SRBI Naik, Modal Asing Berbalik Masuk Rp90 Triliun

AKURAT.CO Kenaikan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dalam dua bulan terakhir mulai menunjukkan dampak nyata terhadap pasar keuangan domestik.
Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing yang sempat keluar besar pada triwulan I 2026 kini berbalik masuk pada triwulan II 2026, seiring meningkatnya imbal hasil instrumen moneter dan obligasi pemerintah.
Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, kenaikan suku bunga SRBI berhasil menarik kembali minat investor asing sekaligus menopang stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah.
Baca Juga: BI Naikkan Suku Bunga ke 5,25%, Fokus Jaga Rupiah
“Itu berhasil mendorong portfolio inflow yang di triwulan I terjadi outflow yang besar dan kemudian kita kembalikan menjadi inflow dan mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Berdasarkan data BI, suku bunga SRBI tenor 6 bulan naik menjadi 6,21%, tenor 9 bulan sebesar 6,31%, dan tenor 12 bulan mencapai 6,45% per 13 Mei 2026.
Kenaikan yield tersebut membuat instrumen rupiah kembali kompetitif di mata investor global, terutama di tengah tren tingginya suku bunga global dan meningkatnya aversi risiko pasar.
Perubahan arah arus modal terlihat signifikan. Pada triwulan I 2026, BI mencatat net outflow sebesar USD0,8 miliar atau sekitar Rp13 triliun akibat tekanan global dan keluarnya dana asing dari pasar domestik.
Namun hingga 18 Mei 2026, posisi tersebut berbalik menjadi net inflow sebesar USD5,5 miliar atau sekitar Rp90 triliun.
Aliran dana asing tersebut terutama masuk ke instrumen SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN), seiring meningkatnya imbal hasil yang ditawarkan kedua instrumen tersebut.
BI juga mencatat posisi outstanding SRBI mencapai Rp921,88 triliun per 18 Mei 2026. Dari jumlah tersebut, kepemilikan investor nonresiden meningkat menjadi Rp221,59 triliun atau setara 24,04% dari total outstanding.
Kondisi ini menjadi sinyal bahwa instrumen moneter BI kembali menjadi pilihan investor asing untuk menempatkan dana jangka pendek di pasar domestik.
Arus masuk modal tersebut sekaligus membantu menjaga stabilitas rupiah di tengah tingginya permintaan valuta asing domestik.
Baca Juga: Perry: SRBI Jadi Penopang Arus Modal Asing ke Indonesia
Langkah BI memperkuat daya tarik SRBI terjadi bersamaan dengan keputusan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin dalam RDG Mei 2026, dari 4,75% menjadi 5,25%. Kenaikan ini menjadi penyesuaian pertama setelah BI mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% sejak September 2025.
Sebelumnya sepanjang 2025, BI telah memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali dengan total penurunan mencapai 125 basis poin guna menopang pertumbuhan ekonomi domestik.
Di sisi lain, tekanan global pada 2026 meningkat akibat konflik geopolitik Timur Tengah yang memicu volatilitas pasar keuangan dan penguatan dolar AS. Kondisi tersebut membuat banyak negara emerging market mengalami tekanan arus modal keluar dan pelemahan mata uang.
Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing melalui pasar Non Deliverable Forward (NDF) offshore, transaksi spot, dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Selain intervensi pasar, BI juga memperkuat kebijakan transaksi valas melalui penyesuaian threshold pembelian valas tanpa underlying, peningkatan threshold transaksi DNDF dan forward, serta perluasan transaksi swap sejak April 2026.
Bank sentral turut memperluas instrumen operasi moneter valas melalui penggunaan offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah dan memperluas implementasi Local Currency Transaction (LCT) untuk perdagangan dan investasi.
Dari sisi ketahanan eksternal, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 tercatat tetap tinggi sebesar USD146,2 miliar. Angka tersebut setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Posisi tersebut berada jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor, sehingga dinilai masih mampu menopang stabilitas sektor eksternal dan menjaga kepercayaan pasar terhadap ekonomi domestik.
BI meyakini kombinasi kenaikan suku bunga, penguatan instrumen moneter, serta intervensi stabilisasi akan membuat nilai tukar rupiah cenderung menguat pada Juli hingga Agustus 2026 seiring meredanya permintaan valas domestik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










