KSSK Rapat Tertutup dengan Komisi XI DPR Bahas Arah Ekonomi 2026
Hefriday | 19 Januari 2026, 22:48 WIB

AKURAT.CO Komisi XI DPR RI menggelar rapat kerja bersama Komite Sistem Stabilisasi Keuangan (KSSK) di Gedung Parlemen, Jakarta, pada Senin (19/1/2026).
Agenda rapat ini menjadi sorotan karena digelar secara tertutup, di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan ketidakpastian ekonomi global yang meningkat di awal 2026.
Sebelumnya, rapat dijadwalkan berlangsung terbuka pada pukul 10.00 WIB dengan agenda pembahasan “Sinergi Perekonomian Tahun 2026”.
Perubahan mekanisme rapat secara mendadak memicu perhatian, mengingat forum ini melibatkan para otoritas keuangan utama yang berperan menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Rapat KSSK DPR ini digelar saat rupiah berada dalam fase pelemahan dan pasar keuangan domestik menghadapi tekanan eksternal.
Kondisi tersebut membuat arah kebijakan ekonomi 2026, stabilitas nilai tukar rupiah, serta koordinasi antar-lembaga keuangan menjadi isu strategis yang dinanti publik dan pelaku pasar.
Tekanan Global Jadi Pemicu Pelemahan Rupiah Awal 2026
Seperti yang diketahui, kondisi perekonomian nasional memang tengah berada dalam pengawasan ketat. Nilai tukar rupiah tercatat terus melemah dan menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah terhadap dolar AS.
Bank Indonesia menilai pergerakan mata uang global, termasuk rupiah, pada awal 2026 banyak dipengaruhi oleh tekanan di pasar keuangan internasional.
Tekanan tersebut berasal dari eskalasi geopolitik global serta meningkatnya kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju.
Selain itu, ketidakpastian arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) di Amerika Serikat turut memperbesar volatilitas pasar, di tengah meningkatnya kebutuhan valuta asing domestik pada awal tahun.
Rupiah di Level Rp16.860 per USD
Sebelumnya, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, menyampaikan bahwa tekanan global tersebut berdampak langsung pada nilai tukar rupiah.
“Kondisi ini mendorong rupiah melemah dan ditutup pada level 16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026, atau terdepresiasi sebesar 1,04 persen secara year-to-date,” ujarnya.
Angka tersebut mencerminkan tantangan yang dihadapi pasar keuangan domestik di awal tahun, sekaligus menjadi latar penting dalam pembahasan rapat KSSK bersama DPR.
Menkeu Optimistis Rupiah Menguat dalam Dua Pekan
Sebelumnya, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, juga menyampaikan pandangan yang lebih optimistis. Ia meyakini nilai tukar rupiah berpotensi kembali menguat dalam dua pekan ke depan.
Optimisme tersebut sejalan dengan upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 dengan target sebesar 6%.
Menurut Purbaya, perbaikan ekonomi domestik akan menjadi magnet bagi arus modal masuk, baik dari investor asing maupun dana milik pengusaha dalam negeri yang selama ini ditempatkan di luar negeri.
“Dua minggu ini [akan menguat]. Kalau nanti ekonominya membaik terus, harusnya rupiah kan menguat juga hampir otomatis. Kenapa? Karena modal-modal asing akan masuk,” ujar Purbaya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









