Tarif Trump Mengguncang BRICS, Tekanan Politik dalam Balutan Perdagangan

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali menunjukkan bagaimana kebijakan ekonomi dapat digunakan sebagai instrumen politik global.
Dalam putaran terbaru kebijakan tarifnya, Trump menjatuhkan tarif hingga 50% terhadap Brasil, serta tarif tambahan untuk sejumlah negara seperti Irak, Libya, Sri Lanka, dan Filipina.
Langkah tersebut dinilai sebagai sinyal tekanan terhadap negara-negara yang tidak sejalan dengan arah kebijakan luar negeri Washington, khususnya kelompok BRICS.
Dalam suratnya kepada pemerintah Brasil dikutip dari laman reuters, Trump secara eksplisit meminta agar dakwaan terhadap mantan Presiden Jair Bolsonaro dicabut, menyebut kasus tersebut sebagai 'perburuan penyihir'.
Pernyataan tersebut menandai pergeseran dari kebijakan tarif berbasis ekonomi murni menjadi kebijakan ekonomi-politik yang sarat agenda ideologis.
Baca Juga: Surat Cinta Donald Trump
“Ini bukan hanya soal defisit perdagangan, tapi bagaimana negara-negara memperlakukan sekutunya dan mendukung tatanan global yang dipimpin AS,” ucap Analis Geopolitik dari Brookings Institution, Daniel Schulman.
Brasil, lanjutnya, menjadi contoh nyata, meskipun negara tersebut memiliki defisit perdagangan terhadap AS yakni lebih banyak mengimpor daripada mengekspor Trump tetap menjatuhkan tarif tinggi.
"Langkah tersebut menjadi sebuah upaya memberi sinyal kepada negara-negara BRICS bahwa kedekatan dengan China dan dukungan terhadap aliansi non-Barat akan memiliki konsekuensi ekonomi yang sangat berat," ucapnya kembali.
Baca Juga: Mensesneg: Prabowo Belum Diagendakan Bertemu Donald Trump
Tak hanya Brasil, tarif juga dikenakan terhadap negara-negara yang secara geopolitik terlibat konflik atau memiliki hubungan terbatas dengan AS, seperti Irak dan Libya.
"Meskipun tarifnya kecil, simbolisme kebijakan ini berdampak besar pada persepsi global terhadap kepemimpinan ekonomi Amerika," paparnya.
Sementara itu, langkah Trump belum banyak mengguncang pasar global. Namun, tekanan nilai tukar terhadap real Brasil dan fluktuasi harga logam seperti tembaga menunjukkan bahwa dampak ekonomi dari kebijakan berbasis geopolitik ini mulai terasa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







