Ditekan dari Dua Arah, Rupiah Berisiko Melemah ke Rp18.000

AKURAT.CO Pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa (21/7/2026).
Pelaku pasar kini mewaspadai peluang rupiah kembali mendekati bahkan menguji level psikologis Rp18.000 per USD, seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan masih lemahnya fundamental ekonomi domestik.
Pada perdagangan Senin (20/7/2026), berdasarkan data Bloomberg, rupiah spot ditutup melemah 0,15% ke posisi Rp17.948 per USD, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.921 per USD.
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.921 Meski Konflik AS-Iran Picu Penguatan Dolar
Sementara itu, kurs JISDOR Bank Indonesia juga terkoreksi 0,18% menjadi Rp17.976 per USD dari Rp17.944 per USD pada akhir pekan lalu.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memperkirakan, tekanan terhadap rupiah masih berlanjut pada perdagangan hari ini.
Menurutnya, kombinasi sentimen eksternal dan perlambatan ekonomi domestik menjadi faktor utama yang menahan penguatan mata uang Garuda.
"Untuk perdagangan Selasa, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah dalam kisaran Rp17.940 hingga Rp18.000 per USD," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Senin (20/7/2026).
Menurut Ibrahim, dari sisi global, perhatian investor masih tertuju pada meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Ketegangan kembali memanas setelah kedua negara dilaporkan saling melancarkan serangan sepanjang akhir pekan, sementara konflik juga meluas ke kawasan Teluk dan tetap berpusat di sekitar Selat Hormuz.
Ibrahim mengatakan, gangguan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz berpotensi mengganggu distribusi minyak dunia dan memicu kenaikan harga energi global. Kondisi tersebut dikhawatirkan kembali meningkatkan tekanan inflasi di Amerika Serikat.
"Harga minyak yang lebih tinggi telah memperbarui kekhawatiran bahwa inflasi dapat tetap berada di atas target Federal Reserve. Kondisi ini berpotensi membuat bank sentral AS mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama, yang pada akhirnya memperkuat dolar AS," ujar Ibrahim.
Selain faktor global, Ibrahim menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi kondisi ekonomi domestik yang belum sepenuhnya solid.
Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 hanya berada di kisaran 4,9% secara tahunan atau masih berada di bawah ambang 5%.
Meski realisasi investasi nasional mencapai Rp511,8 triliun atau tumbuh 7,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, pertumbuhan tersebut dinilai belum cukup kuat menopang ekonomi karena konsumsi rumah tangga masih melambat dan investasi domestik justru mengalami penurunan.
"Di tengah derasnya arus investasi asing, melemahnya investasi domestik serta lesunya konsumsi rumah tangga diperkirakan akan menahan pertumbuhan ekonomi nasional di bawah level 5 persen," jelasnya.
Ibrahim menyoroti kualitas investasi yang mulai menunjukkan ketimpangan.
Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat tumbuh 27,5% secara tahunan, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) terkontraksi 7,8%. Penurunan PMDN tersebut menjadi kontraksi pertama sejak kuartal I-2021.
Menurutnya, kondisi itu menunjukkan investor asing masih optimistis terhadap prospek jangka panjang Indonesia, terutama di sektor hilirisasi dan industri berbasis sumber daya alam.
Sebaliknya, pelaku usaha domestik masih memilih menahan ekspansi akibat lemahnya permintaan, tingginya biaya pendanaan, serta ketidakpastian ekonomi.
Karena itu, Ibrahim menilai pemerintah perlu memperkuat iklim investasi domestik melalui penyederhanaan regulasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta mendorong investasi di sektor padat karya agar mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus menopang daya beli masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







