Akurat Logo

Pengamat: Pelemahan Tak Hanya pada Rupiah, Tapi Hampir Semua Negara

Ratu Tiarasari | 12 Mei 2026, 22:35 WIB
Pengamat: Pelemahan Tak Hanya pada Rupiah, Tapi Hampir Semua Negara
Pengamat ekonomi Dr. Surya Vandiantara

AKURAT.CO Pelemahan nilai tukar mata uang domestik terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) tidak hanya terjadi di Indonesia.

Pengamat ekonomi Dr. Surya Vandiantara, melihat sebagian besar negara Asia turut mengalami tekanan nilai mata uang domestik.

Baca Juga: Rupiah Kian Tertekan, Purbaya: Itu Kewenangan Bank Sentral

Menurutnya, salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi tersebut adalah keberhasilan Amerika Serikat dalam memenangkan perang opini atau sentimen atas konflik yang terjadi dengan Iran.

"Konflik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran menyebabkan para investor dan pelaku bisnis memilih dolar AS sebagai instrumen investasi dan alat tukar dibandingkan mata uang negara lainnya. Tentunya fenomena ini mampu meningkatkan permintaan terhadap US$ secara signifikan. Tingginya tingkat permintaan terhadap US$ inilah yang kemudian menyebabkan nilai US$ melambung tinggi," katanya.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), pelemahan Rupiah bila dibanding dengan negara lain sebenarnya masih relatif lebih baik.

Data menunjukkan pelemahan Rupiah sekitar 3,65 persen sejak awal konflik AS-Iran.

Angka ini lebih rendah dibandingkan peso Filipina yang turun 6,58 persen dan baht Thailand 5,04 persen.

Rupee India melemah 4,32 persen dan peso Chile 4,24 persen. Sedangkan, Won Korea mencatat pelemahan 2,29 persen.

Surya melihat pelemahan nilai mata uang rupiah terhadap Dolar AS itu terjadi dikarenakan pengaruh faktor eksternal bukan karena faktor internal.

Menurutnya, hal itu dipengaruhi oleh para investor dan pelaku bisnis dalam negeri yang mengikuti tren dunia untuk menggunakan Dolar AS sebagai instrumen investasi dan alat tukar yang akhirnya menekan jumlah permintaan Rupiah dan meningkatkan permintaan Dolar AS.

"Di tengah pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang cenderung stabil dan positif, serta necara perdagangan terhadap Amerika Serikat yang tercatat surplus, semakin mempertegas bahwa pelemahan nilai mata uang rupiah bukanlah dikarenakan faktor internal, melainkan faktor eksternal," terangnya.

Baca Juga: Rupiah Menguat Dua Hari Beruntun di Tengah Pelemahan Dolar AS dan Harapan Deeskalasi Timur Tengah

Terkait tujuh langkah BI meredam pelemahan Rupiah, Surya menyebut hal itu sebagai langkah strategis untuk meningkatkan permintaan terhadap mata uang domestik.

Apabila permintaan terhadap Rupiah meningkat, maka Rupiah akan mampu bersaing dengan tingginya angka permintaan Dolar AS.

"Tujuh langkah BI merupakan kebijakan strategis jangka pendek yang dikeluarkan guna memperkuat nilai tukar Rupiah di tengah kedigdayaan Dolar AS. Namun, itu dibutuhkan komitmen dari para pelaku pasar, baik dari kalangan investor valuta asing maupun pelaku bisnis untuk selalu menggunakan Rupiah sebagai instrumen investasi dan alat tukar," kata pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Bengkulu ini.

Sebab, katanya, pelemahan Rupiah bila berlangsung terus menerus justru merugikan para investor dan pelaku bisnis itu sendiri.

Berbagai kebutuhan yang digunakan dari produk impor akan mengalami kenaikan yang cukup tinggi dikarenakan nilai tukar Dolar AS yang tidak mampu diredam.

"Bagi pelaku bisnis, setiap kebutuhan bahan baku maupun alat produksi yang diperoleh dari luar negeri juga akan mengalami kenaikan sejalan dengan kenaikan dollar AS.

Kenaikan ini tentunya akan menyebabkan barang hasil produksi semakin mahal sehingga tidak mampu diserap maksimal oleh pasar.

"Makanya perlu kesadaran dari berbagai kalangan untuk meredam depresiasi Rupiah," pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R