Kewajiban Neto RI Kuartal III-2024 Nanjak ke USD274 Miliar
Hefriday | 5 Desember 2024, 18:42 WIB

AKURAT.CO Indonesia mencatat kewajiban neto sebesar USD274 miliar pada akhir kuartal III-2024, lebih tinggi dibandingkan kuartal II-2024 yang sebesar USD249,8 miliar. Kenaikan ini mencerminkan daya tarik ekonomi Indonesia yang tetap kuat di tengah dinamika global.
Berdasarkan laporan BI, Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) Indonesia meningkat menjadi USD792,2 miliar, naik 6,8% dibandingkan kuartal sebelumnya. Peningkatan ini terutama didukung oleh arus masuk modal asing melalui investasi langsung dan portofolio. Fakta ini menunjukkan kepercayaan investor internasional terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil, inflasi rendah, dan imbal hasil investasi yang kompetitif.
Di sisi lain, Aset Finansial Luar Negeri (AFLN) juga mencatat peningkatan yang signifikan, mencapai USD518,2 miliar, naik 5,3% dari triwulan sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh investasi penduduk pada aset luar negeri, termasuk cadangan devisa, investasi langsung, dan aset finansial lainnya. Hal ini mencerminkan peningkatan kapasitas domestik dalam memanfaatkan peluang global.
"Peningkatan AFLN juga dipengaruhi oleh pelemahan dolar AS terhadap mayoritas mata uang global, termasuk Rupiah, yang memperkuat nilai aset luar negeri. Tren ini menguntungkan Indonesia dalam jangka pendek karena menambah kekuatan neraca pembayaran," tulis laporan BI, dikutip Kamis (5/12/2024).
Rasio Posisi Investasi Internasional (PII) terhadap PDB tetap stabil di angka 19,9%, menunjukkan bahwa posisi eksternal Indonesia masih dalam batas aman. Dominasi instrumen jangka panjang dalam struktur kewajiban (92,3%) juga memperkuat stabilitas ekonomi karena mengurangi risiko volatilitas jangka pendek.
Bank Indonesia menyebut perkembangan PII ini sebagai bukti daya tahan ekonomi nasional. Arus modal yang masuk tidak hanya mencerminkan kepercayaan investor tetapi juga mendukung sektor riil melalui peningkatan investasi langsung. Hal ini berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Dalam konteks global, pelemahan dolar AS dan kenaikan harga saham Indonesia memberikan momentum positif bagi pasar keuangan domestik. Situasi ini mencerminkan keunggulan daya saing ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi global.
Bank Indonesia bersama pemerintah terus berupaya memperkuat respons kebijakan yang adaptif untuk menjaga ketahanan ekonomi. Sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal bertujuan untuk memastikan stabilitas sektor eksternal, sekaligus mendukung pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








