Pengurangan Tarif Impor China Untuk Percepat Pembangunan Rendah Karbon
Demi Ermansyah | 28 Desember 2024, 20:31 WIB

AKURAT.CO China akan melakukan langkah strategis dengan memangkas tarif impor pada sejumlah produk, termasuk etana, bahan baku tembaga, dan aluminium daur ulang tertentu, mulai 1 Januari tahun depan.
Dimana kebijakan tersebut diumumkan oleh Kementerian Keuangan China pada Sabtu (28/11/2024) dan ditujukan untuk mempercepat pembangunan hijau serta rendah karbon di negara tersebut.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya China untuk memenuhi target keberlanjutan, termasuk pengurangan emisi karbon.
Pengurangan tarif pada bahan-bahan seperti etana dan aluminium daur ulang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi energi di sektor industri, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan baku yang kurang ramah lingkungan.
Menurut laporan Reuters, kebijakan ini mencakup 935 item produk di bawah kategori tarif negara paling disukai. Dengan fokus pada bahan baku yang mendukung proses industri yang ramah lingkungan, China menunjukkan komitmen kuat terhadap agenda keberlanjutan global.
Seperti yang diketahui, Etana banyak digunakan dalam produksi plastik dan petrokimia, memainkan peran penting dalam industri modern.
Menurut laporan Reuters, kebijakan ini mencakup 935 item produk di bawah kategori tarif negara paling disukai. Dengan fokus pada bahan baku yang mendukung proses industri yang ramah lingkungan, China menunjukkan komitmen kuat terhadap agenda keberlanjutan global.
Seperti yang diketahui, Etana banyak digunakan dalam produksi plastik dan petrokimia, memainkan peran penting dalam industri modern.
Tarif impor yang lebih rendah akan memudahkan akses bahan ini bagi industri domestik. Sementara itu, tembaga dan aluminium daur ulang dipilih untuk mendukung siklus penggunaan material yang lebih berkelanjutan.
"Ini adalah langkah strategis untuk mengurangi limbah industri sekaligus meningkatkan produktivitas," kata seorang analis energi kepada Reuters.
"Ini adalah langkah strategis untuk mengurangi limbah industri sekaligus meningkatkan produktivitas," kata seorang analis energi kepada Reuters.
Meskipun kebijakan ini membawa harapan baru, ada tantangan besar yang harus dihadapi, seperti pengelolaan rantai pasok dan potensi peningkatan volume impor. Namun, dengan regulasi yang ketat, China diperkirakan mampu mengelola dampak ini secara efektif.
Keputusan ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi negara lain untuk melakukan hal serupa. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia, langkah China dalam mendukung pembangunan hijau memiliki dampak signifikan pada upaya global melawan perubahan iklim.
Keputusan ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi negara lain untuk melakukan hal serupa. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia, langkah China dalam mendukung pembangunan hijau memiliki dampak signifikan pada upaya global melawan perubahan iklim.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









