Akurat Logo

Rupiah Ambruk 49 Poin Ditekan Data Utang RI Rp9.920 Triliun

Esha Tri Wahyuni | 8 Mei 2026, 19:04 WIB
Rupiah Ambruk 49 Poin Ditekan Data Utang RI Rp9.920 Triliun
rupiah

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Jumat (8/5/2026) dan ditutup melemah 49 poin ke level Rp17.382 per USD.

Pelemahan mata uang Garuda terjadi di tengah kombinasi tekanan global akibat konflik Amerika Serikat (AS)-Iran serta meningkatnya perhatian pasar terhadap posisi utang pemerintah Indonesia yang menembus Rp9.920,42 triliun per Maret 2026.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan indeks dolar AS masih menjadi sentimen utama yang membebani mayoritas mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Baca Juga: BI All Out Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Dipakai Intervensi Global

“Indeks dolar AS menguat di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan sikap pejabat Federal Reserve yang masih cenderung hawkish,” ujar Ibrahim di Jakarta, Jumat (8/5/2026).

Dari eksternal, pasar global kembali dibayangi memanasnya konflik AS dan Iran. Kedua negara sebelumnya disebut hampir mencapai kesepakatan untuk mengakhiri pertempuran sekaligus membuka kembali Selat Hormuz secara penuh. Namun, situasi berubah setelah baku tembak kembali terjadi di kawasan tersebut.

Iran menuding AS melanggar gencatan senjata selama satu bulan terakhir, sementara Washington menyebut serangan dilakukan sebagai balasan atas tembakan Iran terhadap kapal angkatan laut AS yang melintas di Selat Hormuz pada Kamis waktu setempat.

Militer Iran mengklaim AS menargetkan kapal tanker minyak Iran dan sejumlah wilayah sipil di sekitar selat maupun daratan. Meski demikian, Presiden AS Donald Trump mengatakan gencatan senjata masih tetap berlaku.

Ketegangan di Selat Hormuz menjadi perhatian besar pasar karena jalur tersebut merupakan lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia sebelum konflik pecah pada 28 Februari 2026. Gangguan di kawasan itu berpotensi mendorong lonjakan harga energi global dan meningkatkan tekanan inflasi di banyak negara.

Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati arah kebijakan suku bunga AS. Sejumlah pejabat Federal Reserve memberikan sinyal berbeda terkait inflasi dan suku bunga.

Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack mengatakan suku bunga kemungkinan masih akan bertahan tinggi untuk beberapa waktu. Sementara Presiden Federal Reserve San Francisco Mary Daly menegaskan komitmennya membawa inflasi kembali ke target 2%.

Di sisi lain, Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari menyebut inflasi AS masih terlalu tinggi. Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi bahwa pemangkasan suku bunga The Fed belum akan dilakukan dalam waktu dekat.

Pasar kini menanti data ketenagakerjaan AS periode April 2026 yang dijadwalkan dirilis Jumat malam pukul 19.30 WIB. Konsensus ekonom memperkirakan penambahan 62 ribu lapangan kerja baru dengan tingkat pengangguran tetap di level 4,3%.

Data tersebut dinilai akan menjadi penentu arah kebijakan moneter Federal Reserve dalam beberapa bulan ke depan. Jika pasar tenaga kerja AS masih solid, dolar AS berpotensi semakin menguat dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Dari dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada posisi utang pemerintah Indonesia yang terus meningkat. Berdasarkan data hingga 31 Maret 2026, total utang pemerintah mencapai Rp9.920,42 triliun atau naik hampir 3% dibanding posisi akhir 2025 sebesar Rp9.637,9 triliun.

Rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 40,75%. Angka tersebut memang masih berada di bawah batas aman internasional sebesar 60% terhadap PDB. Namun, pasar mulai menyoroti kenaikan beban bunga dan kebutuhan pembiayaan APBN yang terus membesar.

Perhitungan rasio tersebut berasal dari outstanding utang terbaru dibandingkan dengan akumulasi PDB harga berlaku hingga kuartal I/2026 yang mencapai Rp24.341,4 triliun.

Di saat bersamaan, defisit APBN hingga kuartal I/2026 telah mencapai Rp240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap PDB. Sementara realisasi pembiayaan utang sudah mencapai Rp258,7 triliun.

Kondisi tersebut memunculkan perhatian dari lembaga pemeringkat internasional terkait rasio pembayaran bunga utang terhadap penerimaan negara. Pemerintah pun didorong memperkuat penerimaan perpajakan untuk menjaga keberlanjutan fiskal di tengah kebutuhan belanja yang meningkat.

Berbeda dengan angle umum yang hanya menyoroti pelemahan rupiah akibat faktor global, kombinasi tekanan geopolitik dan lonjakan utang domestik kini mulai menjadi fokus baru pasar. Investor tidak hanya memantau arah suku bunga AS dan konflik Timur Tengah, tetapi juga mencermati daya tahan fiskal Indonesia menghadapi biaya pembiayaan yang semakin tinggi.

Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Senin pekan depan masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.380 hingga Rp17.430 per USD.

Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlangsung selama ketidakpastian global dan sentimen fiskal domestik belum mereda. Pasar kini menunggu respons pemerintah terhadap kebutuhan pembiayaan APBN serta perkembangan terbaru konflik AS-Iran yang berpengaruh langsung terhadap stabilitas harga energi dunia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.