Akurat Logo

Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.922

Esha Tri Wahyuni | 26 Juni 2026, 23:40 WIB
Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.922
Rupiah menguat atas dolar AS

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat tipis pada perdagangan Jumat (26/6/2026), meski tekanan eksternal terhadap pasar keuangan global masih belum mereda. 

Penguatan tersebut terjadi di tengah menguatnya indeks dolar Amerika Serikat (AS), meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah, serta inflasi AS yang kembali menunjukkan kenaikan.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah ditutup menguat 21 poin ke level Rp17.922 per USD dari penutupan sebelumnya Rp17.943 per USD. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat melemah hingga 55 poin sebelum akhirnya berbalik menguat pada sesi penutupan.

Baca Juga: Rupiah Naik Tipis ke Rp17.952 di Tengah Pelemahan Harga Minyak Global

"Untuk perdagangan Senin, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp17.920 hingga Rp17.960 per USD. Sementara dalam sepekan ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan berada di rentang Rp17.880 sampai Rp18.100 per USD," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (26/6/2026).

Tekanan terhadap rupiah masih berasal dari sejumlah sentimen global. Salah satunya adalah insiden keamanan di sekitar Selat Hormuz setelah sebuah kapal kargo dilaporkan terkena proyektil di dekat Oman. 

Dua pejabat Amerika Serikat yang dikutip Reuters menyebut kapal tersebut ditembak Iran saat mencoba melintasi kawasan tersebut. Di sisi lain, otoritas Iran menyatakan keamanan kapal yang berlayar di luar jalur resmi Selat Hormuz tidak dapat dijamin.

Peristiwa tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kelancaran distribusi energi dunia. Data pelayaran menunjukkan volume pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz memang meningkat pada pekan ini setelah sempat terganggu akibat konflik kawasan. 

Namun, lalu lintas kapal masih berada di bawah rata-rata normal sekitar 125 kapal per hari sebelum eskalasi konflik dimulai pada akhir Februari 2026. Kekhawatiran pasokan energi juga bertambah setelah gempa bumi yang terjadi di Venezuela memicu risiko terhadap produksi minyak negara tersebut.

Dari Amerika Serikat, tekanan juga datang dari inflasi yang kembali meningkat. Biro Analisis Ekonomi (BEA) melaporkan inflasi inti Personal Consumption Expenditures (Core PCE) naik menjadi 3,4% secara tahunan pada Mei 2026 dibandingkan 3,3% pada April. Sementara inflasi PCE utama meningkat menjadi 4,1% secara tahunan dari sebelumnya 3,8%, menjadi level tertinggi sejak 2023.

Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS masih akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang penurunan suku bunga tahun ini sedikit menurun setelah data inflasi dirilis, sehingga mendukung penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, sentimen pasar memperoleh dukungan setelah pemerintah melakukan penyesuaian anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pagu anggaran yang semula direncanakan sebesar Rp335 triliun dipangkas menjadi Rp268 triliun, kemudian kembali ditajamkan menjadi sekitar Rp228,38 triliun. 

Pemerintah juga masih mengkaji kemungkinan efisiensi tambahan hingga Rp50 triliun sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas fiskal di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Di saat yang sama, Bank Indonesia terus memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pasar Surat Berharga Negara (SBN). Langkah tersebut dilakukan untuk meredam volatilitas rupiah yang dalam beberapa pekan terakhir sempat mendekati level psikologis Rp18.000 per USD.

Ibrahim menilai apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut, Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk memperketat kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga acuan. 

Namun, menurutnya, yang lebih dibutuhkan pasar saat ini adalah kepastian arah kebijakan dan koordinasi erat antara kebijakan moneter dan fiskal agar ekspektasi pelaku pasar tetap terjaga.

Dirinya juga menilai komunikasi Bank Indonesia mengenai kecukupan cadangan devisa, konsistensi kebijakan stabilisasi, serta komitmen menjaga inflasi perlu terus diperkuat agar pelemahan rupiah tidak berkembang menjadi risiko terhadap stabilitas sistem keuangan nasional.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.