Ekonom PermataBank Ingatkan Risiko Twin Deficit Seperti Tahun 2013

AKURAT.CO Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diproyeksikan tetap berada di atas level 5%. Namun, di balik optimisme tersebut, Permata Institute for Economic Research (PIER) mengingatkan munculnya risiko “twin deficit”.
Twin deficit merupakan pelebaran simultan defisit fiskal sekaligus defisit transaksi berjalan yang dinilai dapat menjadi tantangan baru bagi stabilitas ekonomi nasional.
Kepala Ekonom PermataBank sekaligus Kepala PIER, Josua Pardede, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada di kisaran 5,1-5,3% dengan titik tengah sekitar 5,2%.
Baca Juga: Rupiah Ambruk 49 Poin Ditekan Data Utang RI Rp9.920 Triliun
“Kami tetap melihat bahwa di tahun ini pertumbuhan PDB Indonesia masih berkisar 5,1-5,3 persen, dengan titik tengahnya masih di kisaran 5,2 persenan,” ujar Josua dalam Media Briefing PIER Economic Review Kuartal I 2026 yang digelar virtual, Selasa (12/5/2026).
Meski demikian, PIER melihat adanya tantangan pada kuartal II dan III 2026, terutama setelah hilangnya faktor musiman Ramadan dan Lebaran yang pada tahun sebelumnya menjadi penopang konsumsi domestik.
Pada 2025, momentum libur panjang terjadi di kuartal II sehingga mendorong aktivitas belanja masyarakat. Sementara pada 2026, Lebaran jatuh di kuartal I sehingga efek konsumsi diperkirakan mulai mereda memasuki pertengahan tahun.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya menunjukkan konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi Indonesia dengan kontribusi lebih dari 50% terhadap produk domestik bruto (PDB). Karena itu, perlambatan konsumsi berpotensi memengaruhi laju pertumbuhan nasional secara keseluruhan.
Di tengah potensi perlambatan tersebut, PIER mencatat mulai muncul sejumlah indikator positif. Salah satunya berasal dari sektor otomotif yang menunjukkan tren perbaikan penjualan setelah sempat tertekan sepanjang 2025 akibat pelemahan daya beli dan tingginya suku bunga kredit kendaraan.
Namun, tantangan utama dinilai masih berasal dari sisi fiskal pemerintah. Josua menegaskan pemerintah perlu menjaga ketahanan APBN di tengah kebutuhan belanja yang tetap besar pada 2026, termasuk untuk program prioritas dan subsidi energi.
“Pemerintah perlu melakukan rasionalisasi ataupun penghematan dari beberapa pos-pos anggaran karena untuk menavigasi agar fiskal kita bisa memiliki ketahanan, setidaknya sampai akhir tahun ini,” katanya.
PIER juga menilai stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi faktor penting untuk menjaga konsumsi domestik. Menurut Josua, kenaikan harga energi berpotensi menekan daya beli masyarakat dan memperbesar tekanan inflasi.
Dalam proyeksinya, PIER memperkirakan inflasi 2026 masih berada di bawah 3% selama harga BBM bersubsidi tetap dijaga pemerintah. Sementara itu, defisit APBN diperkirakan masih berada di bawah batas aman 3% terhadap PDB sebagaimana ketentuan Undang-Undang Keuangan Negara.
Meski begitu, Josua mengingatkan risiko twin deficit perlu diantisipasi sejak dini. Kondisi ini terjadi ketika defisit fiskal melebar bersamaan dengan defisit transaksi berjalan, yang dapat meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar keuangan domestik.
Sebelumnya, Indonesia pernah menghadapi tekanan twin deficit pada periode 2013 saat gejolak taper tantrum Amerika Serikat memicu arus modal keluar dari negara berkembang. Saat itu, rupiah sempat mengalami depresiasi tajam dan Bank Indonesia harus menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
PIER menilai tantangan serupa berpotensi muncul kembali di tengah ketidakpastian global, terutama terkait arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), volatilitas harga energi, dan perlambatan perdagangan dunia.
“Ini merupakan kombinasi dari seluruh faktor baik eksternal maupun domestik yang perlu kita sisir beberapa isunya ke depan agar tantangan tersebut bisa kita navigasi,” ujar Josua.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










