Akurat Logo

Tak Lagi Dipicu Pangan, Inflasi Juni 2026 Didorong Biaya Transportasi

Esha Tri Wahyuni | 1 Juli 2026, 22:17 WIB
Tak Lagi Dipicu Pangan, Inflasi Juni 2026 Didorong Biaya Transportasi
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono

AKURAT.CO Pola inflasi Indonesia kembali berubah pada Juni 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 0,44% secara bulanan (month to month/mtm), dengan kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar, menggeser dominasi kelompok pangan yang selama ini lebih sering menjadi pemicu kenaikan harga.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, kelompok transportasi mengalami inflasi 2,29% (mtm) dengan kontribusi 0,28 poin persentase terhadap inflasi nasional Juni 2026. Dari total inflasi bulanan sebesar 0,44%, lebih dari separuhnya berasal dari sektor transportasi.

"Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok transportasi antara lain bensin, tarif angkutan udara, dan pelumas atau oli mesin. Bensin memberikan andil inflasi tertinggi sebesar 0,21 persen. Selanjutnya tarif angkutan udara memberikan andil 0,05 persen, sedangkan pelumas atau oli mesin menyumbang 0,01 persen," kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Baca Juga: BPS: Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Dorong Inflasi Transportasi 2,29 Persen di Juni 2026

Data BPS menunjukkan bensin menjadi komoditas dengan kontribusi inflasi terbesar secara nasional, jauh melampaui sebagian besar komoditas pangan. Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 0,20% (mtm) dengan andil 0,06%.

Di kelompok pangan, kenaikan harga terutama berasal dari bawang merah yang menyumbang inflasi 0,04%, disusul bawang putih sebesar 0,03%, beras sebesar 0,02 persen, serta wortel, ikan segar, minyak goreng, cabai merah, daging sapi, dan cabai rawit yang masing-masing memberikan andil 0,01%.

Sebaliknya, sejumlah komoditas pangan justru menjadi penahan laju inflasi. BPS mencatat daging ayam ras mengalami deflasi dengan andil 0,06%, diikuti telur ayam ras sebesar 0,02%, serta sawi hijau dan ketimun yang masing-masing menyumbang deflasi 0,01%.

Secara keseluruhan, IHK Juni 2026 naik menjadi 111,89 dari 111,40 pada Mei 2026. Berdasarkan komponen pembentuk inflasi, komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 1,41% dan andil 0,27%. 

Selanjutnya, komponen inti mencatat inflasi 0,23% dengan andil 0,15%, sedangkan komponen bergejolak (volatile food) mengalami inflasi 0,14% dengan andil 0,02%.

Data tersebut menunjukkan adanya perubahan pola tekanan harga dibandingkan periode-periode ketika inflasi lebih banyak dipengaruhi gejolak pangan. 

Pada Juni 2026, biaya mobilitas masyarakat justru menjadi faktor dominan, seiring kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, dan pelumas kendaraan.

BPS juga mencatat seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi bulanan pada Juni 2026. Inflasi tertinggi terjadi di Maluku Utara sebesar 2,45%, sedangkan yang terendah berada di Sumatera Utara dan Kalimantan Tengah yang masing-masing mencatat inflasi 0,23%.

Secara tahunan, inflasi Indonesia mencapai 3,34% (year on year/yoy), meningkat dibandingkan 1,87% pada Juni tahun sebelumnya.

Inflasi tahunan masih didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 1,36% dan tingkat inflasi 4,67%. Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi sebesar 10,10% dengan kontribusi 0,69%.

Berdasarkan komponen, inflasi tahunan berasal dari komponen inti dengan andil 1,77%, diikuti komponen bergejolak sebesar 0,91%, serta komponen harga diatur pemerintah sebesar 0,66%.

Di tingkat daerah, Papua Pegunungan menjadi provinsi dengan inflasi tahunan tertinggi sebesar 7,84%, sedangkan Sulawesi Barat mencatat inflasi tahunan terendah sebesar 2,29%.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.