Powell Tolak Desakan Trump Pangkas Suku Bunga, Tekankan Sikap Hati-hati

AKURAT.CO Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell kembali menegaskan sikap hati-hatinya dalam mengambil kebijakan moneter, menolak desakan Presiden Donald Trump untuk segera memangkas suku bunga.
Dalam kesaksiannya di hadapan Komite Layanan Keuangan DPR AS, Selasa (24/6/2025), Powell menilai belum ada urgensi untuk mengambil langkah tersebut meskipun inflasi mulai melandai.
“Saya rasa kita tidak perlu terburu-buru karena ekonomi masih kuat,” ujar Powell. Dirinya menyatakan bahwa tekanan inflasi memang terkendali, namun menegaskan bahwa The Fed perlu lebih banyak data sebelum menyesuaikan arah kebijakan.
Baca Juga: Harga Bitcoin Menanti Kepastian The Fed dan Stabilitas Geopolitik
Pernyataan ini langsung menuai kritik keras dari Presiden Trump. Lewat media sosial, Trump menyebut Powell sebagai “orang yang sangat bodoh dan keras kepala” dan menuding kebijakan The Fed membuat pemerintah AS menanggung beban bunga pinjaman yang tinggi.
Perselisihan ini mencerminkan perbedaan mendasar antara pendekatan teknokratis The Fed dan kepentingan politik pemerintahan. Powell dan para gubernur The Fed lain seperti Christopher Waller dan Michelle Bowman memiliki pandangan yang cenderung berbeda soal waktu yang tepat untuk pemangkasan suku bunga.
Jika Waller dan Bowman terbuka terhadap kemungkinan penurunan pada Juli, Powell lebih menekankan perlunya kehati-hatian.
Dalam beberapa kesempatan, Powell juga menggarisbawahi bahwa ketidakpastian kebijakan tarif dari Gedung Putih menjadi faktor penting dalam pertimbangan mereka. Menurut Powell, tarif yang diterapkan secara sepihak dapat meningkatkan inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
“Dampak tarif akan bergantung pada skala dan durasinya. Kami harus siap dengan berbagai skenario, termasuk risiko inflasi lebih tinggi,” katanya.
Baca Juga: Scott Bessent dan Kevin Warsh Siap Berebut Kursi Gubernur The Fed
Ketegangan antara The Fed dan Presiden bukan kali ini saja terjadi. Namun, kali ini situasinya diperparah oleh ketidakpastian arah ekonomi global dan kebijakan dagang yang fluktuatif dari pemerintahan Trump.
Meski imbal hasil obligasi dan nilai dolar melemah akibat komentar Powell, pasar tetap memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga sebelum akhir tahun. Namun, kepastian masih jauh dari kata final. “Banyak jalan yang mungkin di sini,” tutup Powell.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








