju 2026

Tahun 2026 diproyeksikan sebagai periode konsolidasi sekaligus akselerasi. Sejumlah karakter utama ekonomi Indonesia pada fase ini antara lain pertumbuhan yang lebih seimbang, peningkatan belanja fiskal, serta iklim investasi yang lebih kondusif.

Pertumbuhan ekonomi pada 2025 diperkirakan bertahan di kisaran 5 persen secara tahunan. Kinerja ini didorong oleh stimulus pemerintah, belanja publik yang meningkat secara moderat, serta kontribusi positif dari ekspor manufaktur dan komoditas. Memasuki 2026, pertumbuhan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 5,2 persen, dengan dukungan fiskal yang lebih ekspansif.

Konsumsi, Upah, dan Daya Beli Masyarakat

Salah satu motor penting pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah konsumsi rumah tangga. Pada periode 2025–2026, perbaikan konsumsi terutama diperkirakan datang dari kelompok berpendapatan rendah. Hal ini sejalan dengan peningkatan alokasi anggaran untuk program-program unggulan pemerintah, yang pertumbuhannya diperkirakan mencapai 15–20 persen per tahun.

Perluasan jumlah penerima manfaat bantuan sosial menjadi faktor krusial dalam menjaga daya beli sekaligus kohesi sosial. Di sisi lain, segmen kelas menengah diperkirakan merasakan dampak yang lebih terbatas, sementara kelompok berpendapatan atas mendapat dorongan dari meningkatnya permintaan jasa dan efek kekayaan.

Isu kenaikan upah minimum juga menjadi perhatian. Untuk 2026, tuntutan kenaikan UMP dan UMK sempat mengemuka di kisaran 10,5 persen, meski realisasinya diperkirakan lebih moderat, sekitar 4–6 persen. Penyesuaian ini penting untuk menjaga keseimbangan antara perlindungan pekerja dan keberlanjutan dunia usaha.

Ekspor Masih Jadi Penopang, Manufaktur Makin Dominan

Dari sisi eksternal, kinerja perdagangan Indonesia menunjukkan tren positif. Selama sepuluh bulan pertama 2025, ekspor tumbuh sekitar 7 persen secara tahunan, sementara impor meningkat lebih lambat. Kondisi ini mendorong surplus neraca perdagangan yang diperkirakan menembus lebih dari USD 41 miliar, tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Selain komoditas seperti minyak sawit, sektor mesin, transportasi, peralatan, dan bahan kimia mencatat kinerja kuat. Ekspor mesin dan elektronik bahkan mendapat dorongan tambahan dari meningkatnya permintaan global terkait siklus teknologi dan kecerdasan buatan (AI).

Belanja Negara Lebih Berani, Fiskal Tak Lagi Terlalu Ketat

Perubahan paling signifikan menuju 2026 terlihat pada kebijakan fiskal. Setelah sempat menahan belanja di awal 2025, pemerintah mulai mengoreksi arah dengan mempercepat stimulus pada kuartal akhir tahun. Langkah ini menjadi sinyal pergeseran dari ortodoksi fiskal yang terlalu berhati-hati.

Untuk 2026, target defisit diperlebar menjadi sekitar -2,68 persen dari PDB, mendekati batas aman -3 persen. Total belanja negara meningkat, termasuk untuk program makan gratis, belanja pertahanan, serta transfer ke daerah. Pendekatan ini diharapkan mampu menjadikan APBN sebagai motor pertumbuhan sekaligus menarik partisipasi sektor swasta.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Peningkatan rasio pajak terhadap PDB menuju target 10,5 persen membutuhkan sumber penerimaan baru, perbaikan kepatuhan pajak, dan perluasan basis pajak. Beberapa opsi yang dipertimbangkan mencakup pajak ekspor, royalti, hingga optimalisasi pungutan sektor sumber daya alam.

Iklim Investasi dan Peran FDI di 2026

Prospek ekonomi Indonesia 2026 juga sangat ditentukan oleh iklim investasi. Kepastian regulasi, konsistensi kebijakan, dan efisiensi perizinan menjadi faktor penentu utama. Investor membutuhkan kejelasan, terutama terkait kebijakan perdagangan, perpajakan, dan hilirisasi industri.

Investasi asing langsung (FDI) menunjukkan tren yang menggembirakan dalam beberapa tahun terakhir, terutama di sektor pengolahan logam dasar, transportasi, utilitas, dan industri pendukung hilirisasi. Meski belum menyamai puncak periode 2012–2018, arus FDI diperkirakan membaik pada 2026 seiring meredanya ketidakpastian kebijakan.

Dukungan juga datang dari belanja modal pemerintah dan komitmen badan investasi seperti Danantara, yang menyiapkan pembiayaan melalui dividen BUMN, kredit perbankan, obligasi domestik, hingga kerja sama dengan sovereign wealth fund global.

Menuju Pertumbuhan Lebih Tinggi dan Berkeadilan

Secara lebih luas, pemerintah diperkirakan tidak lagi puas dengan pertumbuhan stabil di kisaran 5 persen seperti satu dekade terakhir. Target jangka menengah diarahkan pada pertumbuhan 6 persen, bahkan 8 persen dalam jangka panjang. Untuk mencapainya, Indonesia perlu mempercepat reformasi struktural, memperkuat investasi manufaktur, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar bonus demografi benar-benar produktif.

