Rupiah Turun 71 Poin ke Level Terendah Sepanjang Masa Rp17.667

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Senin (18/5/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 71 poin ke level Rp17.667 per USD dari posisi sebelumnya Rp17.597 per USD.
Ini seiring penguatan indeks dolar AS akibat meningkatnya tensi geopolitik dan ekspektasi suku bunga tinggi Amerika Serikat.
Pelemahan rupiah hari ini merupakan yang terendah sepanjang masa. Tercatat, sebelumnya pada 16 Juni 1998 era Presiden B.J. Habibie, rupiah ambruk hingga ke level terendah sepanjang masa di level Rp15.200/USD. Namun, secara intraday rupiah sempat menyentuh level Rp16.800/USD.
Baca Juga: Harga Kurs Dollar AS Hari Ini 18 Mei 2026 Naik, Rupiah Melemah hingga Rp17.630!
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan dolar AS dipicu kekhawatiran pasar terhadap inflasi global yang kembali meningkat akibat lonjakan harga minyak dunia di tengah konflik Timur Tengah.
“Penguatan dolar AS terjadi karena meningkatnya risiko inflasi yang didorong oleh tingginya harga minyak, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama,” kata Ibrahim di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Ibrahim menjelaskan, kenaikan harga energi memperlambat proses disinflasi di Amerika Serikat dan membuat target inflasi 2% The Fed semakin sulit dicapai.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut membuat investor global kembali memburu aset safe haven berbasis dolar AS. Situasi diperparah dengan meningkatnya ketegangan geopolitik setelah upaya penghentian konflik AS-Israel dan Iran belum menunjukkan perkembangan signifikan.
Pasar juga merespons laporan serangan drone terhadap fasilitas strategis di Uni Emirat Arab (UEA) dan meningkatnya tensi keamanan di kawasan Teluk. Pejabat UEA menyatakan tengah menyelidiki sumber serangan terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah dan menegaskan memiliki hak untuk merespons serangan tersebut.
Di sisi lain, Arab Saudi dilaporkan mencegat tiga drone yang memasuki wilayah udaranya dari arah Irak. Pemerintah Saudi memperingatkan akan mengambil langkah operasional untuk menjaga kedaulatan dan keamanan negara.
Situasi global semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan akan membahas opsi militer terkait Iran bersama penasihat keamanan nasionalnya. Laporan Axios menyebut pembahasan tersebut dijadwalkan berlangsung pekan ini.
Tak hanya itu, pemerintahan Trump juga menghentikan pengecualian sanksi yang sebelumnya memungkinkan sejumlah negara, termasuk India, membeli minyak Rusia melalui jalur laut. Kebijakan tersebut diperkirakan memperketat pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga minyak lebih lanjut.
Dari dalam negeri, pasar turut menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait penggunaan dolar AS di daerah. Prabowo menyebut sebagian besar masyarakat desa tidak menggunakan dolar AS dalam aktivitas sehari-hari sehingga dampak gejolak global dinilai tidak terlalu langsung terasa.
“Pangan aman, energi aman, banyak negara panik, Indonesia masih oke,” ujar Prabowo dalam pernyataannya.
Meski demikian, pernyataan tersebut memicu respons di pasar keuangan karena dianggap muncul di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan meningkatnya sensitivitas investor terhadap komunikasi pemerintah.
Ibrahim menilai kondisi masyarakat desa saat ini sudah jauh lebih terhubung dengan sistem ekonomi dan teknologi digital dibanding beberapa tahun lalu. Menurutnya, aktivitas ekonomi masyarakat daerah juga mulai bersentuhan dengan transaksi berbasis valuta asing, terutama melalui perdagangan digital dan remitansi.
“Sekarang masyarakat desa juga sudah memahami transaksi digital dan perkembangan ekonomi global. Jadi persepsi bahwa masyarakat desa tidak mengenal dolar sudah berbeda dengan kondisi saat ini,” ujar Ibrahim.
Dirinya juga menilai komunikasi publik pemerintah perlu lebih terukur agar tidak memicu persepsi negatif di pasar keuangan. Menurutnya, koordinasi komunikasi ekonomi menjadi penting di tengah volatilitas global yang meningkat.
Secara historis, tekanan terhadap rupiah biasanya meningkat ketika kombinasi penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, dan konflik geopolitik terjadi bersamaan. Kondisi serupa pernah terjadi pada 2022 saat perang Rusia-Ukraina mendorong lonjakan harga energi dan memicu arus modal keluar dari negara berkembang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








