Sektor Pariwisata Bakal Jadi Penggerak Utama Pertumbuhan Ekonomi di 2026

AKURAT.CO Sektor pariwisata diprediksi menjadi salah satu motor pertumbuhan baru pada 2026, meskipun masih dihadapkan pada volatilitas kunjungan wisatawan.
Penurunan 4,8% pada Oktober 2025 dinilai menjadi pengingat bahwa sektor ini masih rentan terhadap kondisi global dan bencana domestik.
Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa secara kumulatif, kunjungan wisatawan tahun ini masih tumbuh 10%. Namun, fluktuasi bulanan menunjukkan perlunya penguatan strategi dan diversifikasi destinasi.
“Pariwisata perlu menjadi salah satu fokus pada 2026. Daya dorong dari sektor ini besar, terutama terhadap konsumsi, UMKM, dan lapangan kerja,” ujar Joshua secara daring, Kamis (11/12/2025).
Josua menambahkan, sektor pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta jasa modern juga diproyeksikan menjadi kontributor utama pertumbuhan tahun depan. Kombinasi industrialisasi dan digitalisasi dianggap mampu membentuk struktur ekonomi yang lebih kuat.
Baca Juga: Konsumsi RI Bakal Ngegas Sejak Awal 2026 Berkat Program MBG
Sedangkan di sisi manufaktur, lanjutnya, Purchasing Managers’ Index (PMI) kembali menguat pada November, menandakan ekspansi industri yang lebih stabil. Sementara itu, inflasi tetap terjaga, meski emas menjadi salah satu penyumbang terbesar selama 2025.
Joshua menilai kendala logistik akibat bencana di Sumatera menjadi risiko jangka pendek yang harus diantisipasi. Gangguan distribusi dari Sumatera Utara menuju wilayah selatan dinilai cukup mempengaruhi biaya pangan.
Sementara itu, pemerintah diminta memperkuat koordinasi antar lembaga untuk menjaga inflasi. “Tim pengendalian inflasi pusat dan daerah harus bekerja lebih intensif agar tekanan harga tidak mengganggu pemulihan pariwisata dan konsumsi,” katanya.
Pertumbuhan ekonomi 2026 diproyeksikan berada pada kisaran 5,1–5,2%. Joshua menilai angka tersebut dapat meningkat jika kebijakan pemerintah berjalan cepat dan risiko global mereda.
Aspek perdagangan internasional juga penting bagi pariwisata. Implementasi local currency transaction (LCT) dan perjanjian perdagangan regional diharapkan memperkuat permintaan dan menekan ketergantungan pada dolar.
Untuk mempercepat pemulihan pariwisata, pemerintah diminta memperbaiki infrastruktur transportasi, mendorong promosi destinasi baru, serta meningkatkan kapasitas SDM.
Dirinya menegaskan bahwa keberhasilan sektor pariwisata akan memberi efek berantai pada UMKM, industri kreatif, dan pasar tenaga kerja. “2026 bisa menjadi momentum penting bagi pariwisata Indonesia untuk bangkit lebih kuat,” tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








