BI Sudah Agresif Naikkan Suku Bunga, Mengapa Rupiah Belum Kuat?

AKURAT.CO Rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Jumat (19/6/2026), meski Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuannya sebanyak tiga kali dalam waktu kurang dari satu bulan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor eksternal dan sentimen investor global masih menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang Garuda.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah berpotensi bergerak fluktuatif namun ditutup melemah dalam rentang Rp17.790 hingga Rp17.840 per USD pada perdagangan Jumat.
Baca Juga: Sinergi Erat BI-Pemerintah Bikin Rupiah Terus Menguat
Prediksi tersebut muncul setelah rupiah ditutup melemah 32 poin ke level Rp17.794 per USD pada Kamis (18/6/2026), dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.764 per USD.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan fluktuatif namun ditutup melemah pada kisaran Rp17.790 sampai Rp17.840 per dolar AS," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Dari sisi global, penguatan dolar AS masih menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Indeks dolar AS menguat setelah muncul optimisme terkait kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Kesepakatan tersebut mencakup memorandum 14 poin yang membuka periode negosiasi selama 60 hari, termasuk komitmen Iran untuk mengizinkan lalu lintas bebas hambatan melalui Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut selama ini menjadi salah satu titik penting distribusi energi dunia.
Meredanya kekhawatiran gangguan pasokan minyak global membuat risiko lonjakan harga energi berkurang. Kondisi ini menekan permintaan aset lindung nilai seperti emas sekaligus meningkatkan minat investor terhadap dolar AS.
Di saat yang sama, Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50%-3,75% dalam rapat kebijakan moneternya. Namun, bank sentral AS memberikan sinyal bahwa ruang pengetatan moneter masih terbuka hingga akhir tahun.
Proyeksi terbaru menunjukkan sembilan dari 19 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga pada 2026. Ketua Federal Reserve Kevin Warsh juga menegaskan komitmen bank sentral AS dalam menekan inflasi dan menjaga stabilitas harga.
Sementara dari dalam negeri, pasar keuangan Indonesia masih dibayangi sikap wait and see investor menjelang keputusan penting dari MSCI terkait status Indonesia dalam indeks emerging market.
Investor global juga menunggu kepastian mengenai kemungkinan pencabutan pembekuan penambahan konstituen saham Indonesia yang sebelumnya dilakukan MSCI karena isu struktur kepemilikan dan transparansi free float.
Baca Juga: Rupiah Menguat 0,76 Persen DIbanding Posisi Mei 2026, Perry: Didukung Respons Stabilisasi BI
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia justru mengambil langkah agresif untuk menjaga stabilitas rupiah. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18-19 Juni 2026, BI kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%.
Kenaikan ini terjadi hanya sepekan setelah BI mengejutkan pasar dengan menaikkan suku bunga menjadi 5,50% pada RDG mingguan 9 Juni 2026. Dengan demikian, total kenaikan BI Rate dalam waktu kurang dari satu bulan telah mencapai 75 basis poin.
Bank Indonesia menyatakan kebijakan tersebut merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah sekaligus menjaga inflasi tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5% plus minus 1%.
Fenomena ini menjadi perhatian pasar karena secara historis kenaikan suku bunga biasanya memberikan dukungan terhadap mata uang domestik melalui peningkatan daya tarik aset keuangan.
Namun saat ini, pengaruh penguatan dolar AS, ketidakpastian global, serta faktor aliran modal asing dinilai masih lebih dominan dibandingkan efek kenaikan suku bunga domestik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK










