Akurat Logo

Rupiah Naik Tipis ke Rp17.952 di Tengah Pelemahan Harga Minyak Global

Esha Tri Wahyuni | 25 Juni 2026, 19:07 WIB
Rupiah Naik Tipis ke Rp17.952 di Tengah Pelemahan Harga Minyak Global
Rupiah menguat tipis di tengah pelemahan harga minyak global

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis pada perdagangan Kamis (25/6/2026) di tengah pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS) dan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu penurunan tajam harga minyak dunia.

Di saat yang sama, pemerintah mulai menyoroti sektor pariwisata sebagai salah satu sumber devisa utama untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional ketika surplus neraca perdagangan terus menyusut.

Berdasarkan data pasar, rupiah ditutup menguat 9 poin ke level Rp17.943 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.952 per USD. Sepanjang perdagangan, mata uang Garuda bahkan sempat menguat hingga 30 poin sebelum akhirnya memangkas sebagian penguatannya menjelang penutupan pasar.

Baca Juga: Investor Cemas Nantikan Evaluasi MSCI, Rupiah Tersungkur ke Rp17.952

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan indeks dolar AS dipicu oleh membaiknya sentimen global setelah tercapainya kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik AS-Israel dengan Iran yang berlangsung sejak 28 Februari 2026.

"Kesepakatan tersebut membuat lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz kembali berjalan sehingga kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi mulai mereda," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Kamis (25/6/2026).

Menteri Energi AS, Chris Wright mengungkapkan, bahwa volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kini hampir kembali ke level sebelum konflik pecah. Dalam 24 jam terakhir, sedikitnya 20 juta barel minyak telah melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.

Meski demikian, pasar masih mencermati arah kebijakan Federal Reserve (The Fed). Bank sentral AS menunjukkan adanya perbedaan pandangan di internal dewan gubernur.

Sebanyak delapan dari 19 anggota memperkirakan suku bunga masih berpotensi naik hingga akhir 2026, sementara mayoritas lainnya memproyeksikan suku bunga tetap bertahan.

Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data penting AS yang akan dirilis, mulai dari indeks inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE), pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I-2026, hingga klaim pengangguran mingguan.

Dari dalam negeri, pemerintah menilai dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi Indonesia relatif terkendali. Sejak awal pecahnya konflik pada akhir Februari lalu, pemerintah telah menyiapkan berbagai simulasi risiko untuk periode lima hingga sepuluh bulan.

Ketergantungan impor minyak Indonesia dari kawasan Timur Tengah saat ini disebut hanya sekitar 20%. Pemerintah juga telah melakukan diversifikasi sumber pasokan energi melalui kerja sama dengan sejumlah negara Afrika seperti Nigeria dan Gabon, serta memperkuat pasokan dari AS dan Venezuela melalui skema Agreement on Reciprocal Tariff (ART).

Optimisme pemerintah terhadap daya tahan ekonomi nasional turut ditopang sejumlah indikator makroekonomi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat sebesar 5,61%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi negara-negara G20 maupun ekonomi global.

Selain itu, cadangan devisa Indonesia per akhir Mei 2026 berada di level USD144,9 miliar. Realisasi investasi pada kuartal I-2026 mencapai Rp498,8 triliun, sementara Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur masih berada di zona ekspansi dengan level 50.

Namun di balik sejumlah indikator positif tersebut, pemerintah menghadapi tantangan baru berupa tren penyusutan surplus neraca perdagangan. Meski Indonesia masih membukukan surplus selama 72 bulan berturut-turut, nilai surplus tersebut terus mengecil dalam beberapa bulan terakhir.

Kondisi itu membuat pemerintah mulai menggenjot sektor-sektor penghasil devisa nonkomoditas. Salah satu yang menjadi fokus adalah sektor pariwisata yang dinilai memiliki potensi besar untuk mendatangkan devisa dalam waktu relatif cepat.

Berbeda dengan periode sebelumnya ketika ketahanan eksternal Indonesia banyak ditopang oleh booming harga komoditas, pemerintah kini berupaya memperluas sumber devisa agar tidak terlalu bergantung pada ekspor bahan mentah.

Penguatan sektor pariwisata menjadi salah satu strategi yang dinilai dapat membantu menjaga stabilitas cadangan devisa sekaligus menopang nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.