AKURAT.CO Di tengah dominasi dolar AS dalam transaksi global, negara-negara BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) mulai mencari cara untuk mengurangi ketergantungan mereka terhadap mata uang Dollar.
Namun, menurut Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, stablecoin berbasis dolar bisa menjadi penghalang besar bagi upaya de-dolarisasi yang tengah digalakkan oleh BRICS.
Sebelumnya, negara-negara BRICS semakin gencar mendorong penggunaan mata uang lokal mereka dalam perdagangan internasional. Mereka ingin mengurangi dominasi dolar AS yang selama ini menjadi standar dalam transaksi global.
Rusia dan China, misalnya, telah meningkatkan penggunaan yuan dalam perdagangan bilateral. Bahkan, BRICS berencana menciptakan sistem pembayaran alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap sistem SWIFT yang didominasi AS. Namun, menurut Waller, kehadiran stablecoin berbasis dolar justru bisa menyulitkan upaya ini.
“Saat ini, banyak negara mencoba menghentikan dolarisasi di pasar mereka. Namun, lebih sulit untuk melarang stablecoin dibandingkan menyita uang tunai yang disimpan seseorang di rumah. Stablecoin tidak bisa begitu saja dihapus dari blockchain,” ujarnya mengutip dari laman Reuters, Sabtu (8/2/2025).
Dengan dominasi lebih dari 99% di pasar stablecoin, dolar AS memiliki keunggulan dalam sistem keuangan digital. Stablecoin memungkinkan dolar tetap relevan di negara-negara yang ingin melepaskan diri dari ketergantungan terhadap mata uang tersebut.
Bahkan, penggunaannya yang semakin luas dalam perdagangan dan investasi internasional dapat memperpanjang dominasi dolar, meskipun negara-negara lain mencoba mencari alternatif.
Selain itu, data dari Chainalysis menunjukkan bahwa penggunaan stablecoin di luar AS justru meningkat. Artinya, meskipun ada regulasi ketat di AS, dolar tetap menjadi pilihan utama di pasar digital global.
Selain itu, data dari Chainalysis menunjukkan bahwa penggunaan stablecoin di luar AS justru meningkat. Artinya, meskipun ada regulasi ketat di AS, dolar tetap menjadi pilihan utama di pasar digital global.
Sehingga secara tidak langsung hal tersebut semakin memperkuat posisi dolar, bahkan ketika negara-negara BRICS berusaha mengurangi penggunaannya.
Agar tetap kompetitif, AS tidak hanya harus mempertahankan inovasi stablecoin tetapi juga memastikan regulasinya mendukung perkembangan teknologi ini. Bahkan baru-baru ini RUU GENIUS yang diusulkan Senator Bill Hagerty bertujuan untuk menciptakan kerangka hukum yang jelas bagi penerbit stablecoin.
Selain itu, pemerintah AS berencana mempercepat pengembangan ekosistem stablecoin domestik dan mendorong adopsi Bitcoin sebagai langkah strategis dalam persaingan global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