Perpindahan menuju model pertumbuhan yang lebih adil menjadi kunci. Tidak hanya soal angka PDB, tetapi juga pemerataan manfaat ekonomi dan ketahanan sosial.

Kesimpulan: 2026 Jadi Titik Penting Ekonomi Indonesia

Prospek ekonomi Indonesia tahun 2026 memperlihatkan peluang besar sekaligus tantangan nyata. Pergeseran kebijakan fiskal, dukungan moneter yang lebih longgar, serta perbaikan iklim investasi membuka ruang bagi pertumbuhan yang lebih tinggi. Namun, keberhasilan tetap bergantung pada eksekusi kebijakan, disiplin fiskal, dan konsistensi reformasi.

Jika strategi ini dijalankan dengan tepat, 2026 berpotensi menjadi titik balik penting bagi ekonomi Indonesia untuk naik kelas dan keluar dari jebakan pertumbuhan moderat.

Kalau kamu tertarik mengikuti arah kebijakan ekonomi dan dampaknya ke kehidupan sehari-hari, pantau terus perkembangan terbaru seputar ekonomi nasional di AKURAT.CO.

Baca Juga: Airlangga Sebut Gig Economy Jadi Pilar Penting Ekonomi Digital

Baca Juga: Kemenkeu: Proyeksi Bank Dunia Jadi Masukan, Bukan Patokan Ekonomi

FAQ

1. Bagaimana prospek ekonomi Indonesia pada 2026?

Prospek ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan membaik dengan pertumbuhan sekitar 5,2 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini didukung oleh kebijakan fiskal yang lebih ekspansif, peningkatan belanja negara, perbaikan iklim investasi, serta kebijakan moneter yang mendukung pertumbuhan ekonomi.

2. Apa faktor utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026?

Faktor utamanya meliputi peningkatan belanja fiskal pemerintah, konsumsi rumah tangga yang membaik terutama di kelompok berpendapatan rendah, kinerja ekspor manufaktur dan komoditas, serta masuknya investasi asing langsung (FDI) ke sektor hilirisasi dan industri pengolahan.

3. Apa yang dimaksud dengan “Sumitronomics” dalam kebijakan ekonomi Indonesia?

“Sumitronomics” adalah kerangka kebijakan yang menekankan peran negara dalam mendorong industrialisasi, manufaktur, dan pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan fiskal. Pendekatan ini terinspirasi dari pemikiran Sumitro Djojohadikusumo dan menjadi salah satu acuan arah ekonomi pemerintahan saat ini.

4. Apakah belanja negara akan meningkat pada 2026?

Ya, belanja negara pada 2026 diproyeksikan meningkat. Pemerintah memperlebar target defisit fiskal untuk memberi ruang pada belanja investasi, program perlindungan sosial, program makan gratis, serta belanja infrastruktur dan pertahanan, dengan tetap menjaga defisit di bawah 3 persen dari PDB.

5. Bagaimana dampak kebijakan ekonomi 2026 terhadap konsumsi masyarakat?

Kebijakan ekonomi 2026 diperkirakan berdampak positif pada konsumsi, terutama bagi rumah tangga berpendapatan rendah melalui perluasan bantuan sosial dan program kesejahteraan. Konsumsi kelompok menengah diproyeksikan tumbuh lebih moderat, sementara permintaan jasa menguat di kelompok berpendapatan atas.

6. Apakah ekspor masih menjadi penopang ekonomi Indonesia?

Ekspor tetap menjadi salah satu penopang utama. Kinerja ekspor diperkirakan kuat berkat permintaan global terhadap komoditas dan produk manufaktur, termasuk mesin dan elektronik, yang mendapat dorongan dari meningkatnya permintaan teknologi dan industri berbasis AI.

7. Bagaimana peran investasi asing dalam ekonomi Indonesia 2026?

Investasi asing langsung diperkirakan terus mengalir, terutama ke sektor hilirisasi, pengolahan logam dasar, transportasi, dan utilitas. Perbaikan kepastian regulasi dan konsistensi kebijakan menjadi faktor penting untuk menjaga minat investor pada 2026.

8. Apakah kebijakan fiskal Indonesia masih tergolong konservatif?

Tidak sepenuhnya. Pemerintah mulai bergeser dari pendekatan fiskal yang sangat konservatif menuju kebijakan yang lebih proaktif, dengan menjadikan APBN sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi sekaligus menarik partisipasi sektor swasta.

9. Apa tantangan terbesar ekonomi Indonesia pada 2026?

Tantangan utamanya meliputi peningkatan penerimaan negara, menjaga defisit fiskal tetap terkendali, memastikan eksekusi belanja berjalan efektif, serta menjaga kepercayaan investor di tengah ketidakpastian ekonomi global.

10. Apakah target pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa menembus di atas 6 persen?

Dalam jangka menengah, pemerintah menargetkan pertumbuhan di atas 6 persen. Namun, pencapaian target tersebut sangat bergantung pada keberhasilan reformasi struktural, peningkatan investasi manufaktur, serta penguatan kualitas sumber daya manusia untuk memanfaatkan bonus demografi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.