Pasar Global Defensif, Risiko Shutdown AS Meningkat Tajam

AKURAT.CO Pasar global mulai bersikap defensif seiring meningkatnya risiko shutdown pemerintah Amerika Serikat (AS) pada akhir Januari.
Indikasinya terlihat dari lonjakan tajam peluang shutdown di pasar prediksi Polymarket, yang kini mematok probabilitas sekitar 78% per 31 Januari, naik signifikan dari hanya 10% tiga hari sebelumnya.
Lonjakan probabilitas ini menjadi sinyal meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kebuntuan politik di Washington. Di saat bersamaan, Crypto Fear and Greed Index kembali masuk ke zona “Extreme Fear”, mencerminkan meningkatnya aversi risiko di pasar aset berisiko, termasuk kripto.
Baca Juga: Trump Segera Umumkan Bos The Fed, Pasar Global Siaga
Kebuntuan pembahasan anggaran AS, khususnya terkait pendanaan Department of Homeland Security (DHS), menjadi pemicu utama.
M/eski DPR AS telah meloloskan RUU pendanaan darurat dengan dukungan bipartisan, Senat yang dikuasai Partai Demokrat belum mengizinkan RUU tersebut untuk maju ke tahap berikutnya. Mayoritas Senat Chuck Schumer secara terbuka menyatakan penolakannya.
“Demokrat meminta reformasi masuk akal dalam RUU pendanaan DHS, tetapi karena Partai Republik menolak untuk melawan Presiden Trump, RUU ini tidak cukup untuk mengendalikan penyalahgunaan ICE. Saya akan memilih tidak,” ujar Schumer dikutip dari BeinCrypto, Senin (26/1/2026).
Kebuntuan ini berpotensi memicu dampak lanjutan berupa “pemadaman data”, yakni tertundanya rilis indikator ekonomi penting seperti inflasi (CPI) dan laporan ketenagakerjaan. Kondisi tersebut dinilai akan menyulitkan Federal Reserve dalam membaca kondisi ekonomi secara akurat.
Baca Juga: Investor Indonesia Kian Mengarah ke Pasar Global sebagai Strategi Diversifikasi
“Pemerintah akan shutdown dalam hitungan hari. Saat shutdown terakhir, harga emas dan perak melonjak ke rekor tertinggi. Jika Anda memegang saham atau aset berisiko, Anda harus ekstra waspada karena kita bisa masuk ke periode pemadaman data total,” tulis analis makro ekonomi NoLimit dalam unggahannya di platform X.
Emas dan Perak Menguat, Pasar Kripto Bergejolak
Di tengah meningkatnya ketidakpastian fiskal AS, investor global kembali memburu aset safe haven. Harga emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$5.000 per ons, sementara perak menembus level US$100 per ons untuk pertama kalinya.
Reli logam mulia ini tidak hanya dipicu oleh faktor risiko politik, tetapi juga oleh keterbatasan pasokan struktural serta meningkatnya permintaan industri, khususnya perak di sektor elektronik dan energi surya.
Preseden historis memperkuat sentimen tersebut. Saat shutdown AS berlangsung selama 43 hari pada akhir 2025, harga emas tercatat naik dari kisaran USD3.800-an ke atas USD4.100 per ons, sementara perak sempat menguji level USD54.
Sebaliknya, pasar kripto menunjukkan volatilitas tinggi. Bitcoin tercatat pernah terkoreksi sekitar 20% selama periode shutdown sebelumnya, seiring meningkatnya tekanan likuiditas dan ketidakpastian arah kebijakan moneter.
Peneliti DeFi Justin Wu menilai risiko shutdown kali ini masih kerap diremehkan pasar.
“Risiko shutdown makin nyata. Tenggat waktu semakin dekat dan negosiasi masih buntu. Ketika pemerintah melambat, semuanya ikut melambat, gaji tertunda, kontrak berhenti, dan keputusan ekonomi ikut tertahan,” tulis Wu.
Ancaman Ekonomi Jika Shutdown Terjadi
Analis memperkirakan, jika shutdown benar-benar terjadi dan berlangsung lama, setidaknya ada empat risiko utama yang membayangi ekonomi AS, tertundanya rilis data ekonomi, meningkatnya risiko penurunan peringkat kredit, bekunya likuiditas pasar, kontraksi PDB sekitar 0,2% per minggu.
Meski demikian, peluang pencegahan masih terbuka. Kongres AS masih memiliki opsi meloloskan sisa anggaran atau memperpanjang pendanaan melalui resolusi sementara.
“Kami baru saja mengalami shutdown terpanjang dalam sejarah modern. Saat ini jelas tidak ada keinginan kuat untuk mengulanginya,” ujar Rachel Bade, co-host The Huddle.
Namun, dengan waktu kurang dari satu pekan menuju tenggat akhir Januari dan negosiasi yang masih buntu, pelaku pasar global tetap bersikap waspada. Taruhan di Polymarket terus meningkat, sementara harga emas dan perak melanjutkan reli.
Dalam kondisi ketidakpastian fiskal dan politik, aset safe haven kembali menjadi pilihan utama. Namun, investor diimbau tetap mencermati perkembangan terbaru karena pasar berpotensi bergerak tajam ke dua arah tergantung hasil negosiasi di Washington.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









