Pelemahan Yen Picu Inflasi dan Kenaikan Suku Bunga Jepang
Demi Ermansyah | 2 Februari 2025, 19:55 WIB

AKURAT.CO Melemahnya yen dalam beberapa waktu terakhir telah memicu lonjakan harga barang impor di Jepang. Mulai dari makanan, energi, hingga bahan baku mengalami kenaikan harga, yang akhirnya mendorong inflasi semakin tinggi.
Menteri Keuangan Jepang, Katsunobu Kato, mengakui bahwa situasi ini menjadi perhatian serius. Bahkan Bank of Japan (BoJ) pun mulai mengambil langkah menaikkan suku bunga sebagai upaya mengendalikan inflasi.
"Ketika harga impor naik, inflasi yang dipicu oleh biaya juga meningkat," ujar Kato dalam wawancara dengan Fuji Television, Minggu (2/2/2025).
Baca Juga: Jepang Waspadai Dampak Tarif Trump ke Yen
Dalam setahun terakhir, yen terus mengalami tekanan di pasar valuta asing. Akibatnya, harga barang impor meningkat drastis, mulai dari bahan makanan hingga energi. Kondisi ini membuat biaya hidup semakin mahal bagi masyarakat Jepang.
Kenaikan harga ini juga berdampak pada sektor bisnis. Banyak perusahaan yang harus menaikkan harga jual produk mereka karena biaya bahan baku yang lebih tinggi.
Bahkan, situasi ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan koalisi pemerintahan Jepang mengalami kemunduran dalam pemilu tahun lalu. Masyarakat yang tidak puas dengan lonjakan harga merasa bahwa pemerintah belum cukup cepat dalam menangani krisis biaya hidup.
Oleh karena itu, dalam rangka mengatasi lonjakan inflasi, Bank of Japan (BoJ) secara bertahap menaikkan suku bunga. Tentunya langkah ini bertujuan untuk menstabilkan yen dan menekan laju inflasi agar tidak semakin tinggi.
Namun, kebijakan ini juga membawa konsekuensi. Kenaikan suku bunga dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi karena biaya pinjaman menjadi lebih mahal bagi dunia usaha dan konsumen.
Sepanjang tahun lalu, Jepang telah beberapa kali melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menahan pelemahan yen. Meski begitu, dampaknya masih terbatas karena faktor global seperti kebijakan ekonomi AS juga ikut memengaruhi pergerakan mata uang.
Kato menegaskan bahwa Jepang tidak bisa hanya bergantung pada kebijakan moneter untuk mengatasi masalah ini. Pemerintah perlu mengambil strategi jangka panjang yang mencakup kebijakan fiskal dan perdagangan agar perekonomian tetap stabil.
"Kami harus menilai setiap situasi dengan cermat dan mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi," tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









