Akurat Logo

BPS: Ekspor Mei Turun, Hilirisasi Masih Topang Kinerja Perdagangan

Andi Syafriadi | 1 Juli 2026, 11:57 WIB
BPS: Ekspor Mei Turun, Hilirisasi Masih Topang Kinerja Perdagangan
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono (AKURAT.CO/Andoy)

AKURAT.CO Nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 mengalami kontraksi secara tahunan di tengah melemahnya permintaan terhadap sejumlah komoditas unggulan.

Meski demikian, kinerja ekspor sepanjang lima bulan pertama tahun ini masih menunjukkan pertumbuhan berkat kontribusi sektor industri pengolahan.

Mengutip hasil data Badan Pusat Statistik menunjukkan nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 mencapai USD23,20 miliar, turun 5,73% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: BPS Catat Pola Inflasi Berubah, Transportasi Jadi Kontributor Utama

Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan pelemahan terjadi pada ekspor migas maupun nonmigas.

"Ekspor migas tercatat sebesar USD760 juta, turun 31,76% secara tahunan. Sementara itu, ekspor nonmigas turun 4,50% menjadi USD22,45 miliar," ucapnya pada saat konferensi pers bersama media di kantor BPS, Rabu (1/7/2026).

Lebih lanjut Ateng menjelaskan bahwa penurunan tersebut dipicu melemahnya ekspor beberapa komoditas utama, seperti logam mulia dan perhiasan yang turun 59,35%, bijih logam, terak, dan abu yang merosot 99,25%, serta besi dan baja yang terkoreksi 14,68%.

Meskipun begitu, Ateng mengakui, pelemahan pada Mei belum mengubah tren kinerja ekspor sepanjang tahun berjalan.

"Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia selama Januari-Mei 2026 mencapai USD115,36 miliar, atau tumbuh 3,02% dibandingkan periode yang sama tahun lalu," paparnya.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang meningkat 3,89% menjadi USD110,19 miliar. Sebaliknya, ekspor migas masih terkontraksi 12,71% menjadi USD5,17 miliar.

Baca Juga: BPS: Kenaikan Harga Bensin Jadi Penyumbang Terbesar Inflasi Juni

BPS mencatat, industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekspor nonmigas dengan andil 5,38%. Komoditas yang menopang kenaikan tersebut antara lain hasil olahan nikel, minyak kelapa sawit, kimia dasar organik berbasis hasil pertanian, kimia dasar anorganik lainnya, serta semi aluminium.

"Proses hilirisasi industri masih menjadi salah satu penopang utama ekspor Indonesia di tengah pelemahan sejumlah komoditas primer," ucapnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.