Akurat Logo

Rupiah Melemah ke Rp17.995 Karena Ini

Esha Tri Wahyuni | 2 Juli 2026, 23:26 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17.995 Karena Ini
Rupiah melemah nyaris tembus Rp18.000

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan nyaris menembus level psikologis Rp18.000 per USD. Pada penutupan perdagangan Kamis (2/7/2026), rupiah melemah 43 poin menjadi Rp17.995 per USD, dari posisi sebelumnya Rp17.950 per USD. 

Selain didorong penguatan indeks dolar AS, pelemahan kali ini juga diperberat oleh memburuknya sejumlah indikator ekonomi domestik.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan dolar AS masih didorong oleh meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap perkembangan ekonomi global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.906 Dipicu Ini

"Dolar AS menguat setelah pasar mencermati perkembangan negosiasi tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran terkait Selat Hormuz, serta menunggu rilis data ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang menjadi acuan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Kamis (2/7/2026).

Secara eksternal, perhatian investor tertuju pada perundingan antara AS dan Iran di Doha, Qatar, yang membahas keamanan pelayaran di Selat Hormuz serta pencairan dana Iran. 

Meski Qatar menyebut pembicaraan menunjukkan kemajuan positif, ketegangan geopolitik masih membayangi setelah kedua negara saling melancarkan serangan pada akhir pekan lalu. 

Selat Hormuz merupakan jalur distribusi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia sehingga setiap eskalasi berpotensi memengaruhi pasar energi global.

Dari sisi Amerika Serikat, pasar juga mencermati perlambatan aktivitas ekonomi. Data ADP Employment Change menunjukkan penambahan tenaga kerja sektor swasta hanya 98.000 pada Juni, lebih rendah dari ekspektasi 113.000 maupun capaian Mei sebesar 122.000. Sementara itu, ISM Manufacturing PMI turun menjadi 53,3 dari 54,0 pada bulan sebelumnya.

Meski demikian, pelaku pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September mencapai sekitar 67%, berdasarkan CME FedWatch Tool. 

Pasar kini menunggu rilis data Nonfarm Payrolls dengan proyeksi penambahan tenaga kerja sebesar 110.000 dan tingkat pengangguran tetap di 4,3%. Di tengah tekanan global tersebut, kondisi domestik dinilai menjadi faktor yang semakin memperberat pergerakan rupiah.

Kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia menghadapi tantangan setelah muncul berbagai sentimen negatif, mulai dari kekhawatiran terhadap kondisi fiskal menyusul defisit neraca perdagangan Mei, sejumlah kasus korupsi berskala besar, hingga penundaan pengumuman terkait pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI.

Tekanan juga datang dari sektor riil. Data S&P Global menunjukkan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun menjadi 46,9 pada Juni 2026. Angka tersebut berada jauh di bawah batas ekspansi 50 dan menjadi kontraksi terdalam dalam satu tahun.

Penurunan PMI mencerminkan melemahnya aktivitas manufaktur akibat turunnya permintaan terhadap produk industri Indonesia. Pesanan baru kembali menyusut untuk pertama kalinya dalam tiga bulan dengan laju tercepat dalam setahun, sehingga mendorong penurunan volume produksi terbesar sejak April 2025.

Di sisi lain, Fitch Ratings memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu membiayai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan, sedikit di bawah median negara berperingkat BBB yang mencapai 5 bulan. 

Menurut lembaga pemeringkat tersebut, penurunan kecukupan cadangan devisa dipengaruhi memburuknya terms of trade akibat kenaikan harga energi global, intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah, serta pembayaran utang luar negeri.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.