Tarik Ulur Tarif Obat, AS dan UE Beda Tafsir Soal Perjanjian Dagang Baru

AKURAT.CO Perjanjian dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa yang diumumkan pada akhir pekan lalu ternyata menyimpan sejumlah ketegangan diplomatik.
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyampaikan pernyataan yang saling bertolak belakang mengenai beberapa poin penting dalam kesepakatan tersebut, terutama terkait sektor farmasi dan logam.
Trump menyebut bahwa kesepakatan ini akan membuka 'perdagangan bebas tarif' untuk sebagian besar barang ekspor Eropa, namun menegaskan bahwa produk farmasi tidak termasuk di dalamnya.
Sebaliknya, von der Leyen justru menyatakan bahwa tarif sebesar 15% akan berlaku juga untuk obat-obatan, menyiratkan adanya perbedaan interpretasi terhadap hasil perundingan.
Baca Juga: SBY: Perundingan Tarif AS–Uni Eropa Jadi Harapan Baru Redam Perang Dagang
Konflik pernyataan ini membuka pertanyaan serius mengenai koordinasi antar kedua pihak serta potensi kendala implementasi kesepakatan.
Sejumlah pejabat senior AS bahkan kemudian meralat, menyebut bahwa tarif 15% akan diberlakukan untuk farmasi, meskipun masih ada penyelidikan lanjutan berdasarkan Pasal 232.
“Pernyataan yang saling bertentangan ini menandakan betapa rapuhnya kesepahaman di antara kedua pihak,” kata seorang diplomat Eropa yang enggan disebutkan namanya dikutip dari laman reuters.
Selain farmasi, isu tarif baja dan aluminium juga menjadi sumber ketegangan. Trump menegaskan tarif 50% akan tetap berlaku, sementara von der Leyen menyebut sistem kuota akan menggantikannya.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Tipis Usai Kesepakatan Dagang AS-Uni Eropa
Para analis memandang bahwa kesepakatan ini lebih bersifat simbolik ketimbang substansial. Meski disebut sebagai "langkah awal", rincian konkrit dari perjanjian masih sangat minim dan penuh ketidakpastian, terutama karena adanya perbedaan dalam interpretasi antar pemimpin.
“Risiko utama bukan lagi pada isi kesepakatan, tetapi bagaimana masing-masing pihak mengartikannya dan menerapkannya,” tulis Carsten Nickel, analis dari Teneo.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









