AKURAT.CO Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan perkembangan terkini terkait negosiasi tarif Trump.
Seperti diketahui, pada Selasa lalu Menko Airlangga bertolak ke AS menemui perwakilan United States Trade Representative (USTR) atau Perwakilan Dagang Amerika Serikat.
Di Washington, Airlangga bertemu Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dan Perwakilan Kantor Dagang AS Jamieson Greer. Dari pertemuan itu, lanjutnya, Lutnick dan Greer sepakat agar penawaran Indonesia diproses lebih lanjut hingga akhir Juli 2025 atau sekitar 3 minggu ke depan.
Ada dua poin yang ditekankan Menko Airlangga. Pertama, tambahan tarif 10 persen lantaran RI bergabung dengan BRICS tidak ada. Kedua, waktu berlakunya tarif impor AS adalah post, atau ditinda penerapannya untuk menyelesaikan perundingan yang sudah ada.
Baca Juga: Upaya Terakhir Diplomasi Tarif Trump
"Jadi kemarin di AS dalam pertemuan dengan Secretary Lutnick maupun Ambassador Greer dari USTR menyepakati apa yang diusulkan oleh Indonesia berproses lanjutan, ujar Menko Airlangga, dikutip dari akun Youtube Setpres, Minggu (13/7/2025).
Menurut Menko Airlangga, dalam 3 minggu ke depan diharapkan selesainya proses finalisasi atau fine tuning proposal dan apa yang sudah dipertukarkan kedua negara.
Sebelumnya Guru Besar Hukum Ekonomi dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Prof. Yafet Y.W. Rissy, menilai langkah tarif ulur Trump soal tarif dagang ke berbagai negara khususnya Indonesia bukan semata kebijakan dagang biasa, tetapi strategi politik ekonomi yang berakar pada agenda dalam negeri Amerika Serikat.
“Ini adalah retorika ekonomi yang dibangun oleh Presiden Trump untuk membalikkan defisit perdagangan Amerika Serikat yang selama ini dianggap membahayakan ekonomi nasional dan keamanan dalam negeri mereka,” ucapnya dalam Seminar bertajuk International Trade in the Era of Global Trade Wars via Zoom, Selasa (8/7/2025).
Menurutnya, perang tarif semacam ini juga pernah terjadi sebelumnya, terutama terhadap China, dengan alasan tidak hanya defisit neraca dagang, tetapi juga isu pembajakan kekayaan intelektual, pemaksaan alih teknologi, hingga praktik perdagangan tidak adil.
“Amerika merasa posisinya terancam bukan hanya dari sisi ekonomi, tapi juga dari sisi strategis. Karena itu, mereka menggunakan tarif sebagai alat tekanan politik dan ekonomi,” jelasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








