BPS: Surplus Dagang Januari 2026 USD0,95 Miliar, Impor Naik 18 Persen

AKURAT.CO Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar USD0,95 miliar.
Nilai ekspor tercatat USD22,16 miliar, sedangkan impor mencapai USD21,20 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, menyampaikan bahwa kinerja ekspor secara tahunan masih menunjukkan pertumbuhan positif.
Baca Juga: OJK, LPS dan BPS Jaga Kualitas Data SNLIK 2026
“Ekspor Januari 2026 meningkat 3,39 persen secara year on year,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/3/2026).
Ekspor Tumbuh, Impor Melonjak
BPS merinci, kenaikan ekspor ditopang sektor nonmigas. Ekspor nonmigas terutama berasal dari industri pengolahan yang tumbuh 8,19% secara tahunan dengan andil peningkatan sebesar 6,54% terhadap total ekspor.
“Ateng menjelaskan, peningkatan nilai ekspor tersebut ditopang oleh sektor nonmigas, serta ekspor produk nonmigas utamanya didorong oleh industri pengolahan,” kata dia.
Di sisi lain, impor menunjukkan lonjakan signifikan. Secara tahunan, impor Januari 2026 meningkat 18,21%.
“Peningkatan impor secara tahunan utamanya didorong oleh peningkatan impor nonmigas, dengan andil 14,4 persen dari total keseluruhan,” ujar Ateng.
Data ini menunjukkan akselerasi permintaan barang dari luar negeri yang jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan ekspor.
Baca Juga: Imbas Bencana, BPS Catat Lonjakan Harga Sejumlah Komoditas Pangan di Sumatra
Indonesia mencatat tren surplus perdagangan sejak pertengahan 2020, terutama ditopang lonjakan harga komoditas global dan ekspor berbasis sumber daya alam.
Namun dalam beberapa periode terakhir, surplus mengalami fluktuasi seiring normalisasi harga komoditas dan pemulihan aktivitas impor.
Surplus sebesar USD0,95 miliar pada awal 2026 menunjukkan neraca masih berada di zona positif, meski tekanan dari sisi impor mulai menguat.
Secara struktural, kontribusi industri pengolahan terhadap ekspor menjadi sinyal penting karena menunjukkan diversifikasi dari ketergantungan pada komoditas mentah.
Surplus perdagangan berkontribusi terhadap stabilitas neraca transaksi berjalan dan cadangan devisa. Data ini menjadi indikator penting bagi pelaku pasar dalam membaca tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan arah kebijakan moneter.
Namun, lonjakan impor 18,21% yoy dapat diartikan sebagai indikasi peningkatan permintaan domestik, termasuk bahan baku dan barang modal, yang berkaitan dengan aktivitas produksi dan investasi.
Bagi sektor industri, kenaikan impor nonmigas dapat mencerminkan ekspansi produksi. Sementara bagi konsumen, pertumbuhan impor juga bisa berkaitan dengan meningkatnya konsumsi barang jadi dari luar negeri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









